Selasa, 28 Juni 2016

Sejarah Dakwah di Belanda

Sejarah Dakwah di Belanda

Belanda terkenal akan tanggul (dijk), kincir angin, terompa kayu, tulip, dan masyarakatnya yang terbuka, dan liberal. Pada tahun 1960an Belanda mengalami kekurangan tenaga kerja, kemudian mengambil tenaga kerja di Mediterian, Turki, Maroko, Rusia, Tunisia. Belanda yang terletak bagian Utara Eropa, mempunyai banyak cerita dengan Islam. Kontak langsung maupun tidak langsung dalam catatan kolonial, Belanda sering berjumpa dan mendatangi komunitas muslim di belahan dunia secara umum dan benua asia khususnya. Melalui hubungan pedagangan internasional, perkawinan silang ataupun penjajahan dibeeberapa wilayah Asia membuat Baelanda telah mulai mengenal Islam sebelum perang dunia 1.
Setelah terjadinya perang Dunia Kedua, Islam mulai tumbuh berkembang di negara-negara benua Eropa khususnya Belanda. Pada masa ini, negara Belanda membutuhkan para tenaga kerja untuk melanjutkan cita-cita negara dalam pembangunan dan peningkatan kualitas dari beberapa aspek nasional. Oleh karena itu banyak Imigran asing yang berdatangan, yang ketika itu masih didominasi oleh Imigran Turki dan Maroko. Berikut   adalah  pembahasaannya;

A.    Kondisi bangsa Eropa (Belanda) sebelum Islam datang
Sebelum Islam datang, menurut Gustav Le Bon, Eropa berada dalam kondisi kegelapan, tak satu pun bidang ilmu yang maju bahkan lebih percaya pada tahayul. Kondisi kegelapan Eropa pada zaman pertengahan (Abad 9 M) bukan hanya pada aspek mental-dimana cenderung bersifat takhayul, demikian pula halnya dalam aspek fisik material.
Kawasan yang sekarang disebut Belanda adalah delta sungai di benua Eropa. Posisi geografi tersebut menentukan sejarah Belanda selama berabad-abad. Pada tahun 4500 Sebelum Masehi, masyarakat agraris mulai berkembang di sini dan sejak awal era Kristen kawasan ini menjadi salahsatu wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Pada abad-abad berikutnya, kawasan ini menjadi bagian dari kekaisaran lain yang lebih besar. Baru pada tahun 1590 bentuk geografis Belanda yang ada sekarang mulai terpetakan. Namun, wilayah perbatasan berubah-ubah secara dramatis.
Kehidupan beragama pada masa lalu di Belanda tidak banyak diketahui, tetapi berkat Tacitus (diantaranya),  kita bisa mendapat informasi tentang bentuk-bentuk tuhan yang disembah pada saat itu. Masyarakat di negara-negara bawah laut mulai memeluk agama Kristen sekitar tahun 600-700 Masehi. Biara-biara menjadi pusat-pusat kebudayaan. Pada Abad ke-16 dan ke-17, perang dilancarkan untuk membela doktrin kebenaran. Saat ini, Kristen masih menjadi bagian penting dalam budaya Belanda.[1]

