Hal dalam Tasawuf
Hal adalah keadaan- keadaan spiritual tertentu berupa perasaan
kedekatan dengan Allah Swt. ini adalah anugerah dan karunia Allah kepada hati
para penempuh jalan spiritual.[1]
Bentuk jamak dari hal yaitu ahwal yang
biasanya diartikan sebagai keadaan mental yang dialami oleh para sufi di sela-
sela perjalanan spirtualnya.
Macam –macam ahwal:
a.
Khauf
Khauf menurut ahli sufi berarti sikap mental merasa takut kepada
Allah karena khawatif kurangnya pengabdian. Perasaan khauf ini timbul karena
takut kepada siksa Allah, karena pengenalan dan kecintaan kepada Allah begitu
mendalam, sehingga ada rasakhwatir kalau- kalau Allah melupakannya. Menurut
Imam Ghazali, Khauf dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1)
Khauf
karena khawatir kehilangan nikmat, ini mendorong manusia untuk selalu
memelihara dan menempatkan nikmat pada tempatnya.
2)
Khauf
kepada siksaan sebagai akibat dari perbuatan kemaksiatan, ini mendorong manusia
untuk menjauh dari apa yang dilarang dan melaksanakan apa yang diperintah.
Dalam pandangan
Al- Sarraj, Khauf senantiasa bergandengan dengan cinta (mahabah). Keduanya
saling berhubungan karena masih dalam bingkai qurb (kedekatan). Qurb
membutuhkan dua kondisi. Pertama, dalam hati manusia yang dominan adalah rasa
takutnya. Kedua, adalah rasa cintanya. Hal itu terjadi karena Allah memberikan
kepada hati sebuah kepercayaan.
b.
Raja’
Raja’ berarti suatu sikap mental yang optimis dalam memperoleh
karunia dan rahmat Ilahi yang disediakan bagi hamba- hambaNya yang saleh,
karena ia yakin bahwa Allah Maha Pengasih, Penyayang, dan Maha Pengampun.
Jiwanya penuh pengharapan akan mendapat ampun, merasa lapand dada, penuh gairah
menanti rahmat dan kasih sayang Allah.
Ibn Qudamah al- Muqaddasi mengatakan bahwa raja’ ialah rasa lapang
dada karena menantikan yang diharapkan, yaitu hal yang mungkin terjadi. Tetapi
jika yang diharapkan itu mustahil terjadi, maka ini dinamakan tamanni (ilusi).
Raja mendorong manusia untuk senantiasa berbuat baik dan beramal saleh demi
mengharap rahmat dan karunia Allah.
c.
Syauq
Syauq adalah kerinduan, karena setiap orang yang cinta kepada
sesuatu tentu ia merindukannya. Kesempurnaan rasa rindu adalah dengan ru’yah
(melihat)dan liqa’ (bertemu) yang dirindukan, dan yang demikian akan dapat pada
hari akhir nanti.
Dengan demikian, syauq adalah rasa rindu yang memancar dari kalbu
karena gelora cinta sejati. Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap
Allah akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang yang bergairah
melahirkan cinta dan akan timbul rasa rindu. Rindu ingi bertemu, dan hasrat
yang selalu bergelora. Setiap denyut jantung, detak kalbu, ingatannya hanya
kepada Allah. Perasaan Syauq menjadi motor pendorong orang sufi untuk selalu
ada sedekat mungkin dengan Allah, yang menjadi sumber segla kenikmatan dan
keindahan yang didambakan.
d.
Uns
Dalam tasawuf ‘Uns berarti keakraban atau keintiman. Perasaan Uns
merupakan kondisi kejiwaan, dimana seseorang merasakan kedekatan dengan Tuhan.
Menurut Abu Sa’id Al- Kharraj ‘Uns adalah perbincangan roh denganSang Kekasih
pada kondisi yang sangat dekat. Zunnun memandang ‘Uns sebagai perasaan lega
yang melekat pada sang pencipta terhadap kekasihnya.
Dalam pandangan sufi , sifat ‘Uns (intim) adalah sifat
merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Orang- orang yang merasakan
‘Uns terbagi atas tiga tingkatan:
1)
Mereka
yang merasaintim dengan zikir dan jauh dari kelalaian, merasa intim dengan
sebab ketaatan dan jauh dari dosa.
2)
Ketika
hamba sudah sedemikian intim bersama Allah dan jauh dari apapun selain- Nya,
yakni pengingkaran- pengingkaran dan bisikan- bisikan yang menyibukkannya.
3)
Hilangnya
pandangan tentang ‘Uns karena ada rasa segan, kedekatan, dan keagungan bersama
‘Uns itu sendiri. Maksudnya sang hamba sudah ridak melihat ‘Uns itu sendiri.
e.
Mahabah
Mahabah berasal dari kata hibbah, yang berarti benih yang jatuh ke
bumi, karena cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih menjadi sumber
tanaman. Dalam perspektif tasawuf, mahabah bisa ditelusuri maknanya menurut
pandangan para sufi.
Menurut Al- Junaid, cinta adalahkecenderungan hati kepada Tuhan dan
apa- apa yang berhubungan dengan- Nya tanpa usaha. Cinta, menurut pemuka sufi
lain, adalah mengabdikan diri kepada yang dicintainya. Ali al-Kattani juga
memandang cinta sebagai menyukai kepada apa yang disenanginya dan apa- apayang
datang dari yang dikasihinya.
f.
Yaqin
Yaqin adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang
kebenaran pengetahuan yang ia miliki, karena ia sendiri menyaksikannya dengan
segenap jiwa. menurut sebagian orang sufi, yaqin adalah suatu pengetahuan yang
diletakkan ke dalam hati seseorang.
Abu Bakar Tharir mengatakan, “ Yaqin adalah ilmu yang memiliki
kepastian tanpa keraguan.” Berdasarkan pengertian ini maka yaqin adalah
pengetahuan yang didapat dengan perantaraan usaha. Sebagai ilmu pengetahuan,
tasawuf bagi orang muntani didapatnya perantaraan belajar. Namun bagi orang
muntani, ilmu itu hanya didapat melalui limpahan karunia Allah Swt.
Keyakinan adalah pondasi dan bagian akhir serta pangkalan terakhir
dari seluruh ahwal. Dengan kata lain seluruh ahwal terletak pada keyakinan yang
tampak. Puncak dari keyakinan ini diisyaratkan Allah dalam firman- Nya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar