1.
Televisi
Dengan menggunakan media gelombang
electromagnehtik, pada tahun 1929 John L Baini mengadakan suatu percobaan
televisi pertama didunia dan dilanjutkan di laboratorium perusahaan telephone
Bell. Pada tahun E.f Alexanderson mendalami percobaan pancaran televisi pada
ukuran 3 inci persegi. Kemudian
pada tahun 1939 untuk pertama kali pesawat televisi dapat ditemui dipasaran
Amerika Serikat dengan menggunakan system gambar 411, baru pada tahun 1941 oleh
komisi perhubungan Federal Amerika Serikat ditetapkan gambar 525 garis angka.
Pada tahun 1941-1954 dimana saluran
(chanel) UHF (Ultra High Frequency) menjadi sistem televisi berwarna (Tv colour) perkembangan didaratan
Eropa Jerman 1928 cikal bakal perkembangan televisi berpusat disini. Tahun 1935
di Prancis lalu di Inggris Raya tahun 1936 di Amerika siaran televisi.
Sedangkan di Indonesia
usia media televise masih sangat relatif
muda dibandingkan raio dan media cetak. Namun
kehadiran media boardcasting televisi di Indonesia muncul dengan indonesia
terpilih menjadi tuan rumah penyenggalaran Asian Games IV pekan Olahraga Asean
dan siaran pertamanya TVRI dikoordinir oleh Organizing Comitte Asian Games IV dibawah naungan khusus biro radio
dan televisi departemen penerangan pada 12 agustus 1962. Yang dibuka pada tanggal
24 Agustus 1962.[1]
Pada saat itu ada beberapa perusahaan yang
menyediakan sarana penyiaran anatara lain; Marconi (Inggris), Gates (Amerika),
NEC (Jepang), RCA (Amerika Serikat), dan Siemens (Jerman). Pada tanggal 23
oktober 1961 ada sebuah telex yang dikirim oleh presiden republik Indonesia Ir.Seokarno kepada menteri penerangan malady. Isi tele itu ialah;
sudah dipikirkan lebih dalam tentang television, maka saya sampai kepada
kesimpulan bahwa pesanan harusnya diberikan kepada neclewat itoh, dengan dikurangi
Uitzel pihak nec malahan bersedia menurunkan harga habis.”[2]
Perkembangan yang sangat pesat dalam
teknologi membuat orang-orang mudah melakuakan semua hal. Dan televisi kini
tidak hanya dapat disaksikan dengan televise kabel akan tetapi kita juga dapat
menyaksikannya dihandphone dan juga pda internet.
2.
Film
Pada tahun
1873, mantan gubernur California, Leland Stanford membutuhkan suatu bantuan
demi memenangkan taruhannya. Dia yakin bahwa seekor kuda akan berlari dengan
sangat kencang jika keempatnya kakinya berada diatas permukaan tanah. Iapun
harus membuktikannya, seorang fotografer Eadward Muybridge. Pada tahun 1877,
Muybridge mengatur
seperangkat kamera tidak bergerak sepanjang jalur balap. Saat kuda berlari
kamera mengambil gambar. Hasil pemotretan tersebut membuat Stanford itu
memengkan taruhan tersebut. Ketika slide diurutkan dan diproyeksikan dengan
cepat, orang yang melihatnya seolah-olah gambar tersebut bergerak.[3]
Berangkat dari
fotografi, Calotype (system yangditemukan oleh Talbot) menggunakan ketas
yang bening (tembus cahaya), yang sering
dikenal dengan negative film, dimana kita dapat mencetak beberapa film. Film
dari Talbot sangat sensitive dan memungkinkan waktu pencahayaan hanya beberapa
detik saja.
Film dan bioskop pertama di dunia
adalah dibuka diparis, ibu kota Prancis, yaitu pada 28 desember 1895. Sedangkan
kemunculan yang pertama kali di Indonesia sendiri adalah di Betawi atau Batavia
yang kini menjai Jakarta istilah film pada saat itu adalah “Gambar
idoep”. Untuk pertama kalinya dipertontonkan pada warga adalah pada
tanggal 5 desember 1900, pertunjukan film berlangsung di tanah abang, kebonjae.
Film pertama yang diputar adalh sebuah fil dokumenter tentang peristiwa yang terjadi
di Eropa dan Afrika Selatan, yang berisi gambar Sri Baginda Maha Ratu Belanda bersama Yang Mulia Heartog
Hendrigmemasuki kota Den Haag.[4]
Dahulu sebelum adanya televisi film
hanya bisa ditonton dibioskop. Namaun sekarang bisa diakses dimanapun dan
kapanpun yaitu dengan bantuannya internet. Selain film sebagai media hiburan
film juga bermakna sebagai karya seni budaya yang dibuat berdasarkan kaidah
sinematografi dan dapat dipertunjukan dengan tanpa suara. Kemudian film juga
dapat bermakna sebgai pranata social karena dikembangkan sebgai karya kolektif
dari banyak orang terorganisasi, juga film memilikiseprangkat nilai atau
gagasan vital, visi dan misi yang diserap dari masyarakat. Kemudian film adalah
media masa, menunjukan kepada kapasitas film menyalurkan gagasana atau pesan
kepada penontonnya, tanpa menggunakan media lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ariifin, Eva. 2010. Broadcasting to be Broadcaster.
Yogyakarta; Graha Ilmu.
J.Baran, Stanley. 2012. PengantarKomunikasi
Massa. Jakarta; Erlangga
Sudibyo, Agus. Ekonomi dan Politik Media
Penyiaran. ISAI; Penerbit LKIS
Trianton, Teguh. 2013. Film sebagai Media
Belajar. Yogyakarta; Graha Ilmu.
Semoga bermanfaat dan
bisa dijadikan rujukan referensi J

