Selasa, 28 Juni 2016

Pengembangan Ilmu Dakwah

Pengembangan Ilmu Dakwah

Islam memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk mempergunakan akalnya yang murni, guna berfikir dan mencari kebenaran sejati. Berfikir adalah kegiatan mental yang yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah yang menggabungkan berfikir deduktif merupakan expresi mengenai cara kerja fikiran sehingga mempunyai sifat rasional dan teruji. Dan teori ilmu merupakan wacana yang sangat penting, terutama pada masa sekarang ini, yang banyak didominasi oleh pandangan ilmiah modern (barat) yang telah begitu dalam merasuki pola pikir keilmuan kita.
Agama islam melarang kaumnya mengikuti dugaan dan asumsi belaka, dengan mengabaikan fungsi alat-alat indra yang telah dianuhgerakan Allah swt kepadanya, yang dapat kita gunakan untuk memperoleh dan menghasilkan pengetahuan yaitu penglihatan, pendengaran, dan hati nurani. Hal tersebut umengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
            Dari ayat diatas dapat kita pahami bahwa tidak semestinya kita menyia-nyiakan apa yang ada pada diri kita. Dan dengan belajar atau mengasa otak berarti menggalih potensi diri demi mendapatkan ilmu pengetahuan yang sekiranya bermanfaat bagi umat ataupun diri sendiri. Berikut  adalah pemaparan dari pengembangan ilmu  dakwah:

A. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan informasi atau ilmu yang telah didapat melalui proses pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Pengetahuan juga bisa diartikan sebagai gejala yang ditemui melalui pengamatan lingkungan membaca maupun pengaalaman.  Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang kita  ketahui tentang suatu objek tertentu termasuk didalamnya adalah ilmu. Pengetahuan dapat diperoleh menjadi dua macam yaitu :
1.    Pengetahuan yang diperoleh melalui persetujuan. Hal tersebut biasanya mempercayai apa yang dikatakan orang lain karena kita tidak dapat belajar dari segala sesuatu melalui pengalaman kita sendiri.
2.    Dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalman langsung atau obervarsi.
Kesahihan pengetahuan banyak bergantung pada sumbernya. Dan berikut adalah dua sumber dari pengetahuan yang diperoleh melalui argument tradisi atau autoritas. Sumber dari tradisi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan atau transmisi dari generasi ke generasi (al-tawatur). Dalam pengertian tradisi disini adalah informasi kumulatif dan dapat diwariskan atau ditranmisikan sehingga memungkinkan berkembangnya ilmu. Dan inilah makna idiom yang menyatakan bahwa “kita berdiri di atas bahu para raksasa” (we are standing on the soulder’s of the giants).[1] Yakni generasi para ilmuan ynga mendahului. Sumber pengetahuan yang kedua autoritas (authority), yaitu pengetahuan yang dihasilkan melalui penemuan-penemuan baru oleh mereka yang mempunyai wewenang dan keahlian di bidangnya.
Cara menyusun pengetahuan dalam kajian filsafat disebut epistemologi dan landasannya mengenai; apa, bagaimana, dan untuk apa pengetahuan itu disusun. Tujuan dari penyusunan pengetahuan tersebuat ialah untuk menjawab persoalan masalah kehidupan yang dihadapi manusia.
Pengetahuan menurut Machlup dapat digolongkan dalam lima  kelas utama yaitu :
a.       Pengetahuan praktis, yaitu pengetahuan yang berguna untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan.
b.      Pengetetahan intelektual, yaitu pengetahuan yang dapat memuaskan “keingintahuan” (curiostity) intelektual.
c.       Pengetahuan ringan atau hiburan, yang dapat memuaskan keingintahuan non-intelektual atau untuk memenuhi kepuasan sejenak dan stimulasi emosional, seperti berita tentang kejahatan, kecelakaan, lawakan, dan sebagainya.
d.      Pengetahuan spiritual, yakni pengetahuan yang dihubungkan dengan pengetahuan keagamaan tentang tuhan dan cara-cara untuk keselamatan jiwa.
e.       Pengetahuan yang tidak diinginkan, yakni pengetahuan yang tidak diminati, tetapi tiba-tiba diketahui tanpa disengaja.

B. Pengertian Ilmu pengetahuan
            Berbeda dengan pengetahuan, ilmu dalam arti science, menawarkan dua bentuk pendekatan terhadap kenyataan (reality), baik agreed reality maupun experienced reality, melalui penalaran personal, yaitu pendekatan khusus untuk kenyataan itu. Ilmu dapat mendekatan secara khusus dengan metodologi, yaitu ilmu untuk mengetahui, yaitu pengetahuan yang sistematik. Dan pengertian ilmu pengetahuan merupakan definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. Menurut DR.Moh. hatta, ilmu pengetahuan ialah pengetahuan atau pembelajaran yang teratur tentang perkerjaan hukum umum, sebab akibat  dalam suatu kelompok masalah yang sifatnya sama, baik  menurut kedudukanya, maupun menurut hubunganya.
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan, selain dari seni dan agama. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yng ditanyakan. Berikut ini adalah jenis-jenis ilmu :
a.       ilmu tauhid yaitu pengetahuan yang diberikan oleh tuhan kepada manusia dalam bentuk kitab suci al-quran dan hadits yang disampaikan kepada manusia melalui perantara rasul sebagai utusan  ini firman allah dalam QS Al-A’raaf ayat 52 yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.  Arti dari  atas dasar pengetahuan Kami, ialah tentang apa yang menjadi kemashlahatan bagi hamba-hamba Kami di dunia dan akhirat.
b.      ilmu yang dicari yaitu ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia sebagai hasil dari usaha mencari suatu definisi alam semesta. Ilmu jenis ini dapat berubah sesuai dengan riset penemuan manusia sebagai mahluk yang dibekalia akal fikiran.
Jadi ada dua jalan yang kita tempuh sebagai usaha dalam mencari ilmu pengetahuan. Yang pertama ialah melihat buku panduan yang diberikan oleh tuhan (dalam islam quran dan hadits). Dan yng kedua melakukan riset sendiri sebagai usaha mencari dan mengumpulkan pengertian tentang alam serta peristiwa yang terjadi.

