Sejarah Dakwah
di Belanda
Belanda terkenal akan tanggul (dijk),
kincir angin, terompa kayu,
tulip, dan
masyarakatnya yang terbuka, dan liberal. Pada tahun 1960an
Belanda mengalami kekurangan tenaga kerja, kemudian mengambil tenaga kerja di
Mediterian, Turki, Maroko, Rusia, Tunisia. Belanda yang terletak bagian Utara Eropa,
mempunyai banyak cerita dengan Islam. Kontak langsung maupun tidak langsung
dalam catatan kolonial, Belanda sering berjumpa dan mendatangi komunitas muslim
di belahan dunia secara umum dan benua asia khususnya. Melalui hubungan
pedagangan internasional, perkawinan silang ataupun penjajahan dibeeberapa
wilayah Asia membuat Baelanda telah mulai mengenal Islam sebelum perang dunia
1.
Setelah
terjadinya perang Dunia Kedua, Islam mulai tumbuh berkembang di negara-negara benua
Eropa khususnya Belanda. Pada masa ini, negara Belanda membutuhkan para tenaga
kerja untuk melanjutkan cita-cita negara dalam pembangunan dan peningkatan
kualitas dari beberapa aspek nasional. Oleh karena itu banyak Imigran asing
yang berdatangan, yang ketika itu masih didominasi oleh Imigran Turki dan
Maroko. Berikut adalah pembahasaannya;
A. Kondisi bangsa Eropa (Belanda) sebelum Islam
datang
Sebelum Islam datang, menurut
Gustav Le Bon, Eropa berada dalam kondisi kegelapan, tak satu pun bidang ilmu
yang maju bahkan lebih percaya pada tahayul. Kondisi kegelapan Eropa pada zaman
pertengahan (Abad 9 M) bukan hanya pada aspek mental-dimana cenderung bersifat
takhayul, demikian pula halnya dalam aspek fisik material.
Kawasan yang sekarang disebut Belanda adalah delta sungai di benua
Eropa. Posisi geografi tersebut menentukan sejarah Belanda selama berabad-abad.
Pada tahun 4500 Sebelum Masehi, masyarakat agraris mulai berkembang di sini dan
sejak awal era Kristen kawasan ini menjadi salahsatu wilayah kekuasaan
Kekaisaran Romawi. Pada abad-abad berikutnya, kawasan ini menjadi bagian dari
kekaisaran lain yang lebih besar. Baru pada tahun 1590 bentuk geografis Belanda
yang ada sekarang mulai terpetakan. Namun, wilayah perbatasan berubah-ubah
secara dramatis.
Kehidupan beragama pada masa lalu di Belanda tidak banyak
diketahui, tetapi berkat Tacitus (diantaranya), kita bisa mendapat
informasi tentang bentuk-bentuk tuhan yang disembah pada saat itu. Masyarakat
di negara-negara bawah laut mulai memeluk agama Kristen sekitar tahun 600-700
Masehi. Biara-biara menjadi pusat-pusat kebudayaan. Pada Abad ke-16 dan ke-17,
perang dilancarkan untuk membela doktrin kebenaran. Saat ini, Kristen masih
menjadi bagian penting dalam budaya Belanda.[1]
B. Dakwah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Eropa (Belanda)
Islam sudah hadir di benua Eropa
sejak pertama kali Islam datang terutama melalui perdagangan dan
diplomasi. Sejarah kedatangan kaum
muslimin di Erop ini dapat di ditelusuri menjadi empat fase, yaitu periode
pertama periode kekhalifahan islam di spanyol, pulau Mediternian, pulau-pulau
kecil di Prancis Selatan, Sicilia dan Italia Selatan, periode ini beakhir
dengan dikalahkannya bangsa norman di Sicilia dan italia selatan pada abad ke
11 serta tuntasnya penaklukan kembali Spanyol dengan direbutnya Granada oleh
penguasa kristen pada tahun 1492.
Periode kedua, berkaitan penyerbuan
tentara mongol pada abad ke 13. Setelah pertemuan dengan kaum muslimin
berlangsung beberapa generasi seorang penguasa mongol masa Islam. Salah satu
dinasti muslim mereka adalah dinasti Khan yang berpusat di sungai Volga,
sebelah utara laut Kaspian dan tengah, menyisakan penduduk muslim yang terdiri
dari orang Tar-Tar disekitar sungai Volga hingga Kaukasus dan Krimenia. Sebagai
pedagang dan tentara banyak dari mereka yang kemudian menyebar keberbagai
penjuru kekaisaran Rusia dan membangun koloni diberbagai tempat.
Periode ketiga, adalah periode
ekspansi kekhalifahan turki ustmani pada abad ke 15 dan 14. Salah satu
peninggalan yang terbesar adalah orang Turki yang hingga saat ini masih aktif
dalam melakukan islamisasi baik bagi penduduk asli wilayah tersebut, hingga
Albani menjadi negara dengan pemduduk mayoritas muslim dan beberapa kelompok
etnis Slavia, Bosnia Hercegovina dan beberapa bagian negara Bulgaria.
