Alangkah
beruntung dan mulianya para wanita yang dinikahi Raasulullah. Mereka telah
memperoleh kedudukan yang sangat tinggi dan terhormat. Sesungguhnya mereka yang
dinikahi Rasul adalah para wanita janda, tua, wanita yang dicerai dan wanita
yang tidak mampu. Diantara semua istri Rasul hanya Aisyah yang masih gadis.
Diriwayatkan
dari Aisyah, dia berkata, “Jika Rasul hendak berpergian, maka beliau akan
mengundi istri-istrinya bagi yang keluar namanya, dialah yang akan pergi
menemani beliau. Beliau memberikan jatah sehari semalam untuk masing-masing
istrinya”. (HR Tirmidzi)
Dalam lingkup
keluarga kecil, kedudukan istri seperti tambatan serta tempat mendapatkan
ketenangan dan keintiman. Rasulullah saw bersabdah “Seluruh dunia dan adalah
perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah istri yang Salehah”. (Shahih
al-Jami’ ash-Shaghir).[1]
Berikut adalah pembahasaannya;
1.
Istri-istri Rasulullah (Ummahat Al-Mu’minin)
Menurut sejarah Rasulullah mempunyai 11 istri, 2 diantaranya
diceraikan beliau. Adapun dua istri yang diceraikan karena adanya suatu alasan.
Seperti salah satu dari keduanya didatangi seorang wanita yang mengatakan
kepadanya “apabila ia mau mendekatimu / menggaulimu, tolaklah”. Dan
benar, ia mengikuti perkatan itu dan menolak perintah Rasulullah. Maka seketika
itu Rasulullah menceraikannya. Dan istrinya yang dicerakan karena perkataanya
yang tidak terpuji saat Ibrahim, putra
Rasulullah s.a.w dari mariyah Qibtiyyah meninggal. Ia berkata, “seandainya
benar ia Rasulullah seorang Rasulullah - seorang nabi, tentulah anaknya tidak
akan meninggal dunia.” Pada saat itu juga istrinya dijatuhkan talak.[2]
Dari 9 istri beliau ini, 5 diantaranya berasal dari Quraisy. Dan
berikut ini adalah istri-istri Rasulullah (Ummahat Al-Mu’minin);
1)
Khadijah
binti Khuwailid r.a.
Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang dinikahi
Rasulullah. Dia adalah perempuan kaya raya yang memiliki usaha perdagangan. Di
samping terkenal dengan kecantikannya, dia juga terkenal mempunyai kepribadian
yang sempurna dengan reputasi baik dan nama yang mashur. [3]
2)
Saudah
binti Zam’ah ibn Qais
Saudah termasuk salah satu seorang wanita beriman yang ikut hijrah
ke Habasyah. Akibatnya keluarganya marah dan mencampakannya. Suaminya Sarkan
ibn Amr meninggal dunia tidak lama setelah Hijrah. Saudah pun hidup sendirian, melihat keadaan
tersebut Rasulullah mencemaskan keselamatan Saudah. Beliau khawatir keluaga
Saudah akan bertindak sesuatu kepadanya. Karena Rasulullah mengerti watak dan
tabiat keluarga dan kaum Saudah yang paling membenci dan memusuhi Islam.
Akhirnya Rasulullah menikahi Saudah. Alkisah, Saudah menyadari
dirinya semakin tua dan ia takut diceraikan Rasulullah. Maka suatu hari ia
mengumpulkan istri-istri Rasul dan dan mengatakan kepada mereka bahwa dirinya
akan memberikan giliran malamnya kepada Aisyah r.a.
3)
Aisyah
binti Abu Bakar r.a.
Abu Bakar termasuk salah satu sahabat yang berjasa dalam perjalanan
Dakwah agama Islam. Rasulullah tergerak untuk memberikan penghormatan
tersendiri demi mempererat tali persahabatan, maka Rasulullah meminang Aisyah.
Pada saat itu Aisyah dinikahi berumur enam tahun dan menjalankan kewajibannya
sebagai seorang istri pada umur sembilan tahun. Aisyah terkenal sebagai seorang
wanita yang cerdas, memiliki daya ingat yang tajam, berwawasan luas, berilmu
tinggi sangat luas luhur budi pekertinya. Dan Aisyah adalah satu-satunya wanita
yang dinikahi Rassulullah yang memiliki status perawan.
4)
Hafshah
binti Umar ibn Khathab
Hafshah adalah istri Khunais ibn Hudzafah as-Sahmi, salah seorang
sahabat yang termasuk golongan shahibul hijrataini atau orang yang berhijrah
kedua tempat Habasyah dan Madinah. Pada saat bertempur di perang Uhud, ia
meninggal. Kemudian Rasulullah menikahi Hafshah dengan tujuan beliau ingin
menghibur dan mengobati kedukaan Hafsyah yang sangat mendalam ditinggal oleh
suaminya. Salain itu juga memberikan semangat kepada Umar r.a yang sempat
gundah manakalah kesedihan putrinya.
Dalam suatu riwayat menuturkan Rasulullah pernah menjatuhkan talak
kepada Hafshah kemudian Rasulullah merujuknya karena setelah menceraikan
Hafshah Rasul didatangi malaikat Jibril dan berkata “Rujuklah Hafsyah karena ia
adalah perempuan yang banyak menahan dan memelihara diri dan ia merupakan
istrimu kelak disurga”.[4]
5)
Zainab
binti Khuzaimah
Dia berasal dari Bani Bilal bin Amir bin Sha’sha’ah yang dijuluki
umul Masakin (Ibunda orang-orang miskin), karena kasih sayang dan kemurahan
hatinya terhadap mereka. Sebelum itu dia adalah Abdullah bin Jahsy, yang mati
syahid pada perang uhud, lalu dinikahi rasulullah pada tahun 4H.[5]
Dalam suatu riwayat menyebutkan bahwa ketika Rassul menikahi
Zainab, beliau menyembelih unta dan kambing untuk pesta pernikahan mereka. Pada
saat itu, beliau mengundang orang-orang miskin dalam jumlah cukup banyakdan menyuguhkan
makanan tersebut pada mereka. Namun dia meninggal setelah tiga bulan setelah
menikah.
6)
Ummu
Salamah Hindun binti Abu Umayyah
Suami dari Ummu
Salamah Hindun adalah Abu Salamah, suaminya meninggal pada perang Uhud dengan
luka yang cukup parah. Kemudian Rasul menghibur dan mengobati dukanya dengan
bergabung dengan istri-istri Beliau, sebelum akhirnya menikahinya.
Dalam suatu
riwayat setelah masa iddah Ummu Salamah selesai, Rasul memingangnya dan Ummu
Salamah berkata “Wahai Rasulullah, sepertinya diriku ini tidak pantas untuk
membuatmu tertarik dan menintaiku. Aku adalah seorang wanita pencemburu,
sehingga aku takut dirimu akan melihat sesuatu dariku yang hanya akan
menimbulkan azab Allah atasku. Selain itu, aku juga seorang perempuan yang
sudah tua, dan telah memiliki keluarga memiliki anak”. Rasulullah pun menjawab
“Rasa cemburu yang engkau sebutkan akan dihilangkan oleh Allah. Sedangkan
masalah usia, apa yang telah engkau alami juga pernah aku alami. Tentang
keluargamu, mereka juga keluargaku”.
7)
Zainab
binti Jahsy bin Rayyab
Dia berasl dari
Bani Asad bin Khuzaimah dan putri dari bibi Rasulullah sendiri. Sebelumnya ia
adalah Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Lalu
Allah menurunkan ayat Al-Quran yang tertuju langsung kepada beliau yang artinya
“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya
(menceraikan), kami kawinkan kamu dengan dia”. (Al-Ahzab: 7).
8)
Juwairiyah
binti al-Harits
Rasulullah ingin memuliakan kaum wanita yang menjadi tawanan
perang, menyamakan derajat mereka dengan derajat wanita-wanita yang merdeka,
dan memberikan contoh nyata dari sifat kasih sayang Islam. Maka beliau mengikis
berbagai sikap dan tindakan yang selama ini melecehkan kehormatan wanita,
menjadikan mereka sebagai barang yang diperjual belikan saja dan membebani
mereka dengan tebusan mahal hanya demi kebebasan dirinya.
9)
Ummu
Habibah Ramlah binti Abu Sufyan
Sebelumnya dia adalah istri Ubaidillah bin Jahsy. Bersama suaminya
dia hijrah ke Habasyahh. Namun disana Ubaidilah murtad dan masuk agama Nasrani
dan juga meninggal disana. Sekalipun suaminya murtad namun ia tidak mengikuti
suaminya, melaikan ia tetap teguh dengan keIslamannya. Raulullah mengutus Amr
bin Umayyah Adh-Dhamri untuk menyerahkan surat beliau kepada Raja Najasyi pada
bulan Muharram 7H, beliau juga menyampaikan lamaran kepadanya.
2.
Hikamh Poligami
Rasulullah semata-mata menikahi
wanita bukan karena harta ataupun kecantikannya melainkan alasan tertentu,
yaitu sebagai berikut :
a)
Menyambung
silahturahmi dengan keluarga siPerempuan.
b)
Untuk
menghapus tradisi Jahiliyah.
c)
Sarana
Dakwah.
d)
Menghormati
kedudukan wanita dan mengajarkan dan mendidik mereka yang Islami.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mahdi Rizqullah. 2005. Biografi Rasulullah : sebuah studi
analitis berdasarkan sumber-sumber yang otentik. Jakarta : Qisthi Press.
Ali Quthb
Muhammad. 2010. 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah Saw. Bandung :
Mizan.
Rahman Syaikh
Shafiyyur. 2008. Sirah Nabawiyah. Jakarta :Al Kautsar.
Malik Abdul.
2008. Mengintip Keseharian Rasulullah. Jakarta: Nahkala Pustaka.
[1] Abdul Malik, Mengintip
Keseharian Rasulullah, (Jakarta: Nahkala Pustaka, 2008), hlm 59
[2]Mahdi Rizqullah
Ahmad, Biografi Rasulullah : sebuah studi analitis berdasarkan sumber-sumber
yang otentik, (Jakarta : Qisthi Press, 2005), Hlm 870
[3] Muhammad Ali
Quthb, 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah Saw, (Bandung : Mizan,
2010), hlm 39
[4] Mahdi
Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah : sebuah studi analitis berdasarkan
sumber-sumber yang otentik, (Jakarta : Qisthi Press, 2005), Hlm 871-874
[5] Syaikh
Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, (Jakarta :Al Kautsar, 2008), hlm 564
Tidak ada komentar :
Posting Komentar