B.    Dakwah Masuk dan Berkembangnya Islam di Eropa (Belanda)
Islam sudah hadir di benua Eropa sejak pertama kali Islam datang terutama melalui perdagangan dan diplomasi.  Sejarah kedatangan kaum muslimin di Erop ini dapat di ditelusuri menjadi empat fase, yaitu periode pertama periode kekhalifahan islam di spanyol, pulau Mediternian, pulau-pulau kecil di Prancis Selatan, Sicilia dan Italia Selatan, periode ini beakhir dengan dikalahkannya bangsa norman di Sicilia dan italia selatan pada abad ke 11 serta tuntasnya penaklukan kembali Spanyol dengan direbutnya Granada oleh penguasa kristen pada tahun 1492.
Periode kedua, berkaitan penyerbuan tentara mongol pada abad ke 13. Setelah pertemuan dengan kaum muslimin berlangsung beberapa generasi seorang penguasa mongol masa Islam. Salah satu dinasti muslim mereka adalah dinasti Khan yang berpusat di sungai Volga, sebelah utara laut Kaspian dan tengah, menyisakan penduduk muslim yang terdiri dari orang Tar-Tar disekitar sungai Volga hingga Kaukasus dan Krimenia. Sebagai pedagang dan tentara banyak dari mereka yang kemudian menyebar keberbagai penjuru kekaisaran Rusia dan membangun koloni diberbagai tempat.
Periode ketiga, adalah periode ekspansi kekhalifahan turki ustmani pada abad ke 15 dan 14. Salah satu peninggalan yang terbesar adalah orang Turki yang hingga saat ini masih aktif dalam melakukan islamisasi baik bagi penduduk asli wilayah tersebut, hingga Albani menjadi negara dengan pemduduk mayoritas muslim dan beberapa kelompok etnis Slavia, Bosnia Hercegovina dan beberapa bagian negara Bulgaria.
Periode ke empat, adalah periode kedatangan muslimin ke Eropa barat. Periode ini merupakan migrasi kaum muslimin dalam jumlah besar terutama ke Prancis, Jerman, Inggris. Inilah kemudian yang disebut dengan komunitas muslim baru di Eropa.[2]
Islam merupakan kunci utama perpindahan Eropa dari gelapnya abad pertengahan menuju terang benderaangnya masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelangkan dibidang kedokteran, astronomi, matematika dan di banyak bidang lain.
Warga muslim belanda mayoritas berasal dari orang migran, yang ternyata pada perkembangan Islam tidak lepas dari mobilitas komunitas warga migran. Kelompok migran terssebut terbaagi menjadi empat :
1)   Berasal dari Indonesia pada tahun 1945 yaitu orang maluku yang sebelumnyaa bekerjaa sebagai tentara Hindia Belanda.
2)   Muslim Suriname yang merupakan wilayah bekas jajahan Belanda.
3)   Migrasi yang beraasal dari Turki (1964), Thunesia (1970) dan Maroko (1969) sebaagai akibat dari perjanjian Bilateral antara Pemerintah Belanda dan ketigaa negara tersebut.
4)   Sisanya adalah orang-orang Maaroko, Pakistan, Yugoslavia dan negara-negaara Arab.
Sejak tahun 1982 terdapat 49 masjid dan musolah di empat kota yang menjadi konsentrasi terbesar kegiatan dakwah kaum muslimin, yaitu; Amsterdam, Utrecht, Rotterdam dan Den Haag. Tumbuhnya organisasi islam di belanda  yang sebagian besarnya didirikan sejalan dengan garis etnis kaum musliminya. Pada awal perkembangannya yang menonjol adalah kaum muslim asal turki (turk islamitische culture federative). Orhganisasi TICF menjalin hubungan erat dengan Diyanet yang mengirim para dai dan imam masjid untuk berkerja di Belanda.
 Komunitas Maroko mempunyai dua organisasi besar yakni, Amicales des ouvriers et Commercants (kawanan buruh dan pedagang) dan Unie van Marokkaanes Moslim Organisaties in Nederland (persatuan organisasi-organisasi muslim maroko di Belanda). UMMONI berhasil menghimpun berbagai komite masjid di Belanda.
Sementara itu komunitas muslim asal Suriname banyak mengasosiakan diri dengan model Islam Asia Selatan, melalui Stiching Walzijn voor Moslims in Nederland (Yayasan untuk Kesejahteraan Kaum muslim di Belanda) yang berpusat di masjid Taibah, kota Asterdam. Organisasi ini memayungi beberapa masjid, juga menjalin kerja sama dengan World Islamic Mission (Misi Islam se-Dunia) sebuah orgnisasi dakwah.
Komuitas muslim pribumi membentuk organisasi Federative van Moslimorganisaties in Nederland (Federasi Organisasi Muslim di Belanda). Gerakannya yakni menjelaskan kepentingan dan kepeulian kaum muslim kepada pejabat pemerintah Belanda yang memegang wewenang dalam masalah sosial politik.[3] 



