Metode Dakwah Televisi dan Film
Televisi atau
media penyiaran, merupakan system penyiaran gambar ysng disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau
melalui angkasa yang menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi
(suara) yang dapat dilihat dan ddapat didengar. Sedangkan film adalah karya
seni budaya yang merupakan pranata social dan media komunikasi massa yang
dibuat berasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat
dipertunjukan.
Sebagai agama, dakwah Islam harus bisa dihadirkan secara bersahabat
oleh para pemeluknya. Sebab, pada gilirannya, upaya penyebaran pesan-pesan
keagamaan itu harus marnpu menawarkan satu alternatif dalarn membangun dinamika
masa depan umat, dengan rnenempuh cara dan strategi yang lentur, kreatif, dan
bijak.
Televisi merupakan salah satu media modern yang
dapat digunakan untuk berdakwah pada masa sekarang. Munculnya media televisi
dalam kehidupan manusia menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses
komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Begitu juga dengan film, ia
memiliki berbagai ragam jenis dengan cara pendekatan berbeda-beda. Semua film
mempunyai satu sasaran, yaitu menarik perhatian orang terhadap muatan masalah
yang dikandung. Pada dasarnya film dapat dikelompokkan ke dalam dua pembagian
besar, yaitu kategori film cerita dan non cerita, atau film fiksi dan non
fiksi. Sebagai media komunikasi, film dapat memainkan peran dirinya sebagai
saluran menarik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu untuk masyarakat.
Termasuk pesan-pesan keagamaan yang lazimnya disebut dakwah. Berikut adalah pembahasaannya;
A.
Metode Dakwah melalui Televisi dan Film
Televisi sangat penting untuk menjadi media dakwah atau
menyalurkan pesan-pesan dakwah. Pada umumnya lembaga penyiaran televisi di
Indonesia menyediakan waktu untuk kegiatan dakwah, seperti adzan
magrib atau acara-acara khusus
pada bulan rahmadan dan hari raya dan
iduladha. Televisi dapat juga bermanfaat sebagai media yang menyajikan
dialog-dialog tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh umat islam. Seperti :
1.
Metode Ceramah
Metode
dakwah dengan ceramah melalui televisi paling banyak digunakan saat ini. Teknik
yang digunakan memang hampir sama dengan jaman dahulu, hanya saja secara teknis
mengalami perkembangan dalam proses dakwah dengan metode ceramah, diantaranya :
a.
Teknik Uraian (The Talk)
Dengan
kecanggihan teknologi yang ada, da’i menguraikan materi dakwah yang secara
langsung mampu disebarluaskan melalui televisi.
b.
Teknik Wawancara (Interview)
Teknik
ini dengan mendatangkan narasumber kemudian dilakukan wawancara yang disiarkan
secara live. Pada masa kini, mad’u yang jauh dari da’i bisa berpartisipasi
melalui telepon interaktif. Biasanya juga diramu dengan acara kuis yang
pertanyaannya seputar keislaman. Sehingga hal ini menjadi menarik perhatian
pemirsa di rumah.
c.
Teknik Diskusi
Metode
dakwah dengan diskusi melalui televisi sering dimaksudkan sebagai pertukaran
pikiran (gagasan, pendapat, ide dan sebagainya) antara sejumlah orang yang
ditengahi oleh seorang moderator yang menyampaikan materi diskusinya secara
lisan yang ditayangkan melalui media televisi untuk membahas suatu permasalahan
tertentu yang dilaksanakan secara teratur dan bertujuan untuk memperoleh
kebenaran. Pemecahan masalahnya diserahkan kepada panelis dan juga sesekali melibatkan
pemirsa televisi penerima dakwah agar ikut memberikan sumbangan pikiran
terhadap masalah yang dibahas bersama melalui telepon. Tema-tema yang biasa
diangkat dalam metode diskusi ini antara lain tentang peningkatan kesejahteraan
masyarakat muslim, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kesadaran zakat dan
lain sebagainya.
d.
Teknik Suara Masyarakat
Dakwah dengan teknik ini merupakan program dakwah yang lebih banyak
mengetengahkan pendapat masyarakat tentang suatu masalah, dengan tujuan agar
pemirsa juga dapat mengetahui bermacam-macam pendapat dari berbagai orang atau
grup sehingga dapat dikonfrontir dengan pendapatnya sendiri. Namun metode ini
jarang dilihat karena memerlukan biaya banyak untuk terjun secara langsung
kepada masyarakat.
2.
Metode Berita
a.
Berita harian
Berita harian adalah berita yang perlu segera disampaikan kepada
masyarakat, yang masih terikat waktu, aktual, dan singkat; yang hal ini bisa
berupa the hot news, spot news atau news break.
b.
Berita berkala
Berita tentang dunia ke-Islaman yang disiarkan secara berkala ini
bersifat time less (tidak terikat waktu), mempunyai kemungkinan penyajiannya
yang lebih lengkap dan mendalam. Sajiannya juga dapat diolah secara lebih
artistik. Oleh karena itu, model pemberitaan berkala ini biasanya merupakan karya
jurnalistik yang artistik, dengan menggunakan teknik dokumenter, feature dan
magazine. Ketiga teknik ini memiliki kemasan dan tata laksana produksi yang
spesifik, membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
c.
Metode Infiltrasi
Metode ini yaitu dengan menyusupkan nilai-nilai keislaman dalam
program hiburan televisi. Biasanya dapat ditemui dalam sinetron religi pada
saat Bulan Ramadhan[1].
Dakwah
dengan media massa dapat dilakuakan melalui berbagai cara atau metode, terutama
malalui proses komunikasi persona atau dawah persona, seperti tarbiyah dan
ta’lim, Tazkir dan tambih, tablig. Diharapkan media massa tampil sebagai dai
atau mubalig yang terlambangkan dalam satu organisasi atau lembaga sosial.
Strategi dakwah atau metode dakwah (thariq)
terdapat cara[2]
yaitu sebagai berikut:
1.
Metode informatif yaitu metode mempengaruhi dengan cara
menyampaikan atau menyeruhkan. Hal ini berarti menyampaikan materi dakwah
secara informatif saja, sehingga madu diberi kesempatan menilai, menimbang dan
mengambil keputusan atas dasar pemikiran yang sehat. Metode ini difokuskan
memberikan keterangan kognitif indiviu dengan cara memberikan keterangan dan
menyampaikan berita gembira, agar madu dapat menggunakan akal dan penalarannya.
2.
Metode persuasif yaitu dapat dikatakan dengan istilah
megajak, memanggil, atau memohon. Hal ini berarti, agar mad’u pada permulaan
dapat menerima isi pesan dakwah yang dilontarkan kepadanya kemudiian dengan
perlahan diubah pemikiran dan sikapnya. Ke arah yang dikehendaki. Dalam metode
persuasif ada dua macam yaitu :
a. Persuasif positif adalah seorang dai memulai
melontarkan idenya sesuai dengan kepribadian, sikap-sikap dan motif mad’u. Hal
ini termasuk upaya memahami dan meneliti pengaruh kelompok terdapat individu
yang mnjadi sasaran.
b. Persuasif negatif adalah yang diapakai dalam
propaganda, seperti propaganda politikdan pemasaran komersial. Hal ini tentu
tidak sesuai dengan dakwah yang mengajak pada kebaikan serta mencegah pad
kemungkaran.
3.
Metode edukatif atau tarbiyah dan ta’lim yaitu yang
dilaksaanakan dengan teratur, sistematis dan terencana dengan tujuan mengubah
sikap, pendapat dan perilaku mad’u kearah yang diinginkan. Pesan yang
disampaikan disini pendapat, fakta dan pengalaman, secara jujur.kemudian
mengembangkan suasana pembelajaran yang memungkinkan madu mengembangkan
potensinya.
4.
Metode koersif yaitu metode yang berlawanan dengan
persuasif karena metode ini mempengaruhi dengan memaksa. Metode ini tidak
sepenuhnya digunakan dalam dakwah.
5.
Metode redundancy atau repetition yaitu yang dapat
diartiakn sebagai cara mempengaruhi dengan jalan mengulang-ulang pesan seperti yang dilakukan
dalam tayangan iklan dalam radio atau televisi.
B.
Kelebihan dan Kekerangan
Metode Dakwah Televisi dan Film
1.
Kelebihan
Pesan yang disampaikan melalui
televisi dan film lebih efektif disamapaikan dan lebih mudah untuk diterima
audience, dan bahkan dapat membertuk karakter penonton. Media dakwah melalui
audio visual yang berbentuk hiburan akan
cenderung disukai masyarakat dari pada dakwah melalui ceramah.[3]
Televisi memeiliki daya jangkau yang sangat
luas dalam penyebarluaskan pesan secara cepat dengan segala dampaknya dalam
kehidupan individu dan masyarakat.
a.
