Sabtu, 16 Juli 2016

Hal dalam Tasawuf

Hal dalam Tasawuf

Hal adalah keadaan- keadaan spiritual tertentu berupa perasaan kedekatan dengan Allah Swt. ini adalah anugerah dan karunia Allah kepada hati para penempuh jalan spiritual.[1] Bentuk jamak  dari hal yaitu ahwal yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental yang dialami oleh para sufi di sela- sela perjalanan spirtualnya.
Macam –macam ahwal:
a.    Khauf
Khauf menurut ahli sufi berarti sikap mental merasa takut kepada Allah karena khawatif kurangnya pengabdian. Perasaan khauf ini timbul karena takut kepada siksa Allah, karena pengenalan dan kecintaan kepada Allah begitu mendalam, sehingga ada rasakhwatir kalau- kalau Allah melupakannya. Menurut Imam Ghazali, Khauf dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1)   Khauf karena khawatir kehilangan nikmat, ini mendorong manusia untuk selalu memelihara dan menempatkan nikmat pada tempatnya.
2)   Khauf kepada siksaan sebagai akibat dari perbuatan kemaksiatan, ini mendorong manusia untuk menjauh dari apa yang dilarang dan melaksanakan apa yang diperintah.
Dalam pandangan Al- Sarraj, Khauf senantiasa bergandengan dengan cinta (mahabah). Keduanya saling berhubungan karena masih dalam bingkai qurb (kedekatan). Qurb membutuhkan dua kondisi. Pertama, dalam hati manusia yang dominan adalah rasa takutnya. Kedua, adalah rasa cintanya. Hal itu terjadi karena Allah memberikan kepada hati sebuah kepercayaan.
b.    Raja’
Raja’ berarti suatu sikap mental yang optimis dalam memperoleh karunia dan rahmat Ilahi yang disediakan bagi hamba- hambaNya yang saleh, karena ia yakin bahwa Allah Maha Pengasih, Penyayang, dan Maha Pengampun. Jiwanya penuh pengharapan akan mendapat ampun, merasa lapand dada, penuh gairah menanti rahmat dan kasih sayang Allah.
Ibn Qudamah al- Muqaddasi mengatakan bahwa raja’ ialah rasa lapang dada karena menantikan yang diharapkan, yaitu hal yang mungkin terjadi. Tetapi jika yang diharapkan itu mustahil terjadi, maka ini dinamakan tamanni (ilusi). Raja mendorong manusia untuk senantiasa berbuat baik dan beramal saleh demi mengharap rahmat dan karunia Allah.
c.    Syauq
Syauq adalah kerinduan, karena setiap orang yang cinta kepada sesuatu tentu ia merindukannya. Kesempurnaan rasa rindu adalah dengan ru’yah (melihat)dan liqa’ (bertemu) yang dirindukan, dan yang demikian akan dapat pada hari akhir nanti.
Dengan demikian, syauq adalah rasa rindu yang memancar dari kalbu karena gelora cinta sejati. Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap Allah akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang yang bergairah melahirkan cinta dan akan timbul rasa rindu. Rindu ingi bertemu, dan hasrat yang selalu bergelora. Setiap denyut jantung, detak kalbu, ingatannya hanya kepada Allah. Perasaan Syauq menjadi motor pendorong orang sufi untuk selalu ada sedekat mungkin dengan Allah, yang menjadi sumber segla kenikmatan dan keindahan yang didambakan.
d.   Uns
Dalam tasawuf ‘Uns berarti keakraban atau keintiman. Perasaan Uns merupakan kondisi kejiwaan, dimana seseorang merasakan kedekatan dengan Tuhan. Menurut Abu Sa’id Al- Kharraj ‘Uns adalah perbincangan roh denganSang Kekasih pada kondisi yang sangat dekat. Zunnun memandang ‘Uns sebagai perasaan lega yang melekat pada sang pencipta terhadap kekasihnya.
          Dalam pandangan sufi , sifat ‘Uns (intim) adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Orang- orang yang merasakan ‘Uns terbagi atas tiga tingkatan:
1)   Mereka yang merasaintim dengan zikir dan jauh dari kelalaian, merasa intim dengan sebab ketaatan dan jauh dari dosa.
2)   Ketika hamba sudah sedemikian intim bersama Allah dan jauh dari apapun selain- Nya, yakni pengingkaran- pengingkaran dan bisikan- bisikan yang menyibukkannya.
3)   Hilangnya pandangan tentang ‘Uns karena ada rasa segan, kedekatan, dan keagungan bersama ‘Uns itu sendiri. Maksudnya sang hamba sudah ridak melihat ‘Uns itu sendiri.
e.    Mahabah
Mahabah berasal dari kata hibbah, yang berarti benih yang jatuh ke bumi, karena cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih menjadi sumber tanaman. Dalam perspektif tasawuf, mahabah bisa ditelusuri maknanya menurut pandangan para sufi.
Menurut Al- Junaid, cinta adalahkecenderungan hati kepada Tuhan dan apa- apa yang berhubungan dengan- Nya tanpa usaha. Cinta, menurut pemuka sufi lain, adalah mengabdikan diri kepada yang dicintainya. Ali al-Kattani juga memandang cinta sebagai menyukai kepada apa yang disenanginya dan apa- apayang datang dari yang dikasihinya.
f.     Yaqin
Yaqin adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang kebenaran pengetahuan yang ia miliki, karena ia sendiri menyaksikannya dengan segenap jiwa. menurut sebagian orang sufi, yaqin adalah suatu pengetahuan yang diletakkan ke dalam hati seseorang.
Abu Bakar Tharir mengatakan, “ Yaqin adalah ilmu yang memiliki kepastian tanpa keraguan.” Berdasarkan pengertian ini maka yaqin adalah pengetahuan yang didapat dengan perantaraan usaha. Sebagai ilmu pengetahuan, tasawuf bagi orang muntani didapatnya perantaraan belajar. Namun bagi orang muntani, ilmu itu hanya didapat melalui limpahan karunia Allah Swt.
Keyakinan adalah pondasi dan bagian akhir serta pangkalan terakhir dari seluruh ahwal. Dengan kata lain seluruh ahwal terletak pada keyakinan yang tampak. Puncak dari keyakinan ini diisyaratkan Allah dalam firman- Nya.





[1] Haidar Bagir, Kamus Ilmu Tasawuf, (Bandung ; PT.Mizan Pustaka,2005), hlm 11

Tidak ada komentar :