Selasa, 28 Juni 2016

Sejarah Dakwah di Belanda

Sejarah Dakwah di Belanda

Belanda terkenal akan tanggul (dijk), kincir angin, terompa kayu, tulip, dan masyarakatnya yang terbuka, dan liberal. Pada tahun 1960an Belanda mengalami kekurangan tenaga kerja, kemudian mengambil tenaga kerja di Mediterian, Turki, Maroko, Rusia, Tunisia. Belanda yang terletak bagian Utara Eropa, mempunyai banyak cerita dengan Islam. Kontak langsung maupun tidak langsung dalam catatan kolonial, Belanda sering berjumpa dan mendatangi komunitas muslim di belahan dunia secara umum dan benua asia khususnya. Melalui hubungan pedagangan internasional, perkawinan silang ataupun penjajahan dibeeberapa wilayah Asia membuat Baelanda telah mulai mengenal Islam sebelum perang dunia 1.
Setelah terjadinya perang Dunia Kedua, Islam mulai tumbuh berkembang di negara-negara benua Eropa khususnya Belanda. Pada masa ini, negara Belanda membutuhkan para tenaga kerja untuk melanjutkan cita-cita negara dalam pembangunan dan peningkatan kualitas dari beberapa aspek nasional. Oleh karena itu banyak Imigran asing yang berdatangan, yang ketika itu masih didominasi oleh Imigran Turki dan Maroko. Berikut   adalah  pembahasaannya;

A.    Kondisi bangsa Eropa (Belanda) sebelum Islam datang
Sebelum Islam datang, menurut Gustav Le Bon, Eropa berada dalam kondisi kegelapan, tak satu pun bidang ilmu yang maju bahkan lebih percaya pada tahayul. Kondisi kegelapan Eropa pada zaman pertengahan (Abad 9 M) bukan hanya pada aspek mental-dimana cenderung bersifat takhayul, demikian pula halnya dalam aspek fisik material.
Kawasan yang sekarang disebut Belanda adalah delta sungai di benua Eropa. Posisi geografi tersebut menentukan sejarah Belanda selama berabad-abad. Pada tahun 4500 Sebelum Masehi, masyarakat agraris mulai berkembang di sini dan sejak awal era Kristen kawasan ini menjadi salahsatu wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Pada abad-abad berikutnya, kawasan ini menjadi bagian dari kekaisaran lain yang lebih besar. Baru pada tahun 1590 bentuk geografis Belanda yang ada sekarang mulai terpetakan. Namun, wilayah perbatasan berubah-ubah secara dramatis.
Kehidupan beragama pada masa lalu di Belanda tidak banyak diketahui, tetapi berkat Tacitus (diantaranya),  kita bisa mendapat informasi tentang bentuk-bentuk tuhan yang disembah pada saat itu. Masyarakat di negara-negara bawah laut mulai memeluk agama Kristen sekitar tahun 600-700 Masehi. Biara-biara menjadi pusat-pusat kebudayaan. Pada Abad ke-16 dan ke-17, perang dilancarkan untuk membela doktrin kebenaran. Saat ini, Kristen masih menjadi bagian penting dalam budaya Belanda.[1]

