Mr. Olos
Dalam
gemerlap lampu kendaraan
yang
melintas di sepanjang jalan Hamka,
disana sederet pedagang menyuguhkan jajanan khas berbagai daerah.
Banyak orang menyebutnya dengan Pujasera atau ‘pusat
jajanan selera rakyat’. Ada satu
yang belum pernah ku coba, diujung
jalan dengan gerobak putih dan hijau pudar
bertuliskan Mr.Olos. makanan apa itu
? dan berasal dari mana ia ? atau mungkin ciptaan orang yang kreatif, entahlah yang pasti
aku belum pernah mencobanya.
Secangkir
wedang jahe dan jagung bakar yang diserut,
kemudian di campur
dengan susu dan
diatasnya ditaburi keju. Menikmati
malam minggu bersama teman-teman dikota orang
lain. Sejenak teblesit ingatan masa lalu, aku berbohong
pada orang tua hanya
ingin merasakan malam minggu dengan
pacarku, namun yang terjadi disana adalah tragis, dimana kita
tidak sengaja bertemu dengan kekasih gelapnya. Saat itu juga aku merasa kecewa, hingga kini
aku belum merasa
jatuh cinta lagi. Aku
tersadar dalam lamunanku, ku coba
menarik panjang nafas dan
hanyut kembali dalam canda dimalam
minggu ini.
Dikamar
kos yang hanya berukuran tiga kali empat meter. Kamar kos yang hanya ada dua
lemari, rak buku dan kasur dimana tempat istirahat saat lelah mengganduliku.
Disini adalah tempat yang jauh dari jangkauan orang tua. Rindu akan suasana
rumah, walau tidak sebebas disini, namun lebih nyaman bersama dekapan keluarga.
Wulan temanku satu kamar datang dengan sebungkus makanan yang belum ku tau
namanya. “ini apa lan?” tanya ku. “ini olos.” jawabnya sembari melahap sibulat
kecil putih itu. Ia terbuat dari adonan tepung yang didalamnya terdapat sayur
kol dan cabe. Perlahan ku lahap dan merasakan cita rasa pedas yang menyebar
dalam mulut ku. Kemudian teringat dengan laki-laki yang duduk menyanggah dagunya
menunggu pembeli datang dan berharap menyerbu dagangannya.
Awalnya
hanya membeli olos. Wajah yang sumringah ketika ada pembeli, hal terserbut
membuat pesona tersendiri. Pernah ku temukan setetes embun dimatanya, damai
yang didapati. Saat itu pun aku mulai takut dengan perasaan ini. Putih kecil
yang ia masukan kedalam penggorengan berisi minyak panas, suaranya memecahkan
kesunyian diantara kita.
Senja
mulai datang lagi, saat mentari yang jauh di ufuk barat perlahan tenggelam dan
menyisahkan mega-meganya. Kemudian bintang-bintang mulai bertaburan di langit
kelabu dimalamnya. Dan itu adalah waktu yang paling aku tunggu, dimana aku
dapat menemuinya. Langkah demi langkah melewati lorong hanya ingin menemuinya,
sekedar memandang pakaian yang lusuh dan rambut berantakan yang ku lihat pada
dirinya, dan mendengarkan cerita darinya atau menikmati malam dikota semarang
bersamanya. Rasa pedas yang mengebom mulutku dan gurih dari adonan tepung yang
sudah dicampur bumbu dan digoreng telah menjadi kerinduhan tersendiri.
Bukan
hanya saat-saat itu sudah hampir dua tahun berlalu lamanya aku membeli olos
darinya. Disana ia selalu menyapa ku dengan sebutan ‘mbak’. Setiap aku melintas
didepannya, ia selalu melemparkan candaannya yang khas “beli lima gratis satu”.
Ada keceriaan yang ia panggil di dalam senyum. ia juga pernah bercerita bahwa
makanan olos ini berasal dari Tegal kota bahari yang sering orang kenal, dan ia
ingin mengenalakan pada semua orang tentang si bulat kecil yang putih itu.
Setelah puas aku memandanginya, aku pulang dengan membawa kantong kresek yang
berisi olos. Yang akan ku makan dengan lamunan, mengingat kembali simpul senyumnya.
Kini aku merasa benar-benar jatuh hati, dan apa yang dapat ku perbuat untuk
cinta?!. Hanya membuatnya tetap berdiri disana dan berharap dia akan selalu
disana agar puas aku memandanginya.
Esok
adalah hari wisuda ku, seorang mahasiswi yang masih terlelap dalam tidurnya. Mengagumi
seseorang dalam diam yang dapat ku perbuat, bukankah aku seorang perempuan yang
hanya dapat menunggu? aargghh! Pelik sekali rasanya. Malam ini aku hendak
mengucapkan perpisahan atau semacamnya. Dan hanya doa yang ia katakan, aku
terdiam berharap ada suatu keajaiban. “kau pernah tidak merasa rasa kagum hingga membuat mu berkorban demi
kesenangan orang yang kau kagumi?”. Bibirnya mulai mekar dan ia mencoba menarik
nafasnya dalam-dalam. “Seseorang telah menungguku disana dan ini pengorbananku
mencari nafkah untuk istriku, aku rela melakukan ini semua deminya, dan ia pun
rela menunggu ku pulang”. Kalimat yang
membuatku terteguh dan terdiam, serasa ada gulungan salju besar yang turun
menimpaku, sejenak aku terdiam dan angin malam terus berhembus menerpa mata ku
yang berair.
Seharusnya
dari dulu aku sadar tentang itu, oh cinta ia mudah untuk ditemui, namun sukar
untuk didapat. Lantas apa yang aku perbuat ? Memaksa kehendak, atau pergi
menyendiri dan menyadari. Kecewa untuk kedua kalinya. Kepalaku tertunduk
pasrah, serasa semua hampa tanpa warna kelam yang terlukis. Mungkinkah ada
makanan yang kutemukan seperti buatannya ? yah, mungkin aku akan merindukan
seseorang yang ku tunggu berdiri di ujung jalan sana.
*
Perlahan
ku rebahkan punggung ini diatas sandaran kursi empuk, dikantor tempat dimana
aku berkerja, mata ku terpejam dengan membiarkan komputer dalam keadaan
menyala. Tak beberapa lama ponselku berbunyi melengking, disamping
kertas-kertas yang bertumpukan disana. Tangan ku mulai meraba meja tanpa aku
melihatnya, kemudian aku buka pesan dari patner kerja ku yang mengajak untuk
makan siang direstoran baru dipersimpangan jalan. Kuambil tasku dan bersiap
pergi kerestoran itu dengan teman kerjaku. Sesampainya disana pramusaji datang
dengan catatan kecil dan bolpoin hitam ditangannya dan menyodorkan menu yang
ditawarkan, ku buka halaman pertama yang sejenak membuat aku terdiam dan
teringat dengan dua tahun yang telah lampau. Sikecil putih bulat itu
mengingatkan aku tentang seseorang yang telah membawaku pada ketegaran
menunggu. Segerah aku memesan olos tersebut, dan mengingat kembali massa yang
kelam namun aku tegar disana.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar