Nuzulul
Qur’an
Al
Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qodr. kemudian
diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah
beliau diutus di Mekkah dan Madinah. Banyak para ulama yang mengatakan bahwa pendapat
inilah yang paling benar berdasarkan suatu riwayat dengan sanad yang shahih
dari Ibnu Abbas yang telah dikeluarkan oleh Hakim dan Baihaqi serta yang
lainnya, dia mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada suatu malam ke langit
dunia yaitu Lailatul Qodr.
Ada beberapa prinsip dasar untuk
memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan.
(Persoalan ini sangat penting, terutama pada masa-masa sekarang ini, dimana
perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputi seluruh aspek
kehidupan). Penting bagi kita untuk mengetahui sejarah turunnya Al Qur`an, agar
menambah keteguhan iman kita kepada kitab Allah SWT dan tetap pada ajaran
Islam. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan mengulangi
sejarah seperti masa lalu ketika terjadinya pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa
awal Islam akan terjadi lagi.berikut adalah penjabaran dari Nuzulul Qur’an;
A.
Pengertian
Nuzulul Qur’an
Nuzulul
Qur’an secara etimologis berasal dari dua kata, yaitu Nuzul dan al quran. Nuzul
sendiri secara bahasa dari bahasa berasal dari, nazala – yanzilu –
nuzulan, yang berarti turun. dapat di artikan turunya al-Qur’an. Nuzulul
berasal dari kata nazala, di dalam bahasa arab berarti الهَبُوْ طُ مِنْ عُلُوً اِ لَى سَقْلٍ yakni, “meluncur dari tempat yang tinggi
ketempat yang rendah.” Hal tersebut menurut peendapat Imam Al-Fairuz Zabadi
dalam kamusnya Hulul Fil Makan[1],
yang contohnya terdapat pada firman Allah dalam Qur’an surat Al-Mu’minun, ayat
29 yang berbunyi :
@è%ur Éb>§ ÓÍ_ø9ÌRr& Zwu\ãB %Z.u$t7B |MRr&ur çöyz tû,Î!Í\ßJø9$# ÇËÒÈ
“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada
tempat yang 'diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”
Sedangkan
Menurut para ahli yaitu salah satunya menurut Imam Ar-Raghib Al-Asfihani dalam
kitabnya Al-Mufradaat, kata nuzulul itu mempunyai arti: al-inhidar
min ‘uluwwin ila safalin (meluncur dari atas ke bawah).[2]
Contohnya, antara lain firman Allah dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 22 yang
berbunyi :
tAtRr&ur... z`ÏB
Ïä!$yJ¡¡9$#
[ä!$tB
ÇËËÈ
“dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit.”
Dan
menurut para ulama mengatakan, kata nuzul itu berarti turun secara beraangsur-angsur
sedikit demi sedikit. Contohnya, seperti yang ada pada Qur’an surat Ali Imran
ayat 7 :
uqèd üÏ%©!$# tAtRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»t#uä ìM»yJs3øtC £`èd Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur ×M»ygÎ7»t±tFãB ( ÇÐÈ
“dialah
yang menurunkan Al-Qur’an kepada kamu, diantara isinya ada ayat-ayat yang
muhkamat[3].
Itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat.[4]”
Menurut
Jumhur ulama arti nuzul dalam konteksnya dengan Alquran. Nuzul dalam kalimat
Nuzulul Qur’an itu harus diartikan dengan makna majazi, atau arti pinjaman atau
tidak asli. Sebab, lafal Al-Qur’an adalah kalam atau firman allah yang tidak
relevan jika dikatakan meluncur dari atas atau turun. Hal ini dikarenakan
Allah yaitu Al-Idhhar
(menampakan/menjelaskan) atau Al-I’lam
(memberitahukan/ menerangkan) atau pun Al-Ifham (memahamkan/ menerangkan).[5]
Dan
arti Al-Qur’an itu sendiri adalah kalam Allah yang diturunkan oleh-Nya melalui
perantara malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah Muhammad bin Abdullah dengan
lafazh yang berbahasa Arab dan makna-maknanya yang benar, untuk menjadi hujjah
bagi Rasul atas pengakuanya sebagai Rasulullah, menjadi undang-undang bagi
manusia yang mengikuti petunjukanya, dan menjadi qurban di mana mereka
beribadah dengan membacanya.
B.
Waktu
Turunya Alqur’an dan Periodesasinya
1)
Waktu turunnya
Alqur’an
Pemulaan
turunnya Alqur’an adalah pada malam Qadar, tanggal 17 Ramadan tahun ke 40 dari
kelahiran Nabi Muhammad SAW, bertetapan tanggal 6 Agustus 601 M, sewaktu beliau
sedang berkhilwat (meditasi) di dalam Goa Hira atas Jabal Nur, ayat yang
pertama turun ialah QS. Al-Alaq ayat 1-5 :
ù&tø%$#
ÉOó$$Î/
y7În/u
Ï%©!$#
t,n=y{
ÇÊÈ t,n=y{
z`»|¡SM}$#
ô`ÏB
@,n=tã
ÇËÈ ù&tø%$#
y7/uur
ãPtø.F{$#
ÇÌÈ Ï%©!$#
zO¯=tæ
ÉOn=s)ø9$$Î/
ÇÍÈ zO¯=tæ
z`»|¡SM}$#
$tB
óOs9
÷Ls>÷èt
ÇÎÈ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam[6].
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Al-Qur’an selesai diturunkan
menjelang kewafatan Nabi pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi
SAW atau tepatnya pada tahun 10 H yang bertepatan dengan 27 Oktober 632 M.[7] Dan
menurut Jumhur ulama masa turunya alqur’an dari permulaan hingga akhirnya itu
adalah selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dan ayat yang terakhir ialah, QS Al
Maidah ayat 3 :
4 tPöquø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYÏ àMôJoÿøCr&ur öNä3øn=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMÅÊuur ãNä3s9 zN»n=óM}$# $YYÏ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# Îû >p|ÁuKøxC uöxî 7#ÏR$yftGãB 5OøO\b} ¨bÎ*sù ©!$# Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÈ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu. Maka barang siapa terpaksa[8]
karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.”
2)
Periodesasi
Turunya Al-Qur’an
Masa
turunnya Alquran selama 22 tahun itu terbagi menjadi dua periode, yaitu sebagai
berikut :
a. Periode
pertama adalah periode Mekkah. Yaitu, dimana Nabi SAW masih tinggal di Mekkah,
yang menurut para ulama ahli tahkiq (penelitian) pada periode ini kurang lebih
19 / 30 dari seluruh isi al qur’an. Yang terdiri dari 90 surat yang mencakup
4.773 ayat (menurut mushaf Utsman).
Surat
yang turun pada periode pertama ini, berdasarkan orientasinya kepada teori
geografis di namakan surah atau ayat Makkiyah.
b. Periode
kedua adalah periode Madinah. Yaitu, dimana Nabi SAW sudah berhijrah ke Madinah.
Ulama ahli teori Geografis di namakan sebagai ayat atau surat Madiniyah yang
mempunyai spesifikasi sendiri. Dan telah terhitung sejak sejak awal Rabi’ul wal
tahun 54 atau tahun Fiil sampai dengan tanggal 9 dzulhijjah tahun 10 H, yang
bertepatan pada tanggal 27 Oktober 632 M. Selama periode kedua ini, sekitar 11
/ 30 dari semua isi alqur’an.
C.
Tahap-Tahap
Turunya Alqur’an
Yang dimaksud dengan “tahap-tahap
turunnya Al-Qur’an” yaitu tertib dari fase-fase disampaikan kitab suci
Al-Qur’an, mulai dari sisi Allah SWT hingga langsung kepada Nabi Muhammad SAW.
Kitab suci Al-Qur’an itu berbeda dengan kitab-kitab suci sebelumnya. Kitab suci
Al-Qur’an ini kebanyakan diturunkan secara berangsur-angsur, sehingga
benar-benar menunjukkan kemukjizatannya, penyampaiannya juga sangat luar biasa,
yang tidak dimiliki kitab-kitab sebelumnya.[9]
Allah menurunkan
Al-Qur’an kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW melalui “Amin al-Wahyi” (Jibril
a.s). sementara itu, para ulama berbeda pendapat mengenai tahap-tahap turunnya
wahyu tersebut sebelum disampaikan kepada Rasul pilihan-Nya.
Tahap-tahap
diturunkannya Al-Qur’an itu ada tiga fase atau tahapan, yang nantinya akan
dijelaskan dengan dalil-dalil dan cara turunnya:
1. Tahap
pertama (At-Tanazzulul Awwalu)
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah ke
Lauh al Mahfudh secara sekaligus, dalam arti bahwa Allah menetapkan Al-Qur’an,
sebagai halnya Allah menetapkan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, tetapi
kapan dan bagaimana caranya tidak seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah,[10]
sesuai dengan firman-Nya:
Bahkan yang didustakan mereka itu,
ialah Al-Qur’an yang mulia. yang (tersimpan) di Lauh al Mahfudh Q.S. Al-Buruj:
21-22:
ö@t/ uqèd ×b#uäöè% ÓÅg¤C ÇËÊÈ Îû 8yöqs9 ¤âqàÿøt¤C ÇËËÈ
“bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al
Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.”
Mengenai bagaimana turunnya
Al-Qur’an ke Lauh al Mahfudh dapat disistematiskan secara sekaligus ke seluruh
AL-Qur’an. Hal ini didasarkan atas dhahirnya lafal nash ayat 21-22 surah
Al-Buruj itu tidak menunjukkan arti berangsur-angsur seluruh isi Al-Qur’an.
Hikmah dari tanazul tahap pertama
ini adalah seperti hikmah dari eksistensi Lauh al Mahfudh itu sendiri dan
fungsinya sebagaitempat catatan umum (arsip) dari segala hal yang ditentukan
dan diputuskan Allah SWT dari segala makhluk, alam dan semua kejadian.
2. Tahap
kedua (At-Tanazzalu Ats-Tsani)
Al-Qur,an
diturunkan dari Lauh al Mahfudh ke Bait al-Izzah yang berada di langit dunia.
Setelah berada di Lauh al Mahfudh, Al-Qur’an turun ke Baitul al-Izzah di langit
dunia atau langit terdekat dengan bumi.[11]
Banyak dalil yang menerangkan
turunnya Al-Qur’an pada tahap kedua ini, baik dari ayat Al-Qur’an maupun Hadits
Rasulullah, diantaranya sebagai berikut :
ãöky tb$ÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4
“Bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Q.S. Al-Baqarah : 185)
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû 7's#øs9 >px.t»t6B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ÍÉZãB ÇÌÈ
“Sesungguhnya
Kami menurunkan Al-Qur’an pada suatu malam yang diberkati, dan sesungguhnya
kamilah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-Dukhan : 3)
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ
“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur’an pada
malam kemuliaan.” (Q.S. Al-Qodr : 1)
Semua dalil-dalil ayat di atas
menunjukkan turunnya Al-Qur’an tahap kedua ini dan cara turunnya, yaitu secara
sekaligus turun seluruh isi Al-Qur’an dari Lauh al Mahfudh ke Baitul Izzah di
langit dunia.
Menurut Imam
As Suyuthi, semua hadits tersebut mauquf, yakni hanya sampai kepada sahabat
Ibnu Abbas r.a. tetapi hadits-hadits tersebut telah diberi hokum sebagai hadits
marfu’ yang sampai kepada Rasulullah SAW. Sebab, seperti yang telah disepakati
para ahli Mushthalal Hadits, bahwa riwayat sahabat yang tidak dalam bidang
pemikiran dan tidak diambil dari cerita Israiliat, adalah bisa diberi hokum
marfu’ dan dapat dijadikan sebagai hujjah atau argumentasi.
Namun, karena masalah turunnya
Al-Qur’an dari Lauh al Mahfudh ke Baitul Izzah itu termasuk hal ghaib, yang
tidak bisa diketahui kecuali berdasarkan dalil sam’i atau keterangan dari
Rasulullah atau para sahabat, maka pendapat yang berdasarkan dalil-dalil itulah
yang lebih meyakinkan.
