Selasa, 05 Juli 2016

Sejarah Ilmu Akhlak

Sejarah Ilmu Akhlak

Akhlak sudah ada sejak zaman nabi Adam as.sejak manusia lahir sudah mempunyai akhlak, namun tidak terlalu kelihatan, akhlak mulai terlihat bila manusia sudah melakukan sesuatu. Ilmu akhlak adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik buruk, apa yang seharusnya dilakukan, tentang tujuan yang ingin dicapai di jalan- jalan yang harus ditempuh guna mencapai kebahagiaan hidup.
Kedudukan Akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir dan batinnya, apabila akhlaknya rusak maka rusaklah lahir dan batinnya.
Akhlak merupakan komponen penting dalam hidup, sehingga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Akhlak merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. sebab manusia tanpa akhlak, kehilangan derajatnya sebagai manusia yang merupakan hamba Allah paling mulia.
Namun permaslannya, sejak kapan muncul pembicaraan tentang akhlak? Bagaimana perkembangannya sampai masa modern ini? Dalam makalah ini akan mengulas tentang sejarah perkembangan ilmu akhlak.berikut  adalaah  pembahsannya;
1.    Pengertian Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak
Sejarah adalah peristiwa yang benar- benar terjadi pada masa lampau. Perkembangan yaitu pertumbuhan sepanjang waktu. Ilmu adalah pengetahuan mengenai suatu bidang yang disusun secara sistematis. Sedangkan akhlak yaitu budi pekerti, tingkah laku.
Sejarah pertumbuhan akhlak yaitu suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode  yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.
Sejarah ilmu akhlak adalah sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk antara terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang. Sejarah ilmu akhlak adalah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa.[1]
2.    Ilmu Akhlak di Luar Islam
Ilmu akhlak diluar islam adalah pengetahuan-pengetahuan tentang akhlak yang tidak didasarkan pada Al Quran dan Al Hadist. Ada beberapa akhlak diluar islam yaitu:
a.    Akhlak Bangsa Yunani
Pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak pada bangsa yunani terjadi setelah munculnya apa yang disebut shopisticians yaitu orang-orang yang bijaksana (500-450 M). Sedangkan sebelum itu dikalangan bangsa yunani tidak dijumpai pembicaraan mengenai akhlak, sebab pada saat itu perhatian mereka tercurah pada penyelidikannya mengenai alam.
Dasar yang digunakan para pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak ialah pemikiran filsafat tentang manusia atau pemikiran tentang manusia. Ilmu akhlak yang mereka bangun lebih bersifat filosofis. Pikiran dan pendapat para ilmuan berbeda- beda, namun tujuan mereka adalah satu yaitu menyiapkan angkatan muda yunani agar menjadi nasionalis yang baik lagi merdeka dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya. Pandangan dari kewajiban-kewajiban ini menimbulkan pandangan mengenai pokok-pokok akhlak, dan diikuti oleh kecaman-kecaman mengenai sebagian adat lama dan pelajaran-pelajaran yang dilakukan oleh orang-orang dahulu
Adapun tokoh-tokoh filsuf yunani yang tercatat sebagai pelopor pertama kali pemikiran di buidang akhlak yaitu:
a)    Socrates (469-399 S.M)
Socarates dipandang sebagai perintis ilmu akhlak, karena ialah yang pertama kali yang bersungguh-sungguh membentuk pola hubungan antar manusia dengan dasar ilmu pengetahuan.
Socrates menyelidiki kejadian alam dan benda-benda langit karena menurutnya kurang beguna. Ia menyelidiki perbuatan yang mengenai kehidupan. dia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk hubungan itu, tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan kepada ilmu pengetahuan.[2]
b)   Cynics (444-370 S.M)
 Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala keburuhan dan sebaik-baik manusia adalah orang yang berperanagai ketuhanan.
c)    Cyrenics
Golongan ini dibangun oleh Aristippus. Mereka berpendapat bahwa mencari kelezatan dan menjauhi kepedihan merupakan satu-satunya tujuan hidup yang benar serta perbuatan yang utama adalah perbuatan yang tingkat dan kadar kelezatannya lebih besar dari pada kepedihannya.
d)   Plato (427-347 S.M)
Pandangannya sisalam akhlak berdasarkan “teori contoh”. Jelasnya dia berpendapat bahwa dibelakang alam lahir ini tedapat alam lain yaitu alam rohani. Dia juga berpendapat bahwa di dalam di dalam jiwa adda kekuatan bermacam-macam dan keutamaan itu timbul dari perimbangan kekuatan itu, dan tunduknya kepada hukum akal. Menurutnya pokok-pokok keutamaan itu ada empat, yakni:
·      Hikmah kebijaksanaan,
·      Keberanian,
·      Keperwiraan,
·      Keadilan.
e)    Aristoteles (394-322 SM)
Dia berpendapat bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki oleh manusia mengenai segala tindakan adalah bahagia. Dan jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan mempergunakan akal sebaik-baiknya.[3]
f)    Stoics dan Epicurus
Keduanya berbeda pendapat dalam mengemukakan pendapatnya tentang kebaikan. Stoics berpendirian sebagaimana paham cynics. Sedangkan epicurus mendasarkan pemikirannya berdasarkan pemikiran pada paham cyrenics.
b.   Akhlak Bangsa Nasrani
Pada akhir abad ketiga masehi, tersiarlah agama nasrani di Eropa. Agama itu dapat mengubah pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran ahklak yang tersebut dalam taurat dan injil. Menurut agama ini bahwa tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial. Agama ini menyebutkan bahwa perbuatan yang baik adalah perbuatan yang disukai tuhan serta melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ajaran akhlak pada agama nasrani tampak bersifat Teo-Sentris dan memusat pada Tuhan.