C.  Faktor pendukung dan penghambat dakwah di Eropa (Belanda)
Keberhasilan umat Islam di Belanda adalah berkat perjuangan orang Belanda sendiri yang bernama Abdul Hamid Van Bommel. Beliau membentuk organisasi Islam. Melalui organisasi ini beliau mendapatkan hak menunaikan kewajiban shalat lima waktu dan shalat jum’at.
Orang-orang Islam di Belanda sangat respect terhadap ajaran agamanya. Kemudian orang-orang emigran mempunyai banyak anak dan menjadi keurunan islam atau di ajari agama Islam. Dan kegigihan dapat dapat merekrut anggota baru. Hal diatas dapat menunjang keberhasian dari perkembangan Islam di Belanda.
Perkembangan Islam banyak mengalami hambatan, apalagi umat Islam yang ada pada umumnya  para pedagang, seperti dari Pakistan, Turki, Indonesia dan Maroko. Sampai saat ini hanya satu mesjid yang berhasil di bangun di Belanda yaitu di Almelo. Juga penduduk Islam di Belanda adalah minoritas.

DAFTAR PUSTAKA

AE. Priyono. 2002. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa  Kini. Jakarta : Ihtiar Baru Van Hoven
Ilahi Wahyu, Hefni Harjani. 2012. Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta : Kencana Prenada Media Grop






[2] AE. Priyono, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa  Kini, (Jakarta : Ihtiar Baru Van Hoven, 2002), hlm 273-274
[3] Ilahi Wahyu, Hefni Harjani, Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta : Kencana Prenada Media Grop, 2012)Hlm 223-224

Dakwah untuk Perubahan Sosial

Dakwah  untuk   Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah bahan dalam hubungan interaksi antar individu, komunitas atau organisasi, ia ia dapat menyangkut pola nilai dan norma atau struktur sosial. Sedangkan dakwah sering diartikan sebagai semua usaha merealisir ajaran islam dalam semua segi kehidupan agama.
Perubahan sosial memang menjadi sasaran utama dalam berdakwah. Proses itu digerakan dengan mekanisme interaksi dan komunikasi sosial dengan imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Asalkan strategi dakwah deduai dengan nalar, fitrah, bakat, azas-azas atau tabiat-tabiat universal kemanusiaan.
Dalam makalah ini akan dijelaskan apa saja prinsip dasar perubahan sosial, peran dakwah bagi pperubahan sosial, kemudian pola perubahan sosial dan dampak dari perubahan sosial.

1.    Prinsip Dasar Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukalera atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial. Dalam waktu lama, kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial yang baru. (Burhan Bungin;2011,91)
Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai suatu perubahan dari gejala-gejala sosial yang ada di  masyarakat; dimulai dari yang bersifat individual hingga yang lebih kompleks. Perubahan sosial juga dapat dilihat dari segi gejala-gejala terganggunya kesinambungan diantara kesatuan sosial, walaupun keadaannya relatif kecil. Perubahan ini meliputi struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek yang dihasilkan dari interaksi antarmanusia, organisasi atau komunitas, termasuk perubahan dalam hal budaya.
Adanya pengenalan teknologi, cara mencari nafkah, migrasi, invensi (penerapan), pengenalan ide baru dan munculnya nilai-nilai sosial baru untuk melengkapi ataupun menggantikan nilai sosial yang lama, merupakan beberapa contoh perubahan sosial dalam aspek kehidupan. Dengan demikian, perubahan sosial merupakan suatu perubahan menuju keadaan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya.
Agar lebih memahami tentang perubahan sosial, beberapa pengertian dari sosiolog di bawah ini dapat Anda jadikan sebagai batasannya.
Moore memasukkan ke dalam definisi perubahan sosial berbagai ekspresi mengenai struktur seperti norma, nilai dan fenomena kultural.(Robert H. Lauer;2001,4)
William F. Ogburn, mengemukakan ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan material maupun immaterial, yang ditekankan pada pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.
Kingsley Davis, mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masya­rakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.
Mac Iver, mengartikan bahwa perubahan sosial sebagai perubahan dalam hubungan sosial (sosial relationship) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.
GilIin & Gillin, mengartikan perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebu­dayaan material, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karena adanya ditusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
Selo Soemardjan, merumuskan perubahan sosial sebagai segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.( id.scribd.com;2015,14;34)
Konsep Islam dalam perubahan sosial itu ada. Bahkan Allah pun menyuruh masyarakat untuk berubah, kalau tidak mau berubah biar Allah saja yang mengubahnya. Akan tetapi, ada beberapa jenis masyarakat muslim yang mau melakukan perubahan sosial karena mereka ingin menjadikan Islam itu agama yang fleksibel. Tapi bukan dalam hal yang prinsip. Namun ada juga masyarakat Islam yang begitu mereka melakukan perubahan sosial, prinsip-prinsip yang telah Allah gariskan telah hilang dalam perubahan mereka. Artinya Islam sudah menjadi agama kenangan. Akan tetapi ada juga masyarakat Islam yang sama sekali tidak ingin melakukan perubahan. Akhirnya mereka terjebak pada satu agama yang statik/ tidak berubah. Mereka menjadi terbelakang.( cakdalang.blogspot.com;2015.14.34)

2.    Peran Dakwah bagi Perubahan Sosial
Peran dakwah dalam perubahan sosial adalah sebagai berikut :
a.    Pemberian motivasi
Pemberian motivasi merupakan pendekatan dalam rangka pergerakan dakwah. Dakwah islam seharusnya motivasi yang mendorong, para pelaku dakwah itu hanya semata-mata mengharap keridhoan Allah swt. Seorang da’i pun harus memperhatikan segi-segi kemanusiaan dalam rangka membangkitkan semangat kerja dan pengabdian. Seperti pengikutsertaan dalam proses pengambilan keputusan, pemberian informasi yang lengkap, pengakuan dan penghargaan terhadap sumbangan yang telah diberikan, suasana yang menyenangkan, penempatan yang tepat, dan pendelegasian wewenang.
b.    Bimbingan
Bimbingan merupakan tindakan pimpinan yang dapat menjamin terlaksananya tugas-tugas dakwah yang sesuai dengan rencana, kebijaksanaan dan ketentuan, agar apa yang menjadi tujuan dan sasaran dakwah dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.
c.    Perjalinan hubungan
Untuk menjalin terwujudnya  keharmonisan dan sinkronisasi, usaha-usaha dakwah diperlukan adanya perjalinan hubungan, dimana para da’i ditempatkan dalam berbagai bagian dapat dihubugkan satu sama lain, agar mencegah terjadinya kekacauan kesamaan dan lain sebagainya.
d.   Penyelenggaraan komunikasi
Dakwah daam komunikasi sering disebut tablig. Tujuan dari komunikasi dakwah ini adalah terjadinya perubahan tingkah laku, sikap atau perbuatan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
e.    Sumber daya manusia
Sumber daya manusia adalh potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai mahkluk sosial yang adaptif  dan transpormatif yang mampu mengolah dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.
Cara muntuk meningkatkan sumber daya manusia adalah dengan cara edukasi atau pendidikan, training, competency, dan learning atau pembelajaran.( Wahidin Saputra;2011,301-304)


3.    Pola Perubahan Sosial dari Dakwah
Perubahan sosial adalah perubahan dalam segi stuktur dan hubungan sosial. Perubahan sosial yang bergerak melalui rekayasa sosial terutama dapat dimulaidari  perubahan individual, yang baik dalam cara berfikir maupun bersikap. Dalam konteks dakwah, arah perubahan yang dituju adalah pembentukan Khairu al-ummah (umat terbaik). Hal itu diawali dengan pembentukan khairu al-bariyah (mahluk terbaik), yaitu mentransformasikan  iman kedalam amal saleh sosial. Secara berkelanjutan, khairu al-bariyah yang menjadi basis khairu al-usrah (keluarga yang harmonis) akan memunculkan pembentukan khairu al-usrah, lalu dari khairu al-usrah yang merupakan khairu jamaah akan melahirkan khairu jamaah, demkian selanjutnya akan melahirkan khairu al-ummah.
Pembentukan khairu al-ummah memiliki nilai strategi bagi umat manusia pada umumnyadalam kedudukannya sebagai saksi. Meskipun islam tidak mengenal paksaan dalam beragama, namun dalam hal ini tidak menafikan bahwa manusia harus bergerak merencanakan arah perubahan, sekuat tenaga.(Wahidin Saputra;2011,136-137)
  Menurut jalaludin rakhmat  (1999), rekayasa sosial dapat dipahami sebagai pemasaran sosial. Sebagai upaya merekayasa umat menuju kearah khairu ummah, peran dai dalam dakwahnya dapat dikatakan memasarkan rencana dan solusi atas problem-problem sosial yang dihadapi masyarakat, dalam konteks penegakan kebenaran dan keadilan.
Dalam Qur’an surah Al-Hadid [57]: 25 terkandung antara lain tiga istilah yang diahami oleh jalaludin rakhmat sebagai tiga macam cara bagaimana Rasulullah Saw. merekayasa umat.
a.    Al-Kitab, yaitu mengembalikan umat manusia pada fitrali kemanusiaan dan nilai-nilai ilahiyah.
b.    Al-Mizan, yaitu mengembangkan argumentasi rasional dan akal sehat agar tercipta kejerhnihan pola pikir.
c.    Al-Hadid, yaitu berusaha memiliki kekuasaan yang sepenuhnya digunakan untuk menegakkan keadilan.
Sebagai suatu sistem, rekayasa sosial mempunyai beberapa unsur yaitu sebab, pelaku perubahan, media perubahan dan unsur strategi perubahan.
a.    Strategi perubahan dapat berupa strategi pembangunan, strategi revolusi merupakan strategi perubahan sosial dengan kekuasaan. Strategi persuasi dalam sategi ini melalui media massa. Dan strategi normatif reeducative atau dapat dikatakan norma termasyarakatkan lewat pendidikan. (Jalaludin Rakmat;1999,53-54)
b.    Pelaku perubahan pada pokoknya terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok leaders bisa terdiri dari pengarah perubahan, pendukung perubahan, administrator, teknisi/konsultan, organizer. Dan kelompok  supporters bisa terdiri dari aktivis, penyumbang yang tidak ikut aktif dan simpatisan.
c.    Adapun unsur target perubahan, hal itu bersifat kondisional disesuaikan dengan rekomendasi hasil penelitian dan pertimbangan di lapangan tentang apa yang dirasa mendesak untuk dilesaikan. Target itu dapat berupa membantu (korban dari masalah sosial) atau memprotes atau memperbaharui institusi-institusi sosial.
d.   Sedangkan dalam unsur media dapat dibedakan menjdai dua yaitu, yang pertama media pengaruh adalah media konukasi yang digunakan pelaku perubahan untuk mencegah sasaran perubahan. Dan yang kedua media respond adalah media komunikasi yang digunakan oleh sasaran perubahan untuk menggulingkan tanggapan. 

4.    Dampak Perubahan Sosial dari Dakwah
Dampak Perubahan Sosial diantaranya adalah sebagai berikut :
a.    Integrasi sosial
Dalam perubahan sosial di masyarakat, perlu diikuti adanya penyesuaian baik unsur masyarakat maupun unsur baru. Hal demikian sering disebut sebagai integrasi sosial. Unsur yang saling berbeda dapat saling menyesuaikan diri. Indonesia yang terdiri dari beranekaragam suku bangsa dan budayanya, diharapkan semua unsur/ komponen bangsa dapat menyesuaikan diri. Oleh karena itu akan terciptakan integrasi sosial atau integrasi nasional Indonesia.
b.    Disintegrasi social
Disintegrasi sering diartikan sebagai proses terpecahnya suatu kesatuan menjadi bagian-bagian kecil yang trpisah satu sama lain. Sedangkan disintegrasi sosial adalah proses terpecahnya suatu kelompok sosial menjadi beberapa unit sosial yang terpisah satu sama lain. Proses ini terjadi akibat hilangnya ikatan kolektif yang mempersatukan anggota kelompok satu sama lain.
Perubahan sosial sering ditandai dengan perubahan unsur kebudayaan, tanpa diimbangi perubahan unsur kebudayaan yang lain yang saling terkait. Biasanya unsur yang cepat berubah adalah kebudayaan kebendaan bila dibandingkan dengan kebudayaan rokhani.
Aktualisasi sistem dakwah disertai  dengan serangkaian masalah yang kompleks. Pertama, ketika dakwah Islam diccanangkan dalam masyarakat yang belum Islam oesan Islam oleh masyarakat setempat dipandang asing/pendatang. Penerimaan terhadap pesan dakwah dibarengi dengan sikap kritis berupa penilaian : apakah Islam “sejalan dengan apa yang elah dimiliki atau bahkan bertentangan secara diametral. Disini dakwah dihadapkan dengan pilihhan yang kadangkala dapat mengaburkan pesan itu sendiri. Sinkritisme baik dalam bentuk lama maupun yang baru menyangkut kebijaksanaan da’i dalam mengatasi pilihan ini.
Kedua, bahwa pemilikan Islam sebagai hasil kegiatan dakwah berjalan secara lambat atau secara cepat. Ketika Islam mulai dipeluk dan kenyataan sosial baru menampakkan diri, penghayatan terhadap aaran Islam oleh para pemelukmua mulai mendapat tantangan baruyaitu adanya keterbatasan untuk menangkap dan kemampuan memberikan kerangka terhadap kenyataan baru berdasarkan ajaran Islam dapat melahirkan sikap atau anggapan bahwa Islam tidak memiliki relevansi dengan kenyataan. Disin i dakwah Islam dihadapkan dengan kemampuan menterjemahkan kembali ajaran Islam agar tetap memiliki kesinambungan dengan kenyataan baru.
Ketiga, ketika perubaan sosio-kultural semakn kompleks menyebabkan masalah kemanusiaan semakin meluas, dakwah Islam dihadapkan dengan keharusan memberikan jawaban yang elas menyangkut kepentingan manusia dalam berbagai segi kehidupan. Penataan lembaga dakwah dimulai kembali, perumusan pesan ditinjau kembali, penanganan masalah secara kongkrit harus dikedepankan, secara keseluruhan sistem dakwah harus ditinjau kembali baik efektivitas, efisiensi maupun jangkauan penanganan masalah yang dihadapi. Karena tanpaupaya yang berkesinambungan dalam pemikiran sistem dakwah, Islam semakin tidak mnegakar dalam sistem sosial-budaya.( Robert H. Lauer;2001,16)







DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2011. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Lauer Robert H. 2001. Perspektif tentang perubahan sosial. Jakarta : PT Asdi Mahasatya.
Rakmat, Jalaludin. 1999. Rekayasa Sosial Revormasi, Revolusi, atau Manusia Besar. Bandung ; Remaja Rosdakarya.
Saputra, Wahidin. 2011.  Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta; Rajagrafindo Persada.
hhttp://cakdalang.blogspot.com/2015/konsep-islam-tentang-perubahan-sosial.html.2015.14;34


Pengembangan Ilmu Dakwah

Pengembangan Ilmu Dakwah

Islam memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk mempergunakan akalnya yang murni, guna berfikir dan mencari kebenaran sejati. Berfikir adalah kegiatan mental yang yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah yang menggabungkan berfikir deduktif merupakan expresi mengenai cara kerja fikiran sehingga mempunyai sifat rasional dan teruji. Dan teori ilmu merupakan wacana yang sangat penting, terutama pada masa sekarang ini, yang banyak didominasi oleh pandangan ilmiah modern (barat) yang telah begitu dalam merasuki pola pikir keilmuan kita.
Agama islam melarang kaumnya mengikuti dugaan dan asumsi belaka, dengan mengabaikan fungsi alat-alat indra yang telah dianuhgerakan Allah swt kepadanya, yang dapat kita gunakan untuk memperoleh dan menghasilkan pengetahuan yaitu penglihatan, pendengaran, dan hati nurani. Hal tersebut umengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
            Dari ayat diatas dapat kita pahami bahwa tidak semestinya kita menyia-nyiakan apa yang ada pada diri kita. Dan dengan belajar atau mengasa otak berarti menggalih potensi diri demi mendapatkan ilmu pengetahuan yang sekiranya bermanfaat bagi umat ataupun diri sendiri. Berikut  adalah pemaparan dari pengembangan ilmu  dakwah:

A. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan informasi atau ilmu yang telah didapat melalui proses pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Pengetahuan juga bisa diartikan sebagai gejala yang ditemui melalui pengamatan lingkungan membaca maupun pengaalaman.  Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang kita  ketahui tentang suatu objek tertentu termasuk didalamnya adalah ilmu. Pengetahuan dapat diperoleh menjadi dua macam yaitu :
1.    Pengetahuan yang diperoleh melalui persetujuan. Hal tersebut biasanya mempercayai apa yang dikatakan orang lain karena kita tidak dapat belajar dari segala sesuatu melalui pengalaman kita sendiri.
2.    Dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalman langsung atau obervarsi.
Kesahihan pengetahuan banyak bergantung pada sumbernya. Dan berikut adalah dua sumber dari pengetahuan yang diperoleh melalui argument tradisi atau autoritas. Sumber dari tradisi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan atau transmisi dari generasi ke generasi (al-tawatur). Dalam pengertian tradisi disini adalah informasi kumulatif dan dapat diwariskan atau ditranmisikan sehingga memungkinkan berkembangnya ilmu. Dan inilah makna idiom yang menyatakan bahwa “kita berdiri di atas bahu para raksasa” (we are standing on the soulder’s of the giants).[1] Yakni generasi para ilmuan ynga mendahului. Sumber pengetahuan yang kedua autoritas (authority), yaitu pengetahuan yang dihasilkan melalui penemuan-penemuan baru oleh mereka yang mempunyai wewenang dan keahlian di bidangnya.
Cara menyusun pengetahuan dalam kajian filsafat disebut epistemologi dan landasannya mengenai; apa, bagaimana, dan untuk apa pengetahuan itu disusun. Tujuan dari penyusunan pengetahuan tersebuat ialah untuk menjawab persoalan masalah kehidupan yang dihadapi manusia.
Pengetahuan menurut Machlup dapat digolongkan dalam lima  kelas utama yaitu :
a.       Pengetahuan praktis, yaitu pengetahuan yang berguna untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan.
b.      Pengetetahan intelektual, yaitu pengetahuan yang dapat memuaskan “keingintahuan” (curiostity) intelektual.
c.       Pengetahuan ringan atau hiburan, yang dapat memuaskan keingintahuan non-intelektual atau untuk memenuhi kepuasan sejenak dan stimulasi emosional, seperti berita tentang kejahatan, kecelakaan, lawakan, dan sebagainya.
d.      Pengetahuan spiritual, yakni pengetahuan yang dihubungkan dengan pengetahuan keagamaan tentang tuhan dan cara-cara untuk keselamatan jiwa.
e.       Pengetahuan yang tidak diinginkan, yakni pengetahuan yang tidak diminati, tetapi tiba-tiba diketahui tanpa disengaja.

B. Pengertian Ilmu pengetahuan
            Berbeda dengan pengetahuan, ilmu dalam arti science, menawarkan dua bentuk pendekatan terhadap kenyataan (reality), baik agreed reality maupun experienced reality, melalui penalaran personal, yaitu pendekatan khusus untuk kenyataan itu. Ilmu dapat mendekatan secara khusus dengan metodologi, yaitu ilmu untuk mengetahui, yaitu pengetahuan yang sistematik. Dan pengertian ilmu pengetahuan merupakan definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. Menurut DR.Moh. hatta, ilmu pengetahuan ialah pengetahuan atau pembelajaran yang teratur tentang perkerjaan hukum umum, sebab akibat  dalam suatu kelompok masalah yang sifatnya sama, baik  menurut kedudukanya, maupun menurut hubunganya.
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan, selain dari seni dan agama. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yng ditanyakan. Berikut ini adalah jenis-jenis ilmu :
a.       ilmu tauhid yaitu pengetahuan yang diberikan oleh tuhan kepada manusia dalam bentuk kitab suci al-quran dan hadits yang disampaikan kepada manusia melalui perantara rasul sebagai utusan  ini firman allah dalam QS Al-A’raaf ayat 52 yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.  Arti dari  atas dasar pengetahuan Kami, ialah tentang apa yang menjadi kemashlahatan bagi hamba-hamba Kami di dunia dan akhirat.
b.      ilmu yang dicari yaitu ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia sebagai hasil dari usaha mencari suatu definisi alam semesta. Ilmu jenis ini dapat berubah sesuai dengan riset penemuan manusia sebagai mahluk yang dibekalia akal fikiran.
Jadi ada dua jalan yang kita tempuh sebagai usaha dalam mencari ilmu pengetahuan. Yang pertama ialah melihat buku panduan yang diberikan oleh tuhan (dalam islam quran dan hadits). Dan yng kedua melakukan riset sendiri sebagai usaha mencari dan mengumpulkan pengertian tentang alam serta peristiwa yang terjadi.

C. Objek Ilmu Pengetahuan
Dalam objek ilmu pengetahuan  ilmu dakwah telah dibagi menjadi dua yaitu objek formal dan objek material. Objek formal yaitu bagaimana seseorang memandang dan meninjau dari sudut pandang tetentu yang dilakukan oleh peneliti terhadap objek materinya, serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Objek formal dari suatu ilmu tidak hanya memberi keuntukan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakanya dari bidang-bidang yang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari sebagian sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda.(mudhofir 2005)
Dari cara penyampaianya ajaran agama islam dari seseorang atau masyarakat agar islam mewujudkan  jalan hidup bagi manusia atau masyarakat, sehinga hidup bahagia didunia dan diakhirat. Dalam  proses  penyampaian atau ajakan manusia supaya masuk kejalan allah (sistem islam) secara kaffah dalam segala aspek kehidupan guna mencari ridho allah.
Objek material adalah materi yang dikaji objek matrial ilmu dakwahadalah keseluruhan ajaran islam sumbernya al quran, hadis dan pendapat ulama. Dengan demikian ilmu dakwah adalah bagian dari studi islam (islamologi). Semua aspek ajaran islam yang terdapat dalam al quran dan hadis dan hasil ijtihad ulama dan realisasinya dalm kehidupan .
Kajian dari objek formal dan material, yang pertama yaitu mengajak dengan lisan dan tulisan yang kemudian dikenal komunikasi dan penyiaran islam yang brsasaran massa. Kemudian bimbingan penyuluhan islam yang bersasaran individual atau kelompok. Sedangkan yang kedua adalah mengorganisir dan mengelolah kegiatan mengajak dan hasil dari ajakan tersebut secara efisien dan efektif, disebut menejemen dakwah.dan selanjutnya mengajak dengan tindakan nyata. Kemudian menjadi kegiatan dakwah dalam pengembangan masyarakat islam dengan membiarkan contoh yang baik sebagaimana yang diajarkan oleh nabi muhammad saw sehinga akan terbentuk sistem masyarakat yang islami melalui aksi sosial, ekonomi dan lingkunahgan islam.

D. Metode Ilmu Pengetahuan
       Dalam metode ilmu pengetahun adalah metode ilmiah yang biasa digunakan oleh ilmuan untuk meneliti atau memecahkan suatu masalah yang diteliti. Sedangkan metode ilmiah adalah ekspresi cara berkerja pikiran dan memiliki karakteristik atau ciri ciri tertentu yang dapat dalam pengetahuan ilmiah. Etika ilmu pengetahuan berupa nilai dan kualitas yang dijadikan dasar, standar benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab nampak dalam perkembangan ilmu pengetahuan kini hanya formalitas semata.
       Di era globalisasi ini, bukan termasuk langkah yang bijak jika perkembangan ilmu pengetahuan dibatasi, karena sebenarnya ilmu pengetahuan yang membuat hidup kita lebih efektif dan efisien.
       Kebebasan mengakses berbagai informasi atau menggunakan ilmu pengetahuan bisa dirasakan oleh semua kalangan jika mau belajar . namun harus bisa memanfaatkannya dengan baik sehingga tidak akan merugikan diri sendiri.
       Metode ilmiah adalah pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. menggunakan langkah atau prinsip dalam menjalankan agar menjadi sistematis, teratur dan terkontrol. Tahapan-tahapan metode ilmiah adalah sebagai berikut :
1.      merumuskan masalah
rumusan masalahbiasa muncul karena adanya pengamatan dari gejala-gejala atau peristiwa yang berada di ligkungan.
2.      Mengumpulkan data
Mengumpulkan data bisa dengan berbagai cara. Misalnya kajian pustaka, observasi.
3.      Merumuskan kipotesis
Yaitu membuat jaawaban sementara yang disusun berdasarkan data-data yang diperoleh.
4.      Menarik kesimpulan harus berdasarkan analisis data
Oleh sebab itu, agr dapat menarik kesimpulan dibutuhkan fakta-fakta yang cukup.
5.      Kesimpulan
Kesimpulan yang sudah diterima dianggap sebagian dari pengetahuan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Spaja S. Juhaya, filsafat dan metologi ilmu dalam islam, teraju : jakarta selatan,2002
Saputra Wahadin, pengantar ilmu dakwah, Rajawali ; jakarta, 2011





[1] Juhaya s. Praja, filsafat dan metologi ilmu dalam islam, hlm 1