C. Objek Ilmu Pengetahuan
Dalam objek ilmu pengetahuan  ilmu dakwah telah dibagi menjadi dua yaitu objek formal dan objek material. Objek formal yaitu bagaimana seseorang memandang dan meninjau dari sudut pandang tetentu yang dilakukan oleh peneliti terhadap objek materinya, serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Objek formal dari suatu ilmu tidak hanya memberi keuntukan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakanya dari bidang-bidang yang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari sebagian sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda.(mudhofir 2005)
Dari cara penyampaianya ajaran agama islam dari seseorang atau masyarakat agar islam mewujudkan  jalan hidup bagi manusia atau masyarakat, sehinga hidup bahagia didunia dan diakhirat. Dalam  proses  penyampaian atau ajakan manusia supaya masuk kejalan allah (sistem islam) secara kaffah dalam segala aspek kehidupan guna mencari ridho allah.
Objek material adalah materi yang dikaji objek matrial ilmu dakwahadalah keseluruhan ajaran islam sumbernya al quran, hadis dan pendapat ulama. Dengan demikian ilmu dakwah adalah bagian dari studi islam (islamologi). Semua aspek ajaran islam yang terdapat dalam al quran dan hadis dan hasil ijtihad ulama dan realisasinya dalm kehidupan .
Kajian dari objek formal dan material, yang pertama yaitu mengajak dengan lisan dan tulisan yang kemudian dikenal komunikasi dan penyiaran islam yang brsasaran massa. Kemudian bimbingan penyuluhan islam yang bersasaran individual atau kelompok. Sedangkan yang kedua adalah mengorganisir dan mengelolah kegiatan mengajak dan hasil dari ajakan tersebut secara efisien dan efektif, disebut menejemen dakwah.dan selanjutnya mengajak dengan tindakan nyata. Kemudian menjadi kegiatan dakwah dalam pengembangan masyarakat islam dengan membiarkan contoh yang baik sebagaimana yang diajarkan oleh nabi muhammad saw sehinga akan terbentuk sistem masyarakat yang islami melalui aksi sosial, ekonomi dan lingkunahgan islam.

D. Metode Ilmu Pengetahuan
       Dalam metode ilmu pengetahun adalah metode ilmiah yang biasa digunakan oleh ilmuan untuk meneliti atau memecahkan suatu masalah yang diteliti. Sedangkan metode ilmiah adalah ekspresi cara berkerja pikiran dan memiliki karakteristik atau ciri ciri tertentu yang dapat dalam pengetahuan ilmiah. Etika ilmu pengetahuan berupa nilai dan kualitas yang dijadikan dasar, standar benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab nampak dalam perkembangan ilmu pengetahuan kini hanya formalitas semata.
       Di era globalisasi ini, bukan termasuk langkah yang bijak jika perkembangan ilmu pengetahuan dibatasi, karena sebenarnya ilmu pengetahuan yang membuat hidup kita lebih efektif dan efisien.
       Kebebasan mengakses berbagai informasi atau menggunakan ilmu pengetahuan bisa dirasakan oleh semua kalangan jika mau belajar . namun harus bisa memanfaatkannya dengan baik sehingga tidak akan merugikan diri sendiri.
       Metode ilmiah adalah pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. menggunakan langkah atau prinsip dalam menjalankan agar menjadi sistematis, teratur dan terkontrol. Tahapan-tahapan metode ilmiah adalah sebagai berikut :
1.      merumuskan masalah
rumusan masalahbiasa muncul karena adanya pengamatan dari gejala-gejala atau peristiwa yang berada di ligkungan.
2.      Mengumpulkan data
Mengumpulkan data bisa dengan berbagai cara. Misalnya kajian pustaka, observasi.
3.      Merumuskan kipotesis
Yaitu membuat jaawaban sementara yang disusun berdasarkan data-data yang diperoleh.
4.      Menarik kesimpulan harus berdasarkan analisis data
Oleh sebab itu, agr dapat menarik kesimpulan dibutuhkan fakta-fakta yang cukup.
5.      Kesimpulan
Kesimpulan yang sudah diterima dianggap sebagian dari pengetahuan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Spaja S. Juhaya, filsafat dan metologi ilmu dalam islam, teraju : jakarta selatan,2002
Saputra Wahadin, pengantar ilmu dakwah, Rajawali ; jakarta, 2011





[1] Juhaya s. Praja, filsafat dan metologi ilmu dalam islam, hlm 1

Tidak ada komentar :