Menurut agama Nasrani, bahwa pendorong berbuat kebaikan adalah cinta dan iman kepada Tuhan berdasarkan petunjuk kitab Taurat. Agama Nasrani juga menghendaki agar manusia bersuha bersungguh-sungguh mensucikan ruh yang terdapat pada dirinya dari perbuatan dosa, baik dalam bentuk pemikiran ataupun berbuatan. Akibat dari paham yang seperti itu, kebanyakan para pengikut agama ini suka menjauhi kemewahan dunia yang fana, beribadah, zuhud, dan hidup menyendiri di gereja.[4]
c.    Akhlak Bangsa Romawi
Pada abad pertengahan gereja memerangi filsafat Yunani dan Romawi, serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan oleh wahyu tentu benar, maka tidak ada artinya lagi untuk menyelidiki tentang kenyataan(hakikat) itu. Ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada masa abad pertengahan adalah ajaran akhlak yang dibangun dari peradapan antara ajaran Yunani dan Nasrani. Diantara mereka yang termasyhur adalah Abelard, Thomas Aquinas,. Sifat ajarannya adalah memadukan antara pemikiran filsafat Yunani dengan ajaran agamanya.
d.   Akhlak Bangsa Arab
Pada awalnya bangsa arab tidak memiliki ahli-ahli filsafat yang mengajak pada aliran tertentu. Saat itu bangsa Arab hanya memiliki ahli-ahli hikamah dan ahli syair yang mengandung nilai-nilai akhlak. Misalnya Luqman, Aktsan Shaifi, Zubair bin Abu Sulma, dan Hatim at-Thai. Setelah islam memancar, maka suasana bagaikan sinar matahari menghapus kegelapan malam. Bangsa Arab kemudian tampil maju menjadi bangsa yang unggul di segala bidang, berkat akhlakul karimah yang diajarkan Islam.
Setelah masuknya Islam akhlak itu mesti berdasarkan pada ajaran Alqur’an dan hadits. Mereka jarang menggunakan ilmu pengetahuan karena merasa telah puas mengambil akhlak dari agama. Oleh karena itu kebanyakan mereka menulis buku-buku tentang akhlak berdasarkan dasar agama saja.[5]
e.    Akhlak Agama Hindu
Akhlak agama Hindu berdasarkan pada kitab Weda (1500 SM), selain mengajarkan dasar-dasar ketuhanan juga mengajarkan prrinsip-prinsip akhlak Hindu yang wajib dipegang teguh oleh pengikut-pengikutnya. Adapun tanda-tanda yang dipandang baik dalam akhlak agama hindu adalaahKemerdekaan Kesehatan Kekayaan Kebahagiaan. Hal ini dapat dicapai jika seseorang patuh melaksanakan upacara kemerdekaan dengan baik dan sempurna. Alamat-alamat kejahatan seperti perhambaan, sakit, fakir, celaka. Keempat alamat kejahatan tersebut timbul akaibat tidak melaksanakan upacara agama dengan dengan hati penuh kesungguhan.
f.     Akhlak Agama Budha
Pengajaran Budha dikenal tokohnya dengan nama Buddha Gautama yang dilahirkan kurang lebih 25 abad yang lalu sehingga kini masih banyak pengikut-pengikutnya terutama di Tiongkok, Burma, Jepang, dan juga Indonesia. Pokok-pokok ajaran dalam pengajaran budha ada empat, yaitu:
1)   Sengsara, sakit sebagai keadaan lazim dalam alam ini.
2)   Kembali kedalam dunia disebabkan kotornya ruh dengan nafsu syahwatnya terdahulu.
3)   Untuk menyelamatkan diri dalam usaha pencapaian nirwana, maka hendakalah melepaskan diri dari segala pengaruh syahwat.
4)   Wajib menjauhkan segala rintangan yang menghalangi seseorang dalam melepaskan nafsu syahwatnya, yakni dengan menanamkan segala keinginan dan kesukaan.
Untuk mencapai cita-cita tersebut, di adakanlah satu pola aspek yang meliputi delapan perkara, yaitu:
a.    Melazimi kebaikan.
b.    Bersifat kasih sayang
c.    Suka menolong
d.   Mencintai orang lain.
e.    Memaafkan orang.
f.     Ringan tangan dalam kebaikan.
g.    Mencabut diri sendiri dari segala kepentingan yang penting-penting.
h.    Mogok dari hajat kalau perlu dikorbankan untuk menolong orang lain.
Budha Gautama berusaha mengembangkan ajaran tersebut. Dengan ketekunannya itu maka Budha Gautama berhasil mengembangkan ajaran-ajarannya dimana-mana.[6]
3.    Ilmu Akhlak dalam Ajaran Agama Islam
Akhlak dalam agama Islam berdasarkan alquran dan haits nabi. Sedangkan ilmu akhlak dalam islam yaitu suatu pengetahuan yang mempelajari tentang akhlak manusia yang berdasarkan pada Al Qur’an dan Hadits. Pada dasarnya agama islam mengajarkan mempercayai tuhan yang Esa, yang menguasai alam semesta dan hari pembalasan.
Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif,menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual. Islam mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu,bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, antifeodalistis, dan sikap-sikap positif  lainnya.
Akhlak dalam islam merupakan jalan hidup manusia yang sempurna dan menuntut  umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Dalam al quran Allah telah  berfirman dalam Shad (38) ayat 46 :
!$¯RÎ) Nßg»oYóÁn=÷zr& 7p|ÁÏ9$sƒ¿2 tò2ÏŒ Í#¤$!$# ÇÍÏÈ  
Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.”
Tujuan yang tertinggi dari segala tingkah laku manusia menurut islam adalah mendapatkan Ridho Allah swt. Ahli pemikir Islam giat menyuarakan akhlak islam[7], menerangkan sebagai berikut :
A.  Ahmad bin Muhammad bin Yakub (Ibnu Maskawih 170-241)
Dalam bukunya Tahdzibul Akhlak, menerangkan hal-hal yang ditonjolkan pada jiwa manusia mempunyai tiga tingkatan yaitu :
a.    Annafsul Bahimiyah (Nafsu kebinatangan), yang buruk.
b.    Annafsul Suburayah (nafsu binatang buas), yang sedang.
c.    Annafsul Nathiqah (jiwa yang cerdas), yang baik menurut anggapannya.
B.  Ikhwanusshafa (922-1012 M)
Ikhwanusshafa adalah sekelompok ahli pikir yang terdiri dari Abu Sulaiman bin Mur’syir Al-Busti Al-Muaddasi, Abul Hasan Ali bin Harun Az-Zanjabi, Abu Ahmad Al-Miharajjani, Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah. Adapun pokok-pokok pikiran mereka tentang akhlak adalah sebagai berikut :
a.    Syariat Islam yang suci.
b.    Sikap zuhud an kerohanian.
c.    Perbuatan yang muncul dari renungan akal dan pikiran.
d.   Perasaan cinta terutama pada Allah.
e.    Rendah hati.
C.  Imam Al-Ghazali (1058-1111 M)
Dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, mengngkapkan pendangan akhlak sebagai berikut :
a.    Akhlak berarti bentuk jiwa dan sifat-sifat yang buruk kepada sifat-sifat yang baik.
b.    Akhlak baik akan menguatkan berfikir, kekuatan hawa nafsu dan kekuatan amarah.
c.    Akhlak adalah kebiasaaan jiiwa yang menumbuhkan perbuatan spontan dan tingkah laku manusia.
d.   Tingkah laku seseorang adalah lukisan hatinya.
e.    Kepribadian manusia sebenarnya cenderung pada kebajikan dibanding kejahatan.
f.     Jika itu dapat dilatih, dikuasai, diubah kepada akhlak yang terpuuji.
D.  Ibnu Bayan (880-975 M)
Pandangan akhlak menurutnya adalah sebagai berikut :
a.    Faktor kerohanian yang menggerakan manusia melakukan perbuatan baik.
b.    Sebagian akhlak manusia ada yang sama dengan hewan. Manusia yang tidak mengindahkan sifat kesempurnaan (akalnya) berarti hanya mencukupkan dirinya pada sifat-sifat hewani saja dan keutamaannya menjadi hilang.
4.    Periode Ilmu Akhlak Era Modern
Ilmu akhlak dari zaman ke zaman ialah ilmu akhlak yang mempelajari akhlak berdasarkan waktu ke waktu yaitu mulai dari zaman Nabi Adam hingga abad modern ini. Tiap-tiap zaman akhlaknya selalu berubah-ubah sesuai dengan keadaan sebagai berikut:
1.    Pemerintahannya.
2.    Agama dan keyakinannya.
3.    Ilmunya.
4.    Kebudayaannya.
5.    Tempatnya (negaranya).
6.    Tempat tinggalnya.
7.    Harta bendanya.
8.    Keluarganya.
9.    Kedudukannya.
10.     Keberaniannya.
Pengaruh-pengaruh tersebut terus berkembang sampai akhir zaman (kiamat).
Pada abad pertengahan ke-15 mulailah ahli-ahli ilmu pengetahuan menghidupkan filsafat yunani kuno di seluruh Eropa. Akhlak dari zaman jahiliyah hingga sekarang  ternyata masih ada contohnya yaitu orang-orang yang masih mempercayai tentang ramalan, perdukunan dan taklid (ikut-ikutan tanpa tahu dasar). Dari zaman ke zaman akhlak manusia ada yang semakin bagus namun ada juga yang akhlaknya bertambah buruk. Semