Selasa, 28 Juni 2016

Metode Dakwah Televisi dan Film

Metode Dakwah Televisi dan Film

Televisi atau media penyiaran, merupakan system penyiaran gambar ysng disertai  dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa yang menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) yang dapat dilihat dan ddapat didengar. Sedangkan film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata social dan media komunikasi massa yang dibuat berasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukan.
Sebagai agama, dakwah Islam harus bisa dihadirkan secara bersahabat oleh para pemeluknya. Sebab, pada gilirannya, upaya penyebaran pesan-pesan keagamaan itu harus marnpu menawarkan satu alternatif dalarn membangun dinamika masa depan umat, dengan rnenempuh cara dan strategi yang lentur, kreatif, dan bijak.
Televisi merupakan salah satu media modern yang dapat digunakan untuk berdakwah pada masa sekarang. Munculnya media televisi dalam kehidupan manusia menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Begitu juga dengan film, ia memiliki berbagai ragam jenis dengan cara pendekatan berbeda-beda. Semua film mempunyai satu sasaran, yaitu menarik perhatian orang terhadap muatan masalah yang dikandung. Pada dasarnya film dapat dikelompokkan ke dalam dua pembagian besar, yaitu kategori film cerita dan non cerita, atau film fiksi dan non fiksi. Sebagai media komunikasi, film dapat memainkan peran dirinya sebagai saluran menarik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu untuk masyarakat. Termasuk pesan-pesan keagamaan yang lazimnya disebut dakwah. Berikut  adalah  pembahasaannya;

