Kamis, 25 Agustus 2016

Sejarah Televisi dan Film

1.    Televisi
Dengan menggunakan media gelombang electromagnehtik, pada tahun 1929 John L Baini mengadakan suatu percobaan televisi pertama didunia dan dilanjutkan di laboratorium perusahaan telephone Bell. Pada tahun E.f Alexanderson mendalami percobaan pancaran televisi pada ukuran 3 inci persegi. Kemudian pada tahun 1939 untuk pertama kali pesawat televisi dapat ditemui dipasaran Amerika Serikat dengan menggunakan system gambar 411, baru pada tahun 1941 oleh komisi perhubungan Federal Amerika Serikat ditetapkan gambar 525 garis angka.
Pada tahun 1941-1954 dimana saluran (chanel) UHF (Ultra High Frequency) menjadi sistem televisi berwarna (Tv colour) perkembangan didaratan Eropa Jerman 1928 cikal bakal perkembangan televisi berpusat disini. Tahun 1935 di Prancis lalu di Inggris Raya tahun 1936 di Amerika siaran televisi.
  Sedangkan di Indonesia usia  media televise masih sangat relatif muda dibandingkan raio dan media cetak. Namun kehadiran media boardcasting televisi di Indonesia muncul dengan indonesia terpilih menjadi tuan rumah penyenggalaran Asian Games IV pekan Olahraga Asean dan siaran pertamanya TVRI dikoordinir oleh Organizing Comitte Asian  Games IV dibawah naungan khusus biro radio dan televisi departemen penerangan pada 12 agustus 1962. Yang dibuka pada tanggal 24 Agustus 1962.[1]  
Pada saat itu ada beberapa perusahaan yang menyediakan sarana penyiaran anatara lain; Marconi (Inggris), Gates (Amerika), NEC (Jepang), RCA (Amerika Serikat), dan Siemens (Jerman). Pada tanggal 23 oktober 1961 ada sebuah telex yang dikirim oleh presiden republik Indonesia Ir.Seokarno kepada menteri penerangan malady. Isi tele itu ialah; sudah dipikirkan lebih dalam tentang television, maka saya sampai kepada kesimpulan bahwa pesanan harusnya diberikan kepada neclewat itoh, dengan dikurangi Uitzel pihak nec malahan bersedia menurunkan harga habis.”[2]
Perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi membuat orang-orang mudah melakuakan semua hal. Dan televisi kini tidak hanya dapat disaksikan dengan televise kabel akan tetapi kita juga dapat menyaksikannya dihandphone dan juga pda internet.
2.    Film
Pada tahun 1873, mantan gubernur California, Leland Stanford membutuhkan suatu bantuan demi memenangkan taruhannya. Dia yakin bahwa seekor kuda akan berlari dengan sangat kencang jika keempatnya kakinya berada diatas permukaan tanah. Iapun harus membuktikannya, seorang fotografer Eadward Muybridge. Pada tahun 1877, Muybridge mengatur seperangkat kamera tidak bergerak sepanjang jalur balap. Saat kuda berlari kamera mengambil gambar. Hasil pemotretan tersebut membuat Stanford itu memengkan taruhan tersebut. Ketika slide diurutkan dan diproyeksikan dengan cepat, orang yang melihatnya seolah-olah gambar tersebut bergerak.[3]
Berangkat dari fotografi, Calotype (system yangditemukan oleh Talbot) menggunakan ketas yang  bening (tembus cahaya), yang sering dikenal dengan negative film, dimana kita dapat mencetak beberapa film. Film dari Talbot sangat sensitive dan memungkinkan waktu pencahayaan hanya beberapa detik saja.
Film dan bioskop pertama di dunia adalah dibuka diparis, ibu kota Prancis, yaitu pada 28 desember 1895. Sedangkan kemunculan yang pertama kali di Indonesia sendiri adalah di Betawi atau Batavia yang kini menjai Jakarta istilah film pada saat itu adalah “Gambar  idoep”. Untuk pertama kalinya dipertontonkan pada warga adalah pada tanggal 5 desember 1900, pertunjukan film berlangsung di tanah abang, kebonjae.
Film pertama yang diputar adalh sebuah  fil dokumenter tentang peristiwa yang terjadi di Eropa dan Afrika Selatan, yang berisi gambar Sri Baginda Maha  Ratu Belanda bersama Yang Mulia Heartog Hendrigmemasuki kota Den Haag.[4]
Dahulu sebelum adanya televisi film hanya bisa ditonton dibioskop. Namaun sekarang bisa diakses dimanapun dan kapanpun yaitu dengan bantuannya internet. Selain film sebagai media hiburan film juga bermakna sebagai karya seni budaya yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dan dapat dipertunjukan dengan tanpa suara. Kemudian film juga dapat bermakna sebgai pranata social karena dikembangkan sebgai karya kolektif dari banyak orang terorganisasi, juga film memilikiseprangkat nilai atau gagasan vital, visi dan misi yang diserap dari masyarakat. Kemudian film adalah media masa, menunjukan kepada kapasitas film menyalurkan gagasana atau pesan kepada penontonnya, tanpa menggunakan media lain.
DAFTAR PUSTAKA

Ariifin, Eva. 2010. Broadcasting to be Broadcaster. Yogyakarta; Graha Ilmu.
J.Baran, Stanley. 2012. PengantarKomunikasi Massa. Jakarta; Erlangga
Sudibyo, Agus. Ekonomi dan Politik Media Penyiaran.  ISAI; Penerbit LKIS
Trianton, Teguh. 2013. Film sebagai Media Belajar. Yogyakarta; Graha Ilmu.

Semoga bermanfaat  dan  bisa  dijadikan  rujukan referensi  J



[1] Agus Sudibyo, Ekonomi dan Politik Media Penyiaran (ISAI; Penerbit LKIS) hlm 280
[2] Eva Ariifin, Broadcasting to be Broadcaster, (Yogyakarta; Graha Ilmu, 2010), hlm 37
[3] Stanley J.Baran, PengantarKomunikasi Massa, (Jakarta; Erlangga, 2012), hlm 211-112
[4] Teguh Trianton, Film sebagai Media Belajar, (Yogyakarta; Graha Ilmu, 2013), hlm 11-12

Tidak ada komentar :