Dakwah melalui televise dirasa masih efektif dan efisien.
b.
Hemat waktu dan tenaga.
c.
Siaran cepat, jangkauan luas dan bias dinikmati semua lapisan
masyarakat.
d.
Dakwah melalui media televisi dapat disampaikan kepada masyarakat
melalui suara (audio) dan gambar (visual) yang dapat di dengar dan dilihat oleh
pemirsa.
e.
Dari segi kalayak (Mad’u), televisi dapat menjangkau jutaan pemirsa
di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri, sehingga dakwah lebih efektif
dan efisien.
f.
Efek kultural televisi lebih besar dibandingkan media lain,
khususnya bagi pembentukan perilaku prososial dan anti sosial anak-anak.
2.
Kekurangan
Dunia pertelevisian Indonesia yang
didominasi oleh siaran tv swasta, ternyata lebih banyak menimbulkan
efek neative dari pada positifnya. Sebuah generasi baru bernama ‘generasi tv’
telah lahir sebagai anak kandung peradaban audio visual. Generasi baru ini
banyak menghabiskan waktunya didepan pesawat tv dan jemari tangannya pandai
memainkan remote control untuk memilih acara yang mereka senangi secara
zig-zag. Daya ingatnya juga bagus ketika merekam informasi dari beberapa
stasiun tv dalam waktu yang relative sama. Orientasi mereka terhadap kebudayaan
nenek moyang telah tergantikan oleh budaya populer yang tidak
mencerminkan kecerdasan, ketrampilan, dan memiliki identitas kebangsaan.[4]
Kekeurangan dari film dalam berdakwah adalah hambatan geografis karena
harus ditonton atau dilihat disebuah
tempat tertentu sehingga khalayak
harus menyediakan waktu sendiri untuk pergi ketempat yang disediakan (bioskop,
atau lapangan terbuka). Dan mengenai penokohan atau orang-orang yang diidolakan
adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur-hamburkan
uang (tabdzir)
jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai-nilai agama, dampaknya kepada
generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita-citanya dan
tentunya pada kualitas bangsa dan negara. Disamping itu problematika dakwah
televisi juga menjadikan media ini memiliki kekurangan, seperti:
a.
Komunikasi hanya bersifat satu arah.
b.
Jam tayang kurang dan intensitas tayang yang jarang.
c.
Dijadikan sebagai bisnis media.
d.
Memerlukan keahlian khusus yang tidak semua da’i / mubaligh dapat
melakukan dakwah melalui media ini.
e.
Memerlukan banyak waktu.
f.
Untuk film, memerlukan biaya untuk menonton di bioskop. Dan untuk
memahaminya harus sampai akhir, terkadang malah kesulitan mencerna makna di
balik itu.
g.
Sukar dijangkau oleh masyarakat, karena televisi relatif mahal
harganya dibandingkan radio.
h.
Kadang-kadang masyarakat dalam menonton hanya sebagai pelepas lelah
(hiburan), sehingga di lain hiburan mereka tidak senang.
i.
Biaya produksi untuk acara-acara di televisi relatif lebih mahal
dibandingkan dengan menggunakan media lainnya, sementara ketertarikan pemasang
iklan untuk program-program dakwah juga masih minim.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,Anwar. 2011. Dakwah Kontemporer
Sebuah Studi Komunikasi. Yogyakarta; Graha Ilmu
komunika jurnal komunikasi islam. 2011. volume 5 no1
januari-juni
potensi social budaya dalam membangun masyarakat informasi. 2010. jurnal
dialog kebijakan public edisi 10 mei th
IV.
Sudibyo, Agus. Ekonomi dan Politik Media
Penyiaran. ISAI; Penerbit LKIS
http://fandyiain.blogspot.co.id/2010/05/perkembangan-dakwah-islam-melalui-media.html
diakses pada tanggal 17 Desember 2015 pukul 13:20 WIB
[1] http://fandyiain.blogspot.co.id/2010/05/perkembangan-dakwah-islam-melalui-media.html
diakses pada tanggal 17 Desember 2015 pukul 13:20 WIB
[2] Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi, (Yogyakarta;
Graha Ilmu, 2011), Hlm 154-158
[3]
komunika jurnal komunikasi islam (volume 5 no1 januari-juni 2011), hlm 124
[4]
potensi social budaya dalam membangun masyarakat informasi, (jurnal dialog kebijakan public edisi 10 mei th IV 2010), hlm 17
Tidak ada komentar :
Posting Komentar