A.  Metode Dakwah melalui Televisi dan Film
Televisi sangat penting untuk menjadi media dakwah atau menyalurkan pesan-pesan dakwah. Pada umumnya lembaga penyiaran televisi di Indonesia menyediakan waktu untuk kegiatan dakwah, seperti  adzan  magrib atau  acara-acara khusus pada bulan rahmadan dan hari raya  dan iduladha. Televisi dapat juga bermanfaat sebagai media yang menyajikan dialog-dialog tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh umat islam. Seperti :
1.    Metode Ceramah
Metode dakwah dengan ceramah melalui televisi paling banyak digunakan saat ini. Teknik yang digunakan memang hampir sama dengan jaman dahulu, hanya saja secara teknis mengalami perkembangan dalam proses dakwah dengan metode ceramah, diantaranya :
a.    Teknik Uraian (The Talk)
Dengan kecanggihan teknologi yang ada, da’i menguraikan materi dakwah yang secara langsung mampu disebarluaskan melalui televisi.
b.     Teknik Wawancara (Interview)
Teknik ini dengan mendatangkan narasumber kemudian dilakukan wawancara yang disiarkan secara live. Pada masa kini, mad’u yang jauh dari da’i bisa berpartisipasi melalui telepon interaktif. Biasanya juga diramu dengan acara kuis yang pertanyaannya seputar keislaman. Sehingga hal ini menjadi menarik perhatian pemirsa di rumah.
c.    Teknik Diskusi
Metode dakwah dengan diskusi melalui televisi sering dimaksudkan sebagai pertukaran pikiran (gagasan, pendapat, ide dan sebagainya) antara sejumlah orang yang ditengahi oleh seorang moderator yang menyampaikan materi diskusinya secara lisan yang ditayangkan melalui media televisi untuk membahas suatu permasalahan tertentu yang dilaksanakan secara teratur dan bertujuan untuk memperoleh kebenaran. Pemecahan masalahnya diserahkan kepada panelis dan juga sesekali melibatkan pemirsa televisi penerima dakwah agar ikut memberikan sumbangan pikiran terhadap masalah yang dibahas bersama melalui telepon. Tema-tema yang biasa diangkat dalam metode diskusi ini antara lain tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat muslim, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kesadaran zakat dan lain sebagainya.
d.   Teknik Suara Masyarakat
Dakwah dengan teknik ini merupakan program dakwah yang lebih banyak mengetengahkan pendapat masyarakat tentang suatu masalah, dengan tujuan agar pemirsa juga dapat mengetahui bermacam-macam pendapat dari berbagai orang atau grup sehingga dapat dikonfrontir dengan pendapatnya sendiri. Namun metode ini jarang dilihat karena memerlukan biaya banyak untuk terjun secara langsung kepada masyarakat.
2.    Metode Berita
a.    Berita harian
Berita harian adalah berita yang perlu segera disampaikan kepada masyarakat, yang masih terikat waktu, aktual, dan singkat; yang hal ini bisa berupa the hot news, spot news atau news break.
b.    Berita berkala
Berita tentang dunia ke-Islaman yang disiarkan secara berkala ini bersifat time less (tidak terikat waktu), mempunyai kemungkinan penyajiannya yang lebih lengkap dan mendalam. Sajiannya juga dapat diolah secara lebih artistik. Oleh karena itu, model pemberitaan berkala ini biasanya merupakan karya jurnalistik yang artistik, dengan menggunakan teknik dokumenter, feature dan magazine. Ketiga teknik ini memiliki kemasan dan tata laksana produksi yang spesifik, membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
c.    Metode Infiltrasi
Metode ini yaitu dengan menyusupkan nilai-nilai keislaman dalam program hiburan televisi. Biasanya dapat ditemui dalam sinetron religi pada saat Bulan Ramadhan[1].
 Dakwah dengan media massa dapat dilakuakan melalui berbagai cara atau metode, terutama malalui proses komunikasi persona atau dawah persona, seperti tarbiyah dan ta’lim, Tazkir dan tambih, tablig. Diharapkan media massa tampil sebagai dai atau mubalig yang terlambangkan dalam satu organisasi atau lembaga sosial.
Strategi dakwah atau metode dakwah (thariq) terdapat cara[2] yaitu sebagai berikut:
1.    Metode informatif yaitu metode mempengaruhi dengan cara menyampaikan atau menyeruhkan. Hal ini berarti menyampaikan materi dakwah secara informatif saja, sehingga madu diberi kesempatan menilai, menimbang dan mengambil keputusan atas dasar pemikiran yang sehat. Metode ini difokuskan memberikan keterangan kognitif indiviu dengan cara memberikan keterangan dan menyampaikan berita gembira, agar madu dapat menggunakan akal dan penalarannya.
2.    Metode persuasif yaitu dapat dikatakan dengan istilah megajak, memanggil, atau memohon. Hal ini berarti, agar mad’u pada permulaan dapat menerima isi pesan dakwah yang dilontarkan kepadanya kemudiian dengan perlahan diubah pemikiran dan sikapnya. Ke arah yang dikehendaki. Dalam metode persuasif ada dua macam yaitu :
a.    Persuasif positif adalah seorang dai memulai melontarkan idenya sesuai dengan kepribadian, sikap-sikap dan motif mad’u. Hal ini termasuk upaya memahami dan meneliti pengaruh kelompok terdapat individu yang mnjadi sasaran.
b.     Persuasif negatif adalah yang diapakai dalam propaganda, seperti propaganda politikdan pemasaran komersial. Hal ini tentu tidak sesuai dengan dakwah yang mengajak pada kebaikan serta mencegah pad kemungkaran.
3.    Metode edukatif atau tarbiyah dan ta’lim yaitu yang dilaksaanakan dengan teratur, sistematis dan terencana dengan tujuan mengubah sikap, pendapat dan perilaku mad’u kearah yang diinginkan. Pesan yang disampaikan disini pendapat, fakta dan pengalaman, secara jujur.kemudian mengembangkan suasana pembelajaran yang memungkinkan madu mengembangkan potensinya.
4.    Metode koersif yaitu metode yang berlawanan dengan persuasif karena metode ini mempengaruhi dengan memaksa. Metode ini tidak sepenuhnya digunakan dalam dakwah.
5.    Metode redundancy atau repetition yaitu yang dapat diartiakn sebagai cara mempengaruhi dengan jalan  mengulang-ulang pesan seperti yang dilakukan dalam tayangan iklan dalam radio atau televisi. 