3. Tahap
Ketiga (At-Tanazzulu Ats-Tsaalistu)
Al-Qur’an turun dari Baitul Izzah
dilangit dunia langsung kepada Rasulullah, artinya, setelah wahyu kitab
Al-Qur’an pertama kali ditempatkan di Lauh al Mahfudh, lalu keduanya diturunkan
ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian ketiganya disampaikan langsung ke
Rasulullah, baik melalui perantara malaikat jibril, ataupun secara langsung
kedalam hati sanubari Rasulullah, maupun dari balik tabir.[12]
Dalil-dalil ayat Al-Qur’an
diantaranya :
ôs)s9ur !$uZø9tRr& y7øs9Î) ¤M»t#uä ;M»oYÉit/ ( $tBur ãàÿõ3t !$ygÎ/ wÎ) tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÒÒÈ
“dan
sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas.” (Q.S.
Al-Baqarah : 99)
tAttR ÏmÎ/ ßyr9$# ßûüÏBF{$# ÇÊÒÌÈ 4n?tã y7Î7ù=s% tbqä3tGÏ9 z`ÏB tûïÍÉZßJø9$# ÇÊÒÍÈ
“Ia (Al-Qur’an)
itu dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) kedalam hatimu (Muhammad) agar
kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberiperingatan.” (Q.S.
Asy-Syu’ara : 193-194)
$ZR#uäöè%ur çm»oYø%tsù ¼çnr&tø)tGÏ9 n?tã Ĩ$¨Z9$# 4n?tã ;]õ3ãB çm»oYø9¨tRur WxÍ\s? ÇÊÉÏÈ
“Dan
Al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur, agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi
bagian.” (Q.S. Al-Isra’ :106)
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. wöqs9 tAÌhçR Ïmøn=tã ãb#uäöà)ø9$# \'s#÷Häd ZoyÏnºur 4 y7Ï9ºx2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ/ x8y#xsèù ( çm»oYù=¨?uur WxÏ?ös? ÇÌËÈ
“Berkatalah orang-orang kafir: mengapa Al-Qur’an itu
tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja. Demikianlah supaya kami perbuat
hatimu dengannya dan kami (menurunkannya) dan membacakannya kelompok demi
kelompok” (Q.S. Al-Furqan : 32)
Hadits riwayat Hakim dari Sa’id bin
jubair dari ibnu Abbas r.a. dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda : “Al-Qur’an itu dipisahkan dari perbuatannya
lalu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, kemudian mulailah Malaikat
Jibril menurunkannya kepada Rasulullah SAW.” (H.R. Hakim dari Ibnu Jubair dari
Ibnu Abbas r.a.).[13]
Hadits riwayat An-Nasai, Hakim, dan
Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a., beliau berkata : “Al-Qur’an itu diturunkan secara sekaligus ke
langit dunia pada malam Qadar, kemudian setelah itu diturunkan (kepada
Rasulullah) sedikit demi sediki selama duapuluh tahun.” (H.R. An-Nasai dari
Ibnu Abbas).
Dari dalil
ayat dan hadits diatas, dapat diketahui bahwa cara turunnya Al-Qur’an pada
tahapan ini adalah secara langsung kepada Rasulullah dengan cara
berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, dan kadang-kadang lewat perantara
Malaikat Jibril a.s. baru di sampaikan kepada Rasulullah, dengan cara berangsur-angsur
selama kurang lebih duapuluh tahun.
D.
Hikmah
Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap
Al-Qur’an tidak diturunkan kepada
Rasulullah SAW. sekaligus satu kitab. Tetapi secara berangsur-angsur,
surat-persurat dan ayat-perayat. sebagaimana yang kita ketahui segala sesuatu
yang Allah kehendaki itu mengandung hikmah dan memiliki tujuan. Nah begitu juga
dengan proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap.[14]
Diantara hikmah atau tujuannya adalah sebagai berikut :
1) Untuk
menguatkan hati Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman dalam surat al-furqon ayat 32 :
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. wöqs9 tAÌhçR Ïmøn=tã ãb#uäöà)ø9$# \'s#÷Häd ZoyÏnºur 4 y7Ï9ºx2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ/ x8y#xsèù ( çm»oYù=¨?uur WxÏ?ös? ÇÌËÈ
“Berkatalah orang-orang yang kafir : “Mengapa Al-Qur’an
itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah[15]
supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur
dan benar)”.