B.    Dakwah Masuk dan Berkembangnya Islam di Eropa (Belanda)
Islam sudah hadir di benua Eropa sejak pertama kali Islam datang terutama melalui perdagangan dan diplomasi.  Sejarah kedatangan kaum muslimin di Erop ini dapat di ditelusuri menjadi empat fase, yaitu periode pertama periode kekhalifahan islam di spanyol, pulau Mediternian, pulau-pulau kecil di Prancis Selatan, Sicilia dan Italia Selatan, periode ini beakhir dengan dikalahkannya bangsa norman di Sicilia dan italia selatan pada abad ke 11 serta tuntasnya penaklukan kembali Spanyol dengan direbutnya Granada oleh penguasa kristen pada tahun 1492.
Periode kedua, berkaitan penyerbuan tentara mongol pada abad ke 13. Setelah pertemuan dengan kaum muslimin berlangsung beberapa generasi seorang penguasa mongol masa Islam. Salah satu dinasti muslim mereka adalah dinasti Khan yang berpusat di sungai Volga, sebelah utara laut Kaspian dan tengah, menyisakan penduduk muslim yang terdiri dari orang Tar-Tar disekitar sungai Volga hingga Kaukasus dan Krimenia. Sebagai pedagang dan tentara banyak dari mereka yang kemudian menyebar keberbagai penjuru kekaisaran Rusia dan membangun koloni diberbagai tempat.
Periode ketiga, adalah periode ekspansi kekhalifahan turki ustmani pada abad ke 15 dan 14. Salah satu peninggalan yang terbesar adalah orang Turki yang hingga saat ini masih aktif dalam melakukan islamisasi baik bagi penduduk asli wilayah tersebut, hingga Albani menjadi negara dengan pemduduk mayoritas muslim dan beberapa kelompok etnis Slavia, Bosnia Hercegovina dan beberapa bagian negara Bulgaria.
Periode ke empat, adalah periode kedatangan muslimin ke Eropa barat. Periode ini merupakan migrasi kaum muslimin dalam jumlah besar terutama ke Prancis, Jerman, Inggris. Inilah kemudian yang disebut dengan komunitas muslim baru di Eropa.[2]
Islam merupakan kunci utama perpindahan Eropa dari gelapnya abad pertengahan menuju terang benderaangnya masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelangkan dibidang kedokteran, astronomi, matematika dan di banyak bidang lain.
Warga muslim belanda mayoritas berasal dari orang migran, yang ternyata pada perkembangan Islam tidak lepas dari mobilitas komunitas warga migran. Kelompok migran terssebut terbaagi menjadi empat :
1)   Berasal dari Indonesia pada tahun 1945 yaitu orang maluku yang sebelumnyaa bekerjaa sebagai tentara Hindia Belanda.
2)   Muslim Suriname yang merupakan wilayah bekas jajahan Belanda.
3)   Migrasi yang beraasal dari Turki (1964), Thunesia (1970) dan Maroko (1969) sebaagai akibat dari perjanjian Bilateral antara Pemerintah Belanda dan ketigaa negara tersebut.
4)   Sisanya adalah orang-orang Maaroko, Pakistan, Yugoslavia dan negara-negaara Arab.
Sejak tahun 1982 terdapat 49 masjid dan musolah di empat kota yang menjadi konsentrasi terbesar kegiatan dakwah kaum muslimin, yaitu; Amsterdam, Utrecht, Rotterdam dan Den Haag. Tumbuhnya organisasi islam di belanda  yang sebagian besarnya didirikan sejalan dengan garis etnis kaum musliminya. Pada awal perkembangannya yang menonjol adalah kaum muslim asal turki (turk islamitische culture federative). Orhganisasi TICF menjalin hubungan erat dengan Diyanet yang mengirim para dai dan imam masjid untuk berkerja di Belanda.
 Komunitas Maroko mempunyai dua organisasi besar yakni, Amicales des ouvriers et Commercants (kawanan buruh dan pedagang) dan Unie van Marokkaanes Moslim Organisaties in Nederland (persatuan organisasi-organisasi muslim maroko di Belanda). UMMONI berhasil menghimpun berbagai komite masjid di Belanda.
Sementara itu komunitas muslim asal Suriname banyak mengasosiakan diri dengan model Islam Asia Selatan, melalui Stiching Walzijn voor Moslims in Nederland (Yayasan untuk Kesejahteraan Kaum muslim di Belanda) yang berpusat di masjid Taibah, kota Asterdam. Organisasi ini memayungi beberapa masjid, juga menjalin kerja sama dengan World Islamic Mission (Misi Islam se-Dunia) sebuah orgnisasi dakwah.
Komuitas muslim pribumi membentuk organisasi Federative van Moslimorganisaties in Nederland (Federasi Organisasi Muslim di Belanda). Gerakannya yakni menjelaskan kepentingan dan kepeulian kaum muslim kepada pejabat pemerintah Belanda yang memegang wewenang dalam masalah sosial politik.[3] 



C.  Faktor pendukung dan penghambat dakwah di Eropa (Belanda)
Keberhasilan umat Islam di Belanda adalah berkat perjuangan orang Belanda sendiri yang bernama Abdul Hamid Van Bommel. Beliau membentuk organisasi Islam. Melalui organisasi ini beliau mendapatkan hak menunaikan kewajiban shalat lima waktu dan shalat jum’at.
Orang-orang Islam di Belanda sangat respect terhadap ajaran agamanya. Kemudian orang-orang emigran mempunyai banyak anak dan menjadi keurunan islam atau di ajari agama Islam. Dan kegigihan dapat dapat merekrut anggota baru. Hal diatas dapat menunjang keberhasian dari perkembangan Islam di Belanda.
Perkembangan Islam banyak mengalami hambatan, apalagi umat Islam yang ada pada umumnya  para pedagang, seperti dari Pakistan, Turki, Indonesia dan Maroko. Sampai saat ini hanya satu mesjid yang berhasil di bangun di Belanda yaitu di Almelo. Juga penduduk Islam di Belanda adalah minoritas.

DAFTAR PUSTAKA

AE. Priyono. 2002. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa  Kini. Jakarta : Ihtiar Baru Van Hoven
Ilahi Wahyu, Hefni Harjani. 2012. Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta : Kencana Prenada Media Grop






[2] AE. Priyono, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa  Kini, (Jakarta : Ihtiar Baru Van Hoven, 2002), hlm 273-274
[3] Ilahi Wahyu, Hefni Harjani, Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta : Kencana Prenada Media Grop, 2012)Hlm 223-224

Tidak ada komentar :