Aisyah binti Abu Bakar adalah seorang wanita siddiqqah putra dari
seorang yang siddiq. Ibunya bernama Ummu Ruman. Beliau dilahirkan delapan tahun
sebelum hijriah. Kemudiaan menikah dengan Rasulullah enam atau tujuh tahun
kemudian ditinggal wafat Rasulullah pada usianya delapan belas tahun. Beliau
meninggal pada masa pemerintahan Mu’awiyah tahun 58 hijriah. Beliau dipanggil
dengan Ummu Abdillah atas saran dari Rasulullah, karena beliau menyuapkan kurma
kepada keponakannya, Abdullah bin Zubair. Dan banyak sahabat dan tabiin yang
menimbah ilmu kepadanya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.
Aisyah adalah wanita yang paling dicintai Rasulullah. Setelah
wafatnya Rasulullah, Aisyah menjadi
figur wanita yang paling unggul dari kaumnya. Seperti dalam hadits bahwasanya
rasulullah bersabda;
فَضْلُ عَائِشَةَ
عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلى سَائِرِ الطَّعَامِ
“Keutamaan Aisyah diatas kaum wanita seperti keutamaan tsarid
diatas semua makanan.” HR.Muslim
Makna tsarid adalah makanan yang diremuk dan direndam dalam kuah.
Tentu saja makanan tersebut lebih bermanfaat dari makanan lainnya, lebih
mengenyangkan, mudah dikunyah, lebih nikmat, dan cepat penyajiannya. Danmakanan
itu juga diracik berbagai bahan yang terbaik. Begitu pula Aisyah ra. dibanding
dengan kaum wanita lainnya. Beliau sosok menghimpun berbagai sifat kebaikkan
dengan takaran dan porsi yang seimbang, sehingga tampil dengan pribadi yang
sempurna pada masanya.
Sifat-sifat unggul yang dimiliki Aisyah terbagi menjadi dua,yaitu
ynag pertama sifat yang Allahanugerahkan kepada Aisyah yang tidak dianugerahkan
oleh wanita lainnya. Beliau telah menegaskan sendiri sifat-sifatnya; “Aku
memiliki sembilan sifat yang tidak dimiliki seorangpun wanita sebelumku kecuali
apa yang dianugerahkan Allah kepada maryam binti imran. Demi Allah, aku tidak
mengatakan hal ini karena ingin menyombongkan diri kepada seorangpun dari
rekan-rekanku (istri-istri Rasulullah saw, lainnya).” Abdullah bin Shafawan
bertanya, “wahai umul mukminin, apa sajakah sifat-sifat itu?.” Beliau
menjawab, “Malaikat (jibril) datang dengan membawa gambarku kepada
Rasulullah saw. Rasulullah menikahiku ketika aku baru berusia tujuh tahun. Aku
dihadiahkan kepada Rasulullah ketika aku berusia sembilan tahun. Rasulullah
menikahiku dalam keadan perawan dan tidak ada seorang perempuanpun wanita yang
menyamaiku dalam hal ini. Wahyu datang kepada beliau ketika akud an beliau
berada dalam satu selimut aku termasuk wanita yang beliau cintai. Telah turun
ayat-ayat al-Qur’an mengenaiku ketika umat hampir saja binasa karenanya. Aku
melihat jibril dan tidak ada istri yang lainnya yang melihatnya. Rasulullah
meninggal dirumahku dan tidak ada seorangpun yang disamping malaikat kecuali
aku.” HR. Al Hakim
Kemudian sifat yang kedua Aisyah adalah sifat yang dapat diusahakan
dan diteladani oleh setiap wanita. Yaitu sebagai berikut;
1.
Dermawan
Kebanyakan wanita memiliki sifat kikir dibandingkan pria. Namun
Aisyah memeliki kedermawan yang besar dan dapat terbilang melampaui batas.
Urwah berkata; “Sesungguhnya Aisyah pernah bersedekah dengan
uang tujuh puluh dirham, sedangkan beliau menambal sendiri sisi baju rompinya
yang terkoyak. Semoga Allah meridhoinya.” HR Abu Nu’aim
2.
Tidak Pernah Menggunjing
Kebanyakan wanita sering menggunjing dan membicarakan keburukan
orang lain, namun Aisyah berbeda dengan wanita lain, melainkan beliau sering
membicarakan kebaikan orang lain. Bahkan beliau tidak ingin membicarakan
keburukan Hasan bin Tsabit yang telah memfitnahnya berselingkuh dengan Shafwan.
Urwah menuturkan;
“Aku mencelah Hasan didepan Aisyah karena dia termasuk orang
yang banyak menyebarkan berita bohong tentang dirinya, lalu Aisyah berkata
‘janganlah kamu mencelahnya karena dia dulu selalu membela Rasulullah.’” HR
Al-Bukhari
3.
Tidak Mengharapkan Bantuan Orang Lain Dan Tidak Ingin Menjadi Beban
Bagi Orang Lain
Semeninggalnya Rasulullah Aisyah tidak suka mengharapkan bantuan
orang lain dan tidak ingin sekali-kali menjadi beban bagi orang lain. Walaupun
banyak orang yang memberinya namun ia senantiasa untuk membalasnya. Sangat
berbeda dengan kita yang sering mengharapkan pemberian orang lain. Bahkan tanpa
kita malu kita meminta bantuan dan kadang menjadi beban orang lain. Padahal
diri kita masih mampu tanpa menyusahkan orang lain.
“Telah datang dari Iraq harta rampasan perang berupa tempat
perhiasan. Didalamnya terdapat sebuah permata. Umar berkata kepada para
sahabatnya, ‘Tahukah kamu berapa harga permata ini?’ Mereka menjawab, ‘Tidak’.
Mereka juga tidak tahu cara membaginya. Umar berkata ‘Apakah kalian mengizinkan
jika permata ini aku kirimkan kepada Aisyah demi cinta Rasulullah saw
kepadanya?’ Mereka menjawab ‘Ya,’ Lalu Umar mengirimkannya kepada Aisyah.
Beliau berkata, ‘Apa yang disembahkan Umar kepada sepeninggal Rasulullah saw?
Ya Allah, jangan biarkan aku hidup untuk menerima pemberiannya lagi pada masa
mendatang.’” HR Al Hakim
Aisyah binti Thalhah menuturkan, “Umul Mukminin Aisyah ra. sering
menerima surat dan hadiah dari banyak orang. Surat dan hadiah mereka dititipkan
kepadaku karena hubunganku dekat dengannya. Aku berkata kepadanya, ‘wahai
bibi, ini adalah surat dan hadiah dari si fulan.’ Beliau menjawab ‘jawablah
surat itu dan balaslah pemberiannya. Jika kamu tidak memiliki pakaian, maka aku
akan memberimu.’ Beliau benar-benar memberiku pakaian untuk dikirimkan
sebagai hadiah balasan.” (Al Baihaqi)
4.
Tidak Menyukai Sanjungan Dan Pujian
Kebanyakan
wanita ingin dipuji, bahkan jikalau tidak ada yang memuji ia akan memuji diri
sendiri. Namun Aisyah tidak suka terhadap pujian pada dirinya. Ibnu Malikah
menuturkan;
Suatu hari Ibnu
Abbas memuji Aisyah. “Tidak ada sesuatu pun yang terjadi antara dirimu dan
pertemuan dengan orang-orang yang engkau cintai kecuali terpisahnya ruh dari
jasad. Engkau adalah istri yang paling
dicintai Rasulullah saw., dan beliau tidak mencintai kecuali kebaikan. Kalungmu
telahterjatuh dari malam Al Abwa’ lalu turun ayat Al-Quran mengenai dirimu.
Tidak adda satu pun masjid dari masjid-masjid kaum muslimin melainkan
dikumandangkan didalamnya ayat-ayat yang menegaskan kesucianmu ditengah malam
dan siang hari.” Aisyah berkata ‘Jauhkan aku dari pujianmu itu wahai Ibnu
Abbas. Demi Allah, sungguh aku berharap menjadi orang yang dilupakan orang.’
HR. Ahmad
5.
Tabah Dan Pemberani
Anas bin Malik berkata “aku
melihat Aisyah binti Abu Bakar dan ummu Sulaim menyingsingkan sarungnya
sehingga aku melihat gelang kaki yang melingkar di bawah betis keduanya.
Keduanya memanggul qirbah (bejana berisi air) diatas panggulnya, lalu memberi
minum kepada para pasukan. Setelah itu, keduannya kembali lagi mengisi qirbah
hingga penuh, kemudian memberi minum kepada para pasukan.” HR. Muslim
“Ketika terjadi perang Khandaq,aku keluar menelusuri jejak
orang-orang. Lalu kud engar di belakang suara derap kaki yang menghentak bumi.
Aku pun menoleh, ternyata dia adalah Sa’ad bin Mu’adz dan keponakannya Harits
bin Aus yang membawa perisai. Aku pu bangkit dan masuk kesebuah kebun, ternyata
didalamnya ada sekelompok kaum muslimin, dan ternyata ditengah mereka terdapat
Umar bin khatab. Umar berkata, ‘apa yang membuatmu datang kesini. Demi Allah
engkau adalah seorang wanita yang sangat pemberani.’” HR. Ahmad
6.
Ahli Ibadah
Aisyah ra berkata “Aku tetap melaksanakan sholat (dhuha)
sebagaimana aku melakukannya pada zaman Rasulullah saw. Bahkan, seandainya
ayahku di hidupkan kembali lalu melarangku melakukan sholat itu, aku tetap
tidak akan meninggalkannya.” HR. Ahmad
“Sesungguhnya Aisyah senantiasa berpuasa sepanjang tahun.”
HR. Ibnu Sa’ad
7.
Selalu Belajar
Imam Az Zuhri
berkata “ seandainya ilmu Aisyah disandingkan dengan ilmu seluruh kaum wanita,
niscaya lebih utama ilmu Aisyah.” Ath Thabrani
Itu lah
keutamaan dari Ummul mukminin Aisyah ra. semoga saya dan wanita-wanita lainnya
dapat menteladani sifat-sifat Aisyah ra, dan keunggulannya sehingga menjadi
pelita yang menerangi masa depan dan generasi selanjutnya. Aamiin
Semoga
bermanfaat J


Tidak ada komentar :
Posting Komentar