Ayat tadi menerangkan bahwa Allah
memang sengaja menurunkan al-Qur’an secara berangsur-angsur. Tidak turun
langsung berbentuk satu kitab dengan tujuan untuk meneguhkan hati Nabi Saw.
Sebab dengan turunnya wahyu secara bertahap menurut peristiwa, kondisi, dan
situasi yang mengiringinya, tentu hal itu dapat menyakinkan penghuni langit dan
dunia tentang telah diturunkannya kitab allah yang disampaikan oleh rasulullah.[16]
Dengan begitu turunnya malaikat kepada beliau juga lebih sering, yang tentunya
akan membawa dampak psikologis kepada beliau; terbaharui semangatnya dalam
mengemban risalah dari sisi Allah. Beliau tentunya juga sangat bergembira
dengan kegembiraan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
2) Untuk
menantang orang-orang kafir yang mengingkari al-Qur’an
Allah menantang orang-orang kafir
untuk membuat satu surat saja yang sebanding dengannya. Dan ternyata mereka
tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti al-Qur’an, apalagi membuat
langsung satu kitab.[17]
3) Supaya mudah
dihafal dan dipahami
Dengan turunnya al-Qur’an secara
berangsur-angsur, sangatlah mudah bagi manusia untuk menghafal serta memahami
maknanya. Lebih-lebih bagi orang-orang yang buta huruf seperti orang-orang arab
pada saat itu; al-Qur’an turun secara berangsur-angsur tentu sangat menolong
mereka dalam menghafal serta memahami ayat-ayatnya. Memang, ayat-ayat al-Qur’an
begitu turun oleh para sahabat langsung dihafalkan dengan baik, dipahami
maknanya, lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Itulah
sebabnya Umar bin Khattab pernah berkata: “Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat-lima
ayat. Karena Jibril biasa turun membawa Qur’an kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa
Sallam lima ayat-lima ayat”. (Hadist Riwayat Baihaqi)
4) Supaya
orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur’an dan giat mengamalkannya
Kaum
muslimin waktu itu memang senantiasa menginginkan serta merindukan turunnya
ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi pada saat ada peristiwa yang sangat menuntut
penyelesaian wahyu; seperti ayat-ayat mengenai kabar bohong yang disebarkan
oleh kaum munafik untuk memfitnah ummul mukminin Aisyah radiyallahu’anha, dan
ayat-ayat tentang li’an.[18]
5) Mengiringi
kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum.
Al-Qur’an turun secara
berangsur-angsur,yakni dimulai dari masalah-masalah yang sangat penting
kemudian menyusul masalah-masalah yang penting. Nah, karena masalah yang sangat
pokok dalam Islam adalah masalah Iman, maka pertama kali yang diprioritaskan
oleh Al-Qur’an ialah tentang keimanan kepada Allah, malaikat, iman kepada
kitab-kitabnya, para rasulnya, iman kepada hari akhir, kebangkitan dari kubur,
surga dan neraka.
Setelah akidah Islamiyah itu tumbuh
dan mengakar di hati, baru Allah menurunkan ayat-ayat yang memerintah berakhlak
yang baik dan mencegah perbuatan keji dan mungkar untuk membasmi kejahatan
serta kerusakan sampai ke akarnya. Juga ayat-ayat yang menerangkan halal haram
pada makanan, minuman, harta benda, kehormatan dan hukum syari’ah lainnya.[19]
Begitulah al-Qur’an diturunkan
sesuai dengan kejadian-kejadian yang mengiringi perjalanan jihad panjang kaum
muslimin dalam memperjuangkan agama Allah di muka bumi. Dan ayat-ayat itu tak
henti-henti memotivasi mereka dalam perjuangan ini.
E.
Dalil dan
Bukti Al-Qur’an Turun secara Berangsur
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa
Al-qur’an diturunkan oleh Allah dari lauh mahfudz kelangit dunia pada malam
qadr (Laila al-qadr) secara sekaligus. Kemudian diturunkan secara
berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat jibril dalam tempo
23 tahun. Ayat-ayat Al-qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan
kejadian-kejadian serta kebutuhan Rasulullah SAW. Kejadian ini merupakan
peristiwa besar yang dialami beliau selama hidup. Yang telah dijelaskan dalam
Q.S al-isra’/17 : 106 yang artinya :
$ZR#uäöè%ur
çm»oYø%tsù
¼çnr&tø)tGÏ9
n?tã
Ĩ$¨Z9$#
4n?tã
;]õ3ãB
çm»oYø9¨tRur
WxÍ\s?
ÇÊÉÏÈ
“Dan Al Quran itu telah Kami
turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada
manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
Pada ayat diatas, termasuk yang
digunakan adalah tanzil dan bukan inzal. Hal ini menunjukkan bahwa Al-qur’an
diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur. Berbeda dengan kitab-kitab
samawi sebelumnya seperti Taurad, Injil, dan Zabur turunnya sekaligus, tidak
bertahap. Sebagaimana ditunjukkan oleh firmannya.[20]
tA$s%ur
tûïÏ%©!$#
(#rãxÿx.
wöqs9
tAÌhçR
Ïmøn=tã
ãb#uäöà)ø9$#
\'s#÷Häd
ZoyÏnºur
4 y7Ï9ºx2
|MÎm7s[ãZÏ9
¾ÏmÎ/
x8y#xsèù
( çm»oYù=¨?uur
WxÏ?ös?
ÇÌËÈ
‘’Dan berkatalah orang-orang
kafir: ‘’mengapa Al-qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Muhammad SAW) sekali
turun saja? Demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami
membacakannya kelompok demi kelompok’’. (Q.S Al-furqon/25:32).
Dari ayat
diatas jelas bahwa kaum kafir, baik kaum Yahudi maupun kaum musyrik mencela
Nabi SAW, atas turunnya Al-qur’an secara berangsur-angsur. Mereka mendesak agar
Al-qur’an turun sekali saja. Oleh karenanya, ayat diatas turun lebih sebagai
sanggahan atas kemauan orang-orang kafir tersebut. Dari ayat diatas pula dapat
dipahami, bahwa sedikitnya ada dua hal penting yang perlu dicermati, yaitu Yang
pertama bahwa Al-qur’an turun secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad
SAW. dan yang kedua kitab –kitab samawi sebelumnya turun sekali saja
secara keseluruhan.[21]
DAFTAR PUSTAKA
Djalal, Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya : Dunia Ilmu,
2009
Ichwan, Nor Muhammad. Studi Ilmu-ilmu Islam. Semarang
: Raisail Media Group, 2008
Marzuki, Kamaluddin. Ulumul Qur’an. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya, 1992
Usman, Ulumul Qur’an, Yogyakarta :
Penerbit TERAS, 2009
[1] Kamaluddin
Marzuki, Ulumul Qur’an, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 23
[2] Abdul Djalal, Ulumul
Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009), hlm. 46.
[3] Ayat yang
muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami
dengan mudah.
[4] Termasuk dalam
pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa
pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah
diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang
mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya
ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
[5] Kamaluddin
Marzuki, Ulumul Qur’an, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 24
[6] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[7] Usman,
Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 61.
[9] Abdul Djalal, Ulumul
Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009), hlm. 50-51.
[11]
Abdul Djalal, Ulumul
Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009), hlm 53
[12]
Usman, Ulumul
Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 45
[13]
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009),
hlm 53
[14] Usman, Ulumul
Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 59-60
[15] Maksudnya: Al
Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur
agar dengan cara demikian hati nabi Muhammad s.a.w menjadi kuat dan tetap.
[16] Muhammad Nor
Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008),
hlm. 31.
[17] Marzuki,
Kamaluddin. Ulumul Qur’an. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1992) hlm 44
[19]
Muhammad Nor
Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008),
hlm. 36-47
[20]Muhammad Nor
Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008),
hlm. 34.
[21]
Muhammad Nor
Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008),
hlm. 35

Tidak ada komentar :
Posting Komentar