Selasa, 20 Desember 2016

MR.Olos

Mr. Olos

Dalam  gemerlap  lampu  kendaraan  yang  melintas  di  sepanjang  jalan  Hamka, disana  sederet  pedagang  menyuguhkan  jajanan  khas  berbagai  daerah.   Banyak  orang menyebutnya  dengan  Pujasera  atau  ‘pusat  jajanan  selera  rakyat’.  Ada  satu  yang  belum pernah  ku  coba,  diujung  jalan  dengan  gerobak  putih  dan  hijau  pudar  bertuliskan Mr.Olos.  makanan  apa  itu  ?  dan  berasal  dari mana  ia  ?  atau  mungkin  ciptaan  orang yang  kreatif,  entahlah  yang  pasti  aku  belum  pernah  mencobanya.
Secangkir  wedang jahe  dan  jagung  bakar  yang  diserut,  kemudian  di  campur  dengan  susu  dan  diatasnya  ditaburi  keju.  Menikmati  malam  minggu  bersama  teman-teman  dikota  orang  lain.  Sejenak  teblesit  ingatan  masa  lalu,  aku  berbohong  pada  orang  tua  hanya  ingin  merasakan  malam  minggu  dengan  pacarku,  namun  yang  terjadi  disana  adalah  tragis,  dimana  kita  tidak  sengaja  bertemu  dengan  kekasih  gelapnya.  Saat  itu  juga  aku  merasa  kecewa,  hingga  kini  aku  belum  merasa  jatuh  cinta  lagi.  Aku  tersadar  dalam  lamunanku,  ku  coba  menarik  panjang  nafas  dan  hanyut  kembali dalam  canda  dimalam  minggu  ini.
Dikamar kos yang hanya berukuran tiga kali empat meter. Kamar kos yang hanya ada dua lemari, rak buku dan kasur dimana tempat istirahat saat lelah mengganduliku. Disini adalah tempat yang jauh dari jangkauan orang tua. Rindu akan suasana rumah, walau tidak sebebas disini, namun lebih nyaman bersama dekapan keluarga. Wulan temanku satu kamar datang dengan sebungkus makanan yang belum ku tau namanya. “ini apa lan?” tanya ku. “ini olos.” jawabnya sembari melahap sibulat kecil putih itu. Ia terbuat dari adonan tepung yang didalamnya terdapat sayur kol dan cabe. Perlahan ku lahap dan merasakan cita rasa pedas yang menyebar dalam mulut ku. Kemudian teringat dengan laki-laki yang duduk menyanggah dagunya menunggu pembeli datang dan berharap menyerbu dagangannya.
Awalnya hanya membeli olos. Wajah yang sumringah ketika ada pembeli, hal terserbut membuat pesona tersendiri. Pernah ku temukan setetes embun dimatanya, damai yang didapati. Saat itu pun aku mulai takut dengan perasaan ini. Putih kecil yang ia masukan kedalam penggorengan berisi minyak panas, suaranya memecahkan kesunyian diantara kita.
Senja mulai datang lagi, saat mentari yang jauh di ufuk barat perlahan tenggelam dan menyisahkan mega-meganya. Kemudian bintang-bintang mulai bertaburan di langit kelabu dimalamnya. Dan itu adalah waktu yang paling aku tunggu, dimana aku dapat menemuinya. Langkah demi langkah melewati lorong hanya ingin menemuinya, sekedar memandang pakaian yang lusuh dan rambut berantakan yang ku lihat pada dirinya, dan mendengarkan cerita darinya atau menikmati malam dikota semarang bersamanya. Rasa pedas yang mengebom mulutku dan gurih dari adonan tepung yang sudah dicampur bumbu dan digoreng telah menjadi kerinduhan tersendiri.
Bukan hanya saat-saat itu sudah hampir dua tahun berlalu lamanya aku membeli olos darinya. Disana ia selalu menyapa ku dengan sebutan ‘mbak’. Setiap aku melintas didepannya, ia selalu melemparkan candaannya yang khas “beli lima gratis satu”. Ada keceriaan yang ia panggil di dalam senyum. ia juga pernah bercerita bahwa makanan olos ini berasal dari Tegal kota bahari yang sering orang kenal, dan ia ingin mengenalakan pada semua orang tentang si bulat kecil yang putih itu. Setelah puas aku memandanginya, aku pulang dengan membawa kantong kresek yang berisi olos. Yang akan ku makan dengan lamunan, mengingat kembali simpul senyumnya. Kini aku merasa benar-benar jatuh hati, dan apa yang dapat ku perbuat untuk cinta?!. Hanya membuatnya tetap berdiri disana dan berharap dia akan selalu disana agar puas aku memandanginya.
Esok adalah hari wisuda ku, seorang mahasiswi yang masih terlelap dalam tidurnya. Mengagumi seseorang dalam diam yang dapat ku perbuat, bukankah aku seorang perempuan yang hanya dapat menunggu? aargghh! Pelik sekali rasanya. Malam ini aku hendak mengucapkan perpisahan atau semacamnya. Dan hanya doa yang ia katakan, aku terdiam berharap ada suatu keajaiban. “kau pernah tidak merasa  rasa kagum hingga membuat mu berkorban demi kesenangan orang yang kau kagumi?”. Bibirnya mulai mekar dan ia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam. “Seseorang telah menungguku disana dan ini pengorbananku mencari nafkah untuk istriku, aku rela melakukan ini semua deminya, dan ia pun rela menunggu ku pulang”.  Kalimat yang membuatku terteguh dan terdiam, serasa ada gulungan salju besar yang turun menimpaku, sejenak aku terdiam dan angin malam terus berhembus menerpa mata ku yang berair.
Seharusnya dari dulu aku sadar tentang itu, oh cinta ia mudah untuk ditemui, namun sukar untuk didapat. Lantas apa yang aku perbuat ? Memaksa kehendak, atau pergi menyendiri dan menyadari. Kecewa untuk kedua kalinya. Kepalaku tertunduk pasrah, serasa semua hampa tanpa warna kelam yang terlukis. Mungkinkah ada makanan yang kutemukan seperti buatannya ? yah, mungkin aku akan merindukan seseorang yang ku tunggu berdiri di ujung jalan sana.
*
Perlahan ku rebahkan punggung ini diatas sandaran kursi empuk, dikantor tempat dimana aku berkerja, mata ku terpejam dengan membiarkan komputer dalam keadaan menyala. Tak beberapa lama ponselku berbunyi melengking, disamping kertas-kertas yang bertumpukan disana. Tangan ku mulai meraba meja tanpa aku melihatnya, kemudian aku buka pesan dari patner kerja ku yang mengajak untuk makan siang direstoran baru dipersimpangan jalan. Kuambil tasku dan bersiap pergi kerestoran itu dengan teman kerjaku. Sesampainya disana pramusaji datang dengan catatan kecil dan bolpoin hitam ditangannya dan menyodorkan menu yang ditawarkan, ku buka halaman pertama yang sejenak membuat aku terdiam dan teringat dengan dua tahun yang telah lampau. Sikecil putih bulat itu mengingatkan aku tentang seseorang yang telah membawaku pada ketegaran menunggu. Segerah aku memesan olos tersebut, dan mengingat kembali massa yang kelam namun aku tegar disana.