Rabu, 10 Agustus 2016

Istri-Istri Rasulullah (Ummahat Al-Mu’minin)


Alangkah beruntung dan mulianya para wanita yang dinikahi Raasulullah. Mereka telah memperoleh kedudukan yang sangat tinggi dan terhormat. Sesungguhnya mereka yang dinikahi Rasul adalah para wanita janda, tua, wanita yang dicerai dan wanita yang tidak mampu. Diantara semua istri Rasul hanya Aisyah yang masih gadis.
Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Jika Rasul hendak berpergian, maka beliau akan mengundi istri-istrinya bagi yang keluar namanya, dialah yang akan pergi menemani beliau. Beliau memberikan jatah sehari semalam untuk masing-masing istrinya”. (HR Tirmidzi)
Dalam lingkup keluarga kecil, kedudukan istri seperti tambatan serta tempat mendapatkan ketenangan dan keintiman. Rasulullah saw bersabdah “Seluruh dunia dan adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah istri yang Salehah”. (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir).[1] Berikut adalah pembahasaannya;

1.    Istri-istri Rasulullah (Ummahat Al-Mu’minin)
Menurut sejarah Rasulullah mempunyai 11 istri, 2 diantaranya diceraikan beliau. Adapun dua istri yang diceraikan karena adanya suatu alasan. Seperti salah satu dari keduanya didatangi seorang wanita yang mengatakan kepadanya “apabila ia mau mendekatimu ­­­­­­­­­­/ menggaulimu, tolaklah”. Dan benar, ia mengikuti perkatan itu dan menolak perintah Rasulullah. Maka seketika itu Rasulullah menceraikannya. Dan istrinya yang dicerakan karena perkataanya yang tidak  terpuji saat Ibrahim, putra Rasulullah s.a.w dari mariyah Qibtiyyah meninggal. Ia berkata, “seandainya benar ia Rasulullah seorang Rasulullah - seorang nabi, tentulah anaknya tidak akan meninggal dunia.” Pada saat itu juga istrinya dijatuhkan talak.[2]
Dari 9 istri beliau ini, 5 diantaranya berasal dari Quraisy. Dan berikut ini adalah istri-istri Rasulullah (Ummahat Al-Mu’minin);
1)   Khadijah binti Khuwailid r.a.
Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah. Dia adalah perempuan kaya raya yang memiliki usaha perdagangan. Di samping terkenal dengan kecantikannya, dia juga terkenal mempunyai kepribadian yang sempurna dengan reputasi baik dan nama yang mashur. [3]
2)   Saudah binti Zam’ah ibn Qais
Saudah termasuk salah satu seorang wanita beriman yang ikut hijrah ke Habasyah. Akibatnya keluarganya marah dan mencampakannya. Suaminya Sarkan ibn Amr meninggal dunia tidak lama setelah Hijrah.  Saudah pun hidup sendirian, melihat keadaan tersebut Rasulullah mencemaskan keselamatan Saudah. Beliau khawatir keluaga Saudah akan bertindak sesuatu kepadanya. Karena Rasulullah mengerti watak dan tabiat keluarga dan kaum Saudah yang paling membenci dan memusuhi Islam.
Akhirnya Rasulullah menikahi Saudah. Alkisah, Saudah menyadari dirinya semakin tua dan ia takut diceraikan Rasulullah. Maka suatu hari ia mengumpulkan istri-istri Rasul dan dan mengatakan kepada mereka bahwa dirinya akan memberikan giliran malamnya kepada Aisyah r.a.
3)   Aisyah binti Abu Bakar r.a.
Abu Bakar termasuk salah satu sahabat yang berjasa dalam perjalanan Dakwah agama Islam. Rasulullah tergerak untuk memberikan penghormatan tersendiri demi mempererat tali persahabatan, maka Rasulullah meminang Aisyah. Pada saat itu Aisyah dinikahi berumur enam tahun dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri pada umur sembilan tahun. Aisyah terkenal sebagai seorang wanita yang cerdas, memiliki daya ingat yang tajam, berwawasan luas, berilmu tinggi sangat luas luhur budi pekertinya. Dan Aisyah adalah satu-satunya wanita yang dinikahi Rassulullah yang memiliki status perawan.
4)   Hafshah binti Umar ibn Khathab
Hafshah adalah istri Khunais ibn Hudzafah as-Sahmi, salah seorang sahabat yang termasuk golongan shahibul hijrataini atau orang yang berhijrah kedua tempat Habasyah dan Madinah. Pada saat bertempur di perang Uhud, ia meninggal. Kemudian Rasulullah menikahi Hafshah dengan tujuan beliau ingin menghibur dan mengobati kedukaan Hafsyah yang sangat mendalam ditinggal oleh suaminya. Salain itu juga memberikan semangat kepada Umar r.a yang sempat gundah manakalah kesedihan putrinya.
Dalam suatu riwayat menuturkan Rasulullah pernah menjatuhkan talak kepada Hafshah kemudian Rasulullah merujuknya karena setelah menceraikan Hafshah Rasul didatangi malaikat Jibril dan berkata “Rujuklah Hafsyah karena ia adalah perempuan yang banyak menahan dan memelihara diri dan ia merupakan istrimu kelak disurga”.[4]
5)   Zainab binti Khuzaimah
Dia berasal dari Bani Bilal bin Amir bin Sha’sha’ah yang dijuluki umul Masakin (Ibunda orang-orang miskin), karena kasih sayang dan kemurahan hatinya terhadap mereka. Sebelum itu dia adalah Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada perang uhud, lalu dinikahi rasulullah pada tahun 4H.[5]
Dalam suatu riwayat menyebutkan bahwa ketika Rassul menikahi Zainab, beliau menyembelih unta dan kambing untuk pesta pernikahan mereka. Pada saat itu, beliau mengundang orang-orang miskin dalam jumlah cukup banyakdan menyuguhkan makanan tersebut pada mereka. Namun dia meninggal setelah tiga bulan setelah menikah.
6)   Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah
Suami dari Ummu Salamah Hindun adalah Abu Salamah, suaminya meninggal pada perang Uhud dengan luka yang cukup parah. Kemudian Rasul menghibur dan mengobati dukanya dengan bergabung dengan istri-istri Beliau, sebelum akhirnya menikahinya.
Dalam suatu riwayat setelah masa iddah Ummu Salamah selesai, Rasul memingangnya dan Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah, sepertinya diriku ini tidak pantas untuk membuatmu tertarik dan menintaiku. Aku adalah seorang wanita pencemburu, sehingga aku takut dirimu akan melihat sesuatu dariku yang hanya akan menimbulkan azab Allah atasku. Selain itu, aku juga seorang perempuan yang sudah tua, dan telah memiliki keluarga memiliki anak”. Rasulullah pun menjawab “Rasa cemburu yang engkau sebutkan akan dihilangkan oleh Allah. Sedangkan masalah usia, apa yang telah engkau alami juga pernah aku alami. Tentang keluargamu, mereka juga keluargaku”.
7)   Zainab binti Jahsy bin Rayyab
Dia berasl dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri dari bibi Rasulullah sendiri. Sebelumnya ia adalah Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Lalu Allah menurunkan ayat Al-Quran yang tertuju langsung kepada beliau yang artinya “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikan), kami kawinkan kamu dengan dia”. (Al-Ahzab: 7).
8)   Juwairiyah binti al-Harits
Rasulullah ingin memuliakan kaum wanita yang menjadi tawanan perang, menyamakan derajat mereka dengan derajat wanita-wanita yang merdeka, dan memberikan contoh nyata dari sifat kasih sayang Islam. Maka beliau mengikis berbagai sikap dan tindakan yang selama ini melecehkan kehormatan wanita, menjadikan mereka sebagai barang yang diperjual belikan saja dan membebani mereka dengan tebusan mahal hanya demi kebebasan dirinya.
9)   Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan
Sebelumnya dia adalah istri Ubaidillah bin Jahsy. Bersama suaminya dia hijrah ke Habasyahh. Namun disana Ubaidilah murtad dan masuk agama Nasrani dan juga meninggal disana. Sekalipun suaminya murtad namun ia tidak mengikuti suaminya, melaikan ia tetap teguh dengan keIslamannya. Raulullah mengutus Amr bin Umayyah Adh-Dhamri untuk menyerahkan surat beliau kepada Raja Najasyi pada bulan Muharram 7H, beliau juga menyampaikan lamaran kepadanya.

