Jumat, 24 Juni 2016

dakwah

Nuzulul Qur’an

Al Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qodr. kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diutus di Mekkah dan Madinah. Banyak para ulama yang mengatakan bahwa pendapat inilah yang paling benar berdasarkan suatu riwayat dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas yang telah dikeluarkan oleh Hakim dan Baihaqi serta yang lainnya, dia mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada suatu malam ke langit dunia yaitu Lailatul Qodr.
Ada beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan. (Persoalan ini sangat penting, terutama pada masa-masa sekarang ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan). Penting bagi kita untuk mengetahui sejarah turunnya Al Qur`an, agar menambah keteguhan iman kita kepada kitab Allah SWT dan tetap pada ajaran Islam. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadinya pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa awal Islam akan terjadi lagi.berikut adalah penjabaran dari Nuzulul Qur’an;

A.           Pengertian Nuzulul Qur’an
Nuzulul Qur’an secara etimologis berasal dari dua kata, yaitu Nuzul dan al quran. Nuzul sendiri secara bahasa dari bahasa berasal dari, nazala – yanzilu – nuzulan,  yang berarti turun.  dapat di artikan turunya al-Qur’an. Nuzulul berasal dari kata nazala, di dalam bahasa arab berarti الهَبُوْ طُ مِنْ عُلُوً اِ لَى سَقْلٍ   yakni, “meluncur dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah.” Hal tersebut menurut peendapat Imam Al-Fairuz Zabadi dalam kamusnya Hulul Fil Makan[1], yang contohnya terdapat pada firman Allah dalam Qur’an surat Al-Mu’minun, ayat 29 yang berbunyi :
@è%ur Éb>§ ÓÍ_ø9ÌRr& Zwu\ãB %Z.u$t7B |MRr&ur çŽöyz tû,Î!Í\ßJø9$# ÇËÒÈ  
“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang 'diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”
Sedangkan Menurut para ahli yaitu salah satunya menurut Imam Ar-Raghib Al-Asfihani dalam kitabnya Al-Mufradaat, kata nuzulul itu mempunyai arti: al-inhidar min ‘uluwwin ila safalin (meluncur dari atas ke bawah).[2] Contohnya, antara lain firman Allah dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 22 yang berbunyi :
tAtRr&ur... z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ÇËËÈ    
 “dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit.”
Dan menurut para ulama mengatakan, kata nuzul itu berarti turun secara beraangsur-angsur sedikit demi sedikit. Contohnya, seperti yang ada pada Qur’an surat Ali Imran ayat 7 :
uqèd üÏ%©!$# tAtRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»tƒ#uä ìM»yJs3øtC £`èd Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur ×M»ygÎ7»t±tFãB ( ÇÐÈ  
“dialah yang menurunkan Al-Qur’an kepada kamu, diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat[3]. Itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat.[4]
Menurut Jumhur ulama arti nuzul dalam konteksnya dengan Alquran. Nuzul dalam kalimat Nuzulul Qur’an itu harus diartikan dengan makna majazi, atau arti pinjaman atau tidak asli. Sebab, lafal Al-Qur’an adalah kalam atau firman allah yang tidak relevan jika dikatakan meluncur dari atas atau turun. Hal ini dikarenakan Allah   yaitu Al-Idhhar (menampakan/menjelaskan)  atau Al-I’lam (memberitahukan/ menerangkan) atau pun Al-Ifham (memahamkan/ menerangkan).[5]
Dan arti Al-Qur’an itu sendiri adalah kalam Allah yang diturunkan oleh-Nya melalui perantara malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah Muhammad bin Abdullah dengan lafazh yang berbahasa Arab dan makna-maknanya yang benar, untuk menjadi hujjah bagi Rasul atas pengakuanya sebagai Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia yang mengikuti petunjukanya, dan menjadi qurban di mana mereka beribadah dengan membacanya.

