Senin, 26 September 2016

Aisyah (Ummu Mukminin) dan Keutamaannya...

Aisyah binti Abu Bakar adalah seorang wanita siddiqqah putra dari seorang yang siddiq. Ibunya bernama Ummu Ruman. Beliau dilahirkan delapan tahun sebelum hijriah. Kemudiaan menikah dengan Rasulullah enam atau tujuh tahun kemudian ditinggal wafat Rasulullah pada usianya delapan belas tahun. Beliau meninggal pada masa pemerintahan Mu’awiyah tahun 58 hijriah. Beliau dipanggil dengan Ummu Abdillah atas saran dari Rasulullah, karena beliau menyuapkan kurma kepada keponakannya, Abdullah bin Zubair. Dan banyak sahabat dan tabiin yang menimbah ilmu kepadanya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.

Aisyah adalah wanita yang paling dicintai Rasulullah. Setelah wafatnya Rasulullah, Aisyah  menjadi figur wanita yang paling unggul dari kaumnya. Seperti dalam hadits bahwasanya rasulullah bersabda;
فَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلى سَائِرِ الطَّعَامِ
“Keutamaan Aisyah diatas kaum wanita seperti keutamaan tsarid diatas semua makanan.”  HR.Muslim
Makna tsarid adalah makanan yang diremuk dan direndam dalam kuah. Tentu saja makanan tersebut lebih bermanfaat dari makanan lainnya, lebih mengenyangkan, mudah dikunyah, lebih nikmat, dan cepat penyajiannya. Danmakanan itu juga diracik berbagai bahan yang terbaik. Begitu pula Aisyah ra. dibanding dengan kaum wanita lainnya. Beliau sosok menghimpun berbagai sifat kebaikkan dengan takaran dan porsi yang seimbang, sehingga tampil dengan pribadi yang sempurna pada masanya.
Sifat-sifat unggul yang dimiliki Aisyah terbagi menjadi dua,yaitu ynag pertama sifat yang Allahanugerahkan kepada Aisyah yang tidak dianugerahkan oleh wanita lainnya. Beliau telah menegaskan sendiri sifat-sifatnya; “Aku memiliki sembilan sifat yang tidak dimiliki seorangpun wanita sebelumku kecuali apa yang dianugerahkan Allah kepada maryam binti imran. Demi Allah, aku tidak mengatakan hal ini karena ingin menyombongkan diri kepada seorangpun dari rekan-rekanku (istri-istri Rasulullah saw, lainnya).” Abdullah bin Shafawan bertanya, “wahai umul mukminin, apa sajakah sifat-sifat itu?.” Beliau menjawab, “Malaikat (jibril) datang dengan membawa gambarku kepada Rasulullah saw. Rasulullah menikahiku ketika aku baru berusia tujuh tahun. Aku dihadiahkan kepada Rasulullah ketika aku berusia sembilan tahun. Rasulullah menikahiku dalam keadan perawan dan tidak ada seorang perempuanpun wanita yang menyamaiku dalam hal ini. Wahyu datang kepada beliau ketika akud an beliau berada dalam satu selimut aku termasuk wanita yang beliau cintai. Telah turun ayat-ayat al-Qur’an mengenaiku ketika umat hampir saja binasa karenanya. Aku melihat jibril dan tidak ada istri yang lainnya yang melihatnya. Rasulullah meninggal dirumahku dan tidak ada seorangpun yang disamping malaikat kecuali aku.” HR. Al Hakim
Kemudian sifat yang kedua Aisyah adalah sifat yang dapat diusahakan dan diteladani oleh setiap wanita. Yaitu sebagai berikut;
1.    Dermawan
Kebanyakan wanita memiliki sifat kikir dibandingkan pria. Namun Aisyah memeliki kedermawan yang besar dan dapat terbilang melampaui batas.
Urwah berkata; “Sesungguhnya Aisyah pernah bersedekah dengan uang tujuh puluh dirham, sedangkan beliau menambal sendiri sisi baju rompinya yang terkoyak. Semoga Allah meridhoinya.” HR Abu Nu’aim

2.    Tidak Pernah Menggunjing
Kebanyakan wanita sering menggunjing dan membicarakan keburukan orang lain, namun Aisyah berbeda dengan wanita lain, melainkan beliau sering membicarakan kebaikan orang lain. Bahkan beliau tidak ingin membicarakan keburukan Hasan bin Tsabit yang telah memfitnahnya berselingkuh dengan Shafwan. Urwah menuturkan;
Aku mencelah Hasan didepan Aisyah karena dia termasuk orang yang banyak menyebarkan berita bohong tentang dirinya, lalu Aisyah berkata ‘janganlah kamu mencelahnya karena dia dulu selalu membela Rasulullah.’” HR Al-Bukhari

3.    Tidak Mengharapkan Bantuan Orang Lain Dan Tidak Ingin Menjadi Beban Bagi Orang Lain
Semeninggalnya Rasulullah Aisyah tidak suka mengharapkan bantuan orang lain dan tidak ingin sekali-kali menjadi beban bagi orang lain. Walaupun banyak orang yang memberinya namun ia senantiasa untuk membalasnya. Sangat berbeda dengan kita yang sering mengharapkan pemberian orang lain. Bahkan tanpa kita malu kita meminta bantuan dan kadang menjadi beban orang lain. Padahal diri kita masih mampu tanpa menyusahkan orang lain.
Telah datang dari Iraq harta rampasan perang berupa tempat perhiasan. Didalamnya terdapat sebuah permata. Umar berkata kepada para sahabatnya, ‘Tahukah kamu berapa harga permata ini?’ Mereka menjawab, ‘Tidak’. Mereka juga tidak tahu cara membaginya. Umar berkata ‘Apakah kalian mengizinkan jika permata ini aku kirimkan kepada Aisyah demi cinta Rasulullah saw kepadanya?’ Mereka menjawab ‘Ya,’ Lalu Umar mengirimkannya kepada Aisyah. Beliau berkata, ‘Apa yang disembahkan Umar kepada sepeninggal Rasulullah saw? Ya Allah, jangan biarkan aku hidup untuk menerima pemberiannya lagi pada masa mendatang.’” HR Al Hakim
Aisyah binti Thalhah menuturkan, “Umul Mukminin Aisyah ra. sering menerima surat dan hadiah dari banyak orang. Surat dan hadiah mereka dititipkan kepadaku karena hubunganku dekat dengannya. Aku berkata kepadanya, ‘wahai bibi, ini adalah surat dan hadiah dari si fulan.’ Beliau menjawab ‘jawablah surat itu dan balaslah pemberiannya. Jika kamu tidak memiliki pakaian, maka aku akan memberimu.’ Beliau benar-benar memberiku pakaian untuk dikirimkan sebagai hadiah balasan.” (Al Baihaqi)

4.    Tidak Menyukai Sanjungan Dan Pujian
Kebanyakan wanita ingin dipuji, bahkan jikalau tidak ada yang memuji ia akan memuji diri sendiri. Namun Aisyah tidak suka terhadap pujian pada dirinya. Ibnu Malikah menuturkan;
Suatu hari Ibnu Abbas memuji Aisyah. “Tidak ada sesuatu pun yang terjadi antara dirimu dan pertemuan dengan orang-orang yang engkau cintai kecuali terpisahnya ruh dari jasad. Engkau adalah istri yang  paling dicintai Rasulullah saw., dan beliau tidak mencintai kecuali kebaikan. Kalungmu telahterjatuh dari malam Al Abwa’ lalu turun ayat Al-Quran mengenai dirimu. Tidak adda satu pun masjid dari masjid-masjid kaum muslimin melainkan dikumandangkan didalamnya ayat-ayat yang menegaskan kesucianmu ditengah malam dan siang hari.” Aisyah berkata ‘Jauhkan aku dari pujianmu itu wahai Ibnu Abbas. Demi Allah, sungguh aku berharap menjadi orang yang dilupakan orang.’ HR. Ahmad

5.    Tabah Dan Pemberani
Anas bin Malik berkata “aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan ummu Sulaim menyingsingkan sarungnya sehingga aku melihat gelang kaki yang melingkar di bawah betis keduanya. Keduanya memanggul qirbah (bejana berisi air) diatas panggulnya, lalu memberi minum kepada para pasukan. Setelah itu, keduannya kembali lagi mengisi qirbah hingga penuh, kemudian memberi minum kepada para pasukan.” HR. Muslim
Ketika terjadi perang Khandaq,aku keluar menelusuri jejak orang-orang. Lalu kud engar di belakang suara derap kaki yang menghentak bumi. Aku pun menoleh, ternyata dia adalah Sa’ad bin Mu’adz dan keponakannya Harits bin Aus yang membawa perisai. Aku pu bangkit dan masuk kesebuah kebun, ternyata didalamnya ada sekelompok kaum muslimin, dan ternyata ditengah mereka terdapat Umar bin khatab. Umar berkata, ‘apa yang membuatmu datang kesini. Demi Allah engkau adalah seorang wanita yang sangat pemberani.’”  HR. Ahmad

6.    Ahli Ibadah
Aisyah ra berkata “Aku tetap melaksanakan sholat (dhuha) sebagaimana aku melakukannya pada zaman Rasulullah saw. Bahkan, seandainya ayahku di hidupkan kembali lalu melarangku melakukan sholat itu, aku tetap tidak akan meninggalkannya.” HR. Ahmad
Sesungguhnya Aisyah senantiasa berpuasa sepanjang tahun.” HR. Ibnu Sa’ad
7.    Selalu Belajar
Imam Az Zuhri berkata “ seandainya ilmu Aisyah disandingkan dengan ilmu seluruh kaum wanita, niscaya lebih utama ilmu Aisyah.” Ath Thabrani

Itu lah keutamaan dari Ummul mukminin Aisyah ra. semoga saya dan wanita-wanita lainnya dapat menteladani sifat-sifat Aisyah ra, dan keunggulannya sehingga menjadi pelita yang menerangi masa depan dan generasi selanjutnya. Aamiin

Semoga bermanfaat J

Tidak ada komentar :