2.    Hikamh Poligami
Rasulullah semata-mata menikahi wanita bukan karena harta ataupun kecantikannya melainkan alasan tertentu, yaitu sebagai berikut :
a)    Menyambung silahturahmi dengan keluarga siPerempuan.
b)   Untuk menghapus tradisi Jahiliyah.
c)    Sarana Dakwah.
d)   Menghormati kedudukan wanita dan mengajarkan dan mendidik mereka yang Islami.







DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mahdi Rizqullah. 2005. Biografi Rasulullah : sebuah studi analitis berdasarkan sumber-sumber yang otentik. Jakarta : Qisthi Press.
Ali Quthb Muhammad. 2010. 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah Saw. Bandung : Mizan.
Rahman Syaikh Shafiyyur. 2008. Sirah Nabawiyah. Jakarta :Al Kautsar.
Malik Abdul. 2008. Mengintip Keseharian Rasulullah. Jakarta: Nahkala Pustaka.




[1] Abdul Malik, Mengintip Keseharian Rasulullah, (Jakarta: Nahkala Pustaka, 2008), hlm 59
[2]Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah : sebuah studi analitis berdasarkan sumber-sumber yang otentik, (Jakarta : Qisthi Press, 2005), Hlm 870
[3] Muhammad Ali Quthb, 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah Saw, (Bandung : Mizan, 2010), hlm 39
[4] Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah : sebuah studi analitis berdasarkan sumber-sumber yang otentik, (Jakarta : Qisthi Press, 2005), Hlm 871-874
[5] Syaikh Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, (Jakarta :Al Kautsar, 2008), hlm 564

Tidak ada komentar :