B.            Waktu Turunya Alqur’an dan Periodesasinya
1)   Waktu turunnya Alqur’an
Pemulaan turunnya Alqur’an adalah pada malam Qadar, tanggal 17 Ramadan tahun ke 40 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bertetapan tanggal 6 Agustus 601 M, sewaktu beliau sedang berkhilwat (meditasi) di dalam Goa Hira atas Jabal Nur, ayat yang pertama turun ialah QS. Al-Alaq ayat 1-5 :
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[6]. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Al-Qur’an selesai diturunkan menjelang kewafatan Nabi pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi SAW atau tepatnya pada tahun 10 H yang bertepatan dengan 27 Oktober 632 M.[7] Dan menurut Jumhur ulama masa turunya alqur’an dari permulaan hingga akhirnya itu adalah selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dan ayat yang terakhir ialah, QS Al Maidah ayat 3 :
4 tPöquø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3øn=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊuur ãNä3s9 zN»n=óM}$# $YYƒÏŠ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# Îû >p|ÁuKøƒxC uŽöxî 7#ÏR$yftGãB 5OøO\b}   ¨bÎ*sù ©!$# Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÈ  
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[8] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
2)   Periodesasi Turunya Al-Qur’an
Masa turunnya Alquran selama 22 tahun itu terbagi menjadi dua periode, yaitu sebagai berikut :
a.    Periode pertama adalah periode Mekkah. Yaitu, dimana Nabi SAW masih tinggal di Mekkah, yang menurut para ulama ahli tahkiq (penelitian) pada periode ini kurang lebih 19 / 30 dari seluruh isi al qur’an. Yang terdiri dari 90 surat yang mencakup 4.773 ayat (menurut mushaf Utsman).
Surat yang turun pada periode pertama ini, berdasarkan orientasinya kepada teori geografis di namakan surah atau ayat Makkiyah.
b.    Periode kedua adalah periode Madinah. Yaitu, dimana Nabi SAW sudah berhijrah ke Madinah. Ulama ahli teori Geografis di namakan sebagai ayat atau surat Madiniyah yang mempunyai spesifikasi sendiri. Dan telah terhitung sejak sejak awal Rabi’ul wal tahun 54 atau tahun Fiil sampai dengan tanggal 9 dzulhijjah tahun 10 H, yang bertepatan pada tanggal 27 Oktober 632 M. Selama periode kedua ini, sekitar 11 / 30 dari semua isi alqur’an.

C.           Tahap-Tahap Turunya Alqur’an
Yang dimaksud dengan “tahap-tahap turunnya Al-Qur’an” yaitu tertib dari fase-fase disampaikan kitab suci Al-Qur’an, mulai dari sisi Allah SWT hingga langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab suci Al-Qur’an itu berbeda dengan kitab-kitab suci sebelumnya. Kitab suci Al-Qur’an ini kebanyakan diturunkan secara berangsur-angsur, sehingga benar-benar menunjukkan kemukjizatannya, penyampaiannya juga sangat luar biasa, yang tidak dimiliki kitab-kitab sebelumnya.[9]
Allah menurunkan  Al-Qur’an kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW melalui “Amin al-Wahyi” (Jibril a.s). sementara itu, para ulama berbeda pendapat mengenai tahap-tahap turunnya wahyu tersebut sebelum disampaikan kepada Rasul pilihan-Nya.
Tahap-tahap diturunkannya Al-Qur’an itu ada tiga fase atau tahapan, yang nantinya akan dijelaskan dengan dalil-dalil dan cara turunnya:
1.  Tahap pertama (At-Tanazzulul Awwalu)
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah ke Lauh al Mahfudh secara sekaligus, dalam arti bahwa Allah menetapkan Al-Qur’an, sebagai halnya Allah menetapkan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, tetapi kapan dan bagaimana caranya tidak seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah,[10] sesuai dengan firman-Nya:
Bahkan yang didustakan mereka itu, ialah Al-Qur’an yang mulia. yang (tersimpan) di Lauh al Mahfudh Q.S. Al-Buruj: 21-22:
ö@t/ uqèd ×b#uäöè% ÓÅg¤C ÇËÊÈ   Îû 8yöqs9 ¤âqàÿøt¤C ÇËËÈ  
“bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.”
Mengenai bagaimana turunnya Al-Qur’an ke Lauh al Mahfudh dapat disistematiskan secara sekaligus ke seluruh AL-Qur’an. Hal ini didasarkan atas dhahirnya lafal nash ayat 21-22 surah Al-Buruj itu tidak menunjukkan arti berangsur-angsur seluruh isi Al-Qur’an.
Hikmah dari tanazul tahap pertama ini adalah seperti hikmah dari eksistensi Lauh al Mahfudh itu sendiri dan fungsinya sebagaitempat catatan umum (arsip) dari segala hal yang ditentukan dan diputuskan Allah SWT dari segala makhluk, alam dan semua kejadian.
2.  Tahap kedua (At-Tanazzalu Ats-Tsani)
Al-Qur,an diturunkan dari Lauh al Mahfudh ke Bait al-Izzah yang berada di langit dunia. Setelah berada di Lauh al Mahfudh, Al-Qur’an turun ke Baitul al-Izzah di langit dunia atau langit terdekat dengan bumi.[11]
Banyak dalil yang menerangkan turunnya Al-Qur’an pada tahap kedua ini, baik dari ayat Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah, diantaranya sebagai berikut :
ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4
 “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Q.S. Al-Baqarah : 185)
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû 7's#øs9 >px.t»t6B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ƒÍÉZãB ÇÌÈ
 “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada suatu malam yang diberkati, dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-Dukhan : 3)
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ  
“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan.” (Q.S. Al-Qodr : 1)
Semua dalil-dalil ayat di atas menunjukkan turunnya Al-Qur’an tahap kedua ini dan cara turunnya, yaitu secara sekaligus turun seluruh isi Al-Qur’an dari Lauh al Mahfudh ke Baitul Izzah di langit dunia.
Menurut Imam As Suyuthi, semua hadits tersebut mauquf, yakni hanya sampai kepada sahabat Ibnu Abbas r.a. tetapi hadits-hadits tersebut telah diberi hokum sebagai hadits marfu’ yang sampai kepada Rasulullah SAW. Sebab, seperti yang telah disepakati para ahli Mushthalal Hadits, bahwa riwayat sahabat yang tidak dalam bidang pemikiran dan tidak diambil dari cerita Israiliat, adalah bisa diberi hokum marfu’ dan dapat dijadikan sebagai hujjah atau argumentasi.
Namun, karena masalah turunnya Al-Qur’an dari Lauh al Mahfudh ke Baitul Izzah itu termasuk hal ghaib, yang tidak bisa diketahui kecuali berdasarkan dalil sam’i atau keterangan dari Rasulullah atau para sahabat, maka pendapat yang berdasarkan dalil-dalil itulah yang lebih meyakinkan.
3.       Tahap Ketiga (At-Tanazzulu Ats-Tsaalistu)
Al-Qur’an turun dari Baitul Izzah dilangit dunia langsung kepada Rasulullah, artinya, setelah wahyu kitab Al-Qur’an pertama kali ditempatkan di Lauh al Mahfudh, lalu keduanya diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian ketiganya disampaikan langsung ke Rasulullah, baik melalui perantara malaikat jibril, ataupun secara langsung kedalam hati sanubari Rasulullah, maupun dari balik tabir.[12]
Dalil-dalil ayat Al-Qur’an diantaranya :
ôs)s9ur !$uZø9tRr& y7øs9Î) ¤M»tƒ#uä ;M»oYÉit/ ( $tBur ãàÿõ3tƒ !$ygÎ/ žwÎ) tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÒÒÈ 
 “dan sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas.” (Q.S. Al-Baqarah : 99)
tAttR ÏmÎ/ ßyr9$# ßûüÏBF{$# ÇÊÒÌÈ   4n?tã y7Î7ù=s% tbqä3tGÏ9 z`ÏB tûïÍÉZßJø9$# ÇÊÒÍÈ  
 “Ia (Al-Qur’an) itu dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberiperingatan.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 193-194)
$ZR#uäöè%ur çm»oYø%tsù ¼çnr&tø)tGÏ9 n?tã Ĩ$¨Z9$# 4n?tã ;]õ3ãB çm»oYø9¨tRur WxƒÍ\s? ÇÊÉÏÈ  
 “Dan Al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur, agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S. Al-Isra’ :106)
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿwöqs9 tAÌhçR Ïmøn=tã ãb#uäöà)ø9$# \'s#÷Häd ZoyÏnºur 4 y7Ï9ºxŸ2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù ( çm»oYù=¨?uur WxÏ?ös? ÇÌËÈ      
“Berkatalah orang-orang kafir: mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja. Demikianlah supaya kami perbuat hatimu dengannya dan kami (menurunkannya) dan membacakannya kelompok demi kelompok” (Q.S. Al-Furqan : 32)
Hadits riwayat Hakim dari Sa’id bin jubair dari ibnu Abbas r.a. dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda :  “Al-Qur’an itu dipisahkan dari perbuatannya lalu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, kemudian mulailah Malaikat Jibril menurunkannya kepada Rasulullah SAW.” (H.R. Hakim dari Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas r.a.).[13]
Hadits riwayat An-Nasai, Hakim, dan Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a., beliau berkata :  “Al-Qur’an itu diturunkan secara sekaligus ke langit dunia pada malam Qadar, kemudian setelah itu diturunkan (kepada Rasulullah) sedikit demi sediki selama duapuluh tahun.” (H.R. An-Nasai dari Ibnu Abbas).
Dari dalil ayat dan hadits diatas, dapat diketahui bahwa cara turunnya Al-Qur’an pada tahapan ini adalah secara langsung kepada Rasulullah dengan cara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, dan kadang-kadang lewat perantara Malaikat Jibril a.s. baru di sampaikan kepada Rasulullah, dengan cara berangsur-angsur selama kurang lebih duapuluh tahun.
D.           Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap
Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Rasulullah SAW. sekaligus satu kitab. Tetapi secara berangsur-angsur, surat-persurat dan ayat-perayat. sebagaimana yang kita ketahui segala sesuatu yang Allah kehendaki itu mengandung hikmah dan memiliki tujuan. Nah begitu juga dengan proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap.[14] Diantara hikmah atau tujuannya adalah sebagai berikut :
1)   Untuk menguatkan hati Nabi Muhammad SAW. 
Allah SWT berfirman dalam surat al-furqon ayat 32 :
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿwöqs9 tAÌhçR Ïmøn=tã ãb#uäöà)ø9$# \'s#÷Häd ZoyÏnºur 4 y7Ï9ºxŸ2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù ( çm»oYù=¨?uur WxÏ?ös? ÇÌËÈ  
“Berkatalah orang-orang yang kafir : “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah[15] supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)”.
Ayat tadi menerangkan bahwa Allah memang sengaja menurunkan al-Qur’an secara berangsur-angsur. Tidak turun langsung berbentuk satu kitab dengan tujuan untuk meneguhkan hati Nabi Saw. Sebab dengan turunnya wahyu secara bertahap menurut peristiwa, kondisi, dan situasi yang mengiringinya, tentu hal itu dapat menyakinkan penghuni langit dan dunia tentang telah diturunkannya kitab allah yang disampaikan oleh rasulullah.[16] Dengan begitu turunnya malaikat kepada beliau juga lebih sering, yang tentunya akan membawa dampak psikologis kepada beliau; terbaharui semangatnya dalam mengemban risalah dari sisi Allah. Beliau tentunya juga sangat bergembira dengan kegembiraan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
2)   Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari al-Qur’an
Allah menantang orang-orang kafir untuk membuat satu surat saja yang sebanding dengannya. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti al-Qur’an, apalagi membuat langsung satu kitab.[17]
3)   Supaya mudah dihafal dan dipahami
Dengan turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur, sangatlah mudah bagi manusia untuk menghafal serta memahami maknanya. Lebih-lebih bagi orang-orang yang buta huruf seperti orang-orang arab pada saat itu; al-Qur’an turun secara berangsur-angsur tentu sangat menolong mereka dalam menghafal serta memahami ayat-ayatnya. Memang, ayat-ayat al-Qur’an begitu turun oleh para sahabat langsung dihafalkan dengan baik, dipahami maknanya, lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya Umar bin Khattab pernah berkata: “Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat-lima ayat. Karena Jibril biasa turun membawa Qur’an kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam lima ayat-lima ayat”. (Hadist Riwayat Baihaqi)
4)   Supaya orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur’an dan giat mengamalkannya
Kaum muslimin waktu itu memang senantiasa menginginkan serta merindukan turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi pada saat ada peristiwa yang sangat menuntut penyelesaian wahyu; seperti ayat-ayat mengenai kabar bohong yang disebarkan oleh kaum munafik untuk memfitnah ummul mukminin Aisyah radiyallahu’anha, dan ayat-ayat tentang li’an.[18]
5)   Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum.
Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur,yakni dimulai dari masalah-masalah yang sangat penting kemudian menyusul masalah-masalah yang penting. Nah, karena masalah yang sangat pokok dalam Islam adalah masalah Iman, maka pertama kali yang diprioritaskan oleh Al-Qur’an ialah tentang keimanan kepada Allah, malaikat, iman kepada kitab-kitabnya, para rasulnya, iman kepada hari akhir, kebangkitan dari kubur, surga dan neraka.
Setelah akidah Islamiyah itu tumbuh dan mengakar di hati, baru Allah menurunkan ayat-ayat yang memerintah berakhlak yang baik dan mencegah perbuatan keji dan mungkar untuk membasmi kejahatan serta kerusakan sampai ke akarnya. Juga ayat-ayat yang menerangkan halal haram pada makanan, minuman, harta benda, kehormatan dan hukum syari’ah lainnya.[19]
Begitulah al-Qur’an diturunkan sesuai dengan kejadian-kejadian yang mengiringi perjalanan jihad panjang kaum muslimin dalam memperjuangkan agama Allah di muka bumi. Dan ayat-ayat itu tak henti-henti memotivasi mereka dalam perjuangan ini.