B.  Kelebihan  dan Kekerangan Metode Dakwah Televisi dan Film
1.    Kelebihan
Pesan yang disampaikan melalui televisi dan film lebih efektif disamapaikan dan lebih mudah untuk diterima audience, dan bahkan dapat membertuk karakter penonton. Media dakwah melalui audio visual  yang berbentuk hiburan akan cenderung disukai masyarakat dari pada dakwah melalui ceramah.[3]
Televisi memeiliki daya jangkau yang sangat luas dalam penyebarluaskan pesan secara cepat dengan segala dampaknya dalam kehidupan individu dan masyarakat.
a.         Dakwah melalui televise dirasa masih efektif dan efisien.
b.        Hemat waktu dan tenaga.
c.         Siaran cepat, jangkauan luas dan bias dinikmati semua lapisan masyarakat.
d.        Dakwah melalui media televisi dapat disampaikan kepada masyarakat melalui suara (audio) dan gambar (visual) yang dapat di dengar dan dilihat oleh pemirsa.
e.         Dari segi kalayak (Mad’u), televisi dapat menjangkau jutaan pemirsa di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri, sehingga dakwah lebih efektif dan efisien.
f.         Efek kultural televisi lebih besar dibandingkan media lain, khususnya bagi pembentukan perilaku prososial dan anti sosial anak-anak.
2.    Kekurangan
Dunia pertelevisian Indonesia yang didominasi oleh siaran tv swasta, ternyata lebih banyak menimbulkan efek neative dari pada positifnya. Sebuah generasi baru bernama ‘generasi tv’ telah lahir sebagai anak kandung peradaban audio visual. Generasi baru ini banyak menghabiskan waktunya didepan pesawat tv dan jemari tangannya pandai memainkan remote control untuk memilih acara yang mereka senangi secara zig-zag. Daya ingatnya juga bagus ketika merekam informasi dari beberapa stasiun tv dalam waktu yang relative sama. Orientasi mereka terhadap kebudayaan nenek moyang telah tergantikan oleh budaya populer yang tidak mencerminkan kecerdasan, ketrampilan, dan memiliki identitas kebangsaan.[4]
Kekeurangan dari film dalam berdakwah adalah hambatan geografis karena harus ditonton atau dilihat disebuah  tempat tertentu sehingga  khalayak harus menyediakan waktu sendiri untuk pergi ketempat yang disediakan (bioskop, atau lapangan terbuka). Dan mengenai penokohan atau orang-orang yang diidolakan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur-hamburkan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai-nilai agama, dampaknya kepada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita-citanya dan tentunya pada kualitas bangsa dan negara. Disamping itu problematika dakwah televisi juga menjadikan media ini memiliki kekurangan, seperti:
a.         Komunikasi hanya bersifat satu arah.
b.        Jam tayang kurang dan intensitas tayang yang jarang.
c.         Dijadikan sebagai bisnis media.
d.        Memerlukan keahlian khusus yang tidak semua da’i / mubaligh dapat melakukan dakwah melalui media ini.
e.         Memerlukan banyak waktu.
f.         Untuk film, memerlukan biaya untuk menonton di bioskop. Dan untuk memahaminya harus sampai akhir, terkadang malah kesulitan mencerna makna di balik itu.
g.        Sukar dijangkau oleh masyarakat, karena televisi relatif mahal harganya dibandingkan radio.
h.        Kadang-kadang masyarakat dalam menonton hanya sebagai pelepas lelah (hiburan), sehingga di lain hiburan mereka tidak senang.
i.          Biaya produksi untuk acara-acara di televisi relatif lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan media lainnya, sementara ketertarikan pemasang iklan untuk program-program dakwah juga masih minim.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin,Anwar. 2011. Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi. Yogyakarta; Graha Ilmu
komunika jurnal komunikasi islam. 2011. volume 5 no1 januari-juni
potensi social budaya dalam membangun masyarakat informasi. 2010. jurnal dialog kebijakan public edisi  10 mei th IV.
Sudibyo, Agus. Ekonomi dan Politik Media Penyiaran.  ISAI; Penerbit LKIS
http://fandyiain.blogspot.co.id/2010/05/perkembangan-dakwah-islam-melalui-media.html diakses pada tanggal 17 Desember 2015 pukul 13:20 WIB





[1] http://fandyiain.blogspot.co.id/2010/05/perkembangan-dakwah-islam-melalui-media.html diakses pada tanggal 17 Desember 2015 pukul 13:20 WIB
[2] Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi, (Yogyakarta; Graha Ilmu, 2011), Hlm 154-158
[3] komunika jurnal komunikasi islam (volume 5 no1 januari-juni 2011), hlm 124
[4] potensi social budaya dalam membangun masyarakat informasi, (jurnal dialog kebijakan public edisi  10 mei th IV 2010), hlm 17

Tidak ada komentar :