Periode ke empat, adalah periode
kedatangan muslimin ke Eropa barat. Periode ini merupakan migrasi kaum muslimin
dalam jumlah besar terutama ke Prancis, Jerman, Inggris. Inilah kemudian yang
disebut dengan komunitas muslim baru di Eropa.[2]
Islam merupakan kunci utama perpindahan Eropa dari gelapnya abad
pertengahan menuju terang benderaangnya masa Renaisans. Di masa ketika Eropa
terbelangkan dibidang kedokteran, astronomi, matematika dan di banyak bidang
lain.
Warga muslim belanda mayoritas berasal dari orang migran, yang ternyata
pada perkembangan Islam tidak lepas dari mobilitas komunitas warga migran.
Kelompok migran terssebut terbaagi menjadi empat :
1) Berasal dari Indonesia pada tahun 1945 yaitu orang maluku yang sebelumnyaa
bekerjaa sebagai tentara Hindia Belanda.
2) Muslim Suriname yang merupakan wilayah bekas jajahan Belanda.
3) Migrasi yang beraasal dari Turki (1964), Thunesia (1970) dan Maroko (1969)
sebaagai akibat dari perjanjian Bilateral antara Pemerintah Belanda dan ketigaa
negara tersebut.
4) Sisanya adalah orang-orang Maaroko, Pakistan, Yugoslavia dan negara-negaara
Arab.
Sejak tahun 1982 terdapat 49 masjid dan musolah di empat kota yang menjadi
konsentrasi terbesar kegiatan dakwah kaum muslimin, yaitu; Amsterdam, Utrecht,
Rotterdam dan Den Haag. Tumbuhnya organisasi islam di belanda yang sebagian besarnya didirikan sejalan
dengan garis etnis kaum musliminya. Pada awal perkembangannya yang menonjol
adalah kaum muslim asal turki (turk islamitische culture federative).
Orhganisasi TICF menjalin hubungan erat dengan Diyanet yang mengirim para dai
dan imam masjid untuk berkerja di Belanda.
Komunitas Maroko mempunyai dua
organisasi besar yakni, Amicales des ouvriers et Commercants (kawanan buruh dan
pedagang) dan Unie van Marokkaanes Moslim Organisaties in Nederland (persatuan
organisasi-organisasi muslim maroko di Belanda). UMMONI berhasil menghimpun
berbagai komite masjid di Belanda.
Sementara itu komunitas muslim asal Suriname banyak mengasosiakan diri
dengan model Islam Asia Selatan, melalui Stiching Walzijn voor Moslims in
Nederland (Yayasan untuk Kesejahteraan Kaum muslim di Belanda) yang berpusat di
masjid Taibah, kota Asterdam. Organisasi ini memayungi beberapa masjid, juga
menjalin kerja sama dengan World Islamic Mission (Misi Islam se-Dunia) sebuah
orgnisasi dakwah.
Komuitas muslim pribumi membentuk organisasi Federative van
Moslimorganisaties in Nederland (Federasi Organisasi Muslim di Belanda).
Gerakannya yakni menjelaskan kepentingan dan kepeulian kaum muslim kepada
pejabat pemerintah Belanda yang memegang wewenang dalam masalah sosial politik.[3]
C. Faktor pendukung dan penghambat
dakwah di Eropa (Belanda)
Keberhasilan umat Islam di Belanda adalah berkat perjuangan orang
Belanda sendiri yang bernama Abdul Hamid
Van Bommel. Beliau
membentuk organisasi Islam. Melalui organisasi ini beliau mendapatkan hak
menunaikan kewajiban shalat lima waktu dan shalat jum’at.
Orang-orang Islam di Belanda sangat
respect terhadap ajaran agamanya. Kemudian orang-orang emigran mempunyai banyak
anak dan menjadi keurunan islam atau di ajari agama Islam. Dan kegigihan dapat
dapat merekrut anggota baru. Hal diatas dapat menunjang keberhasian dari
perkembangan Islam di Belanda.
Perkembangan Islam banyak mengalami hambatan, apalagi umat Islam yang
ada pada umumnya para pedagang, seperti
dari Pakistan, Turki, Indonesia dan Maroko. Sampai saat ini hanya satu mesjid
yang berhasil di bangun di Belanda yaitu di Almelo. Juga penduduk Islam di Belanda
adalah minoritas.
DAFTAR PUSTAKA
AE. Priyono.
2002. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa Kini. Jakarta : Ihtiar Baru Van Hoven
http://www.entoen.nu/id/main-lines (15:41 03/06/2015)
Ilahi Wahyu,
Hefni Harjani. 2012. Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta : Kencana Prenada
Media Grop
Tidak ada komentar :
Posting Komentar