E.            Dalil dan Bukti Al-Qur’an Turun secara Berangsur
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa Al-qur’an diturunkan oleh Allah dari lauh mahfudz kelangit dunia pada malam qadr (Laila al-qadr) secara sekaligus. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat jibril dalam tempo 23 tahun. Ayat-ayat Al-qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian serta kebutuhan Rasulullah SAW. Kejadian ini merupakan peristiwa besar yang dialami beliau selama hidup. Yang telah dijelaskan dalam Q.S al-isra’/17 : 106 yang artinya :
$ZR#uäöè%ur çm»oYø%tsù ¼çnr&tø)tGÏ9 n?tã Ĩ$¨Z9$# 4n?tã ;]õ3ãB çm»oYø9¨tRur WxƒÍ\s? ÇÊÉÏÈ  
Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
Pada ayat diatas, termasuk yang digunakan adalah tanzil dan bukan inzal. Hal ini menunjukkan bahwa Al-qur’an diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur. Berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya seperti Taurad, Injil, dan Zabur turunnya sekaligus, tidak bertahap. Sebagaimana ditunjukkan oleh firmannya.[20]
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿwöqs9 tAÌhçR Ïmøn=tã ãb#uäöà)ø9$# \'s#÷Häd ZoyÏnºur 4 y7Ï9ºxŸ2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù ( çm»oYù=¨?uur WxÏ?ös? ÇÌËÈ  
’Dan berkatalah orang-orang kafir: ‘’mengapa Al-qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Muhammad SAW) sekali turun saja? Demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakannya kelompok demi kelompok’’. (Q.S Al-furqon/25:32).
Dari ayat diatas jelas bahwa kaum kafir, baik kaum Yahudi maupun kaum musyrik mencela Nabi SAW, atas turunnya Al-qur’an secara berangsur-angsur. Mereka mendesak agar Al-qur’an turun sekali saja. Oleh karenanya, ayat diatas turun lebih sebagai sanggahan atas kemauan orang-orang kafir tersebut. Dari ayat diatas pula dapat dipahami, bahwa sedikitnya ada dua hal penting yang perlu dicermati, yaitu Yang pertama bahwa Al-qur’an turun secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. dan yang kedua kitab –kitab samawi sebelumnya turun sekali saja secara keseluruhan.[21]
 


DAFTAR PUSTAKA

Djalal, Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya : Dunia Ilmu, 2009
Ichwan, Nor Muhammad. Studi Ilmu-ilmu Islam. Semarang : Raisail Media Group, 2008
Marzuki, Kamaluddin. Ulumul Qur’an. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1992
Usman, Ulumul Qur’an, Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009







[1] Kamaluddin Marzuki, Ulumul Qur’an, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1992),  hlm. 23
[2] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009), hlm. 46.
[3] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
[4] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
[5] Kamaluddin Marzuki, Ulumul Qur’an, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1992),  hlm. 24
[6] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[7] Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 61.
[8] Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.
[9] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009), hlm. 50-51.
[10] Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 42.
[11] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009), hlm 53
[12] Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 45
[13]   Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2009), hlm 53
[14] Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 59-60
[15] Maksudnya: Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati nabi Muhammad s.a.w menjadi kuat dan tetap.
[16] Muhammad Nor Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008), hlm. 31.
[17] Marzuki, Kamaluddin. Ulumul Qur’an. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1992) hlm 44
[18] Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : Penerbit TERAS, 2009), hlm. 39
[19] Muhammad Nor Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008), hlm. 36-47
[20]Muhammad Nor Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008), hlm. 34.
[21] Muhammad Nor Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Islam, (Semarang : Raisail Media Group, 2008), hlm. 35

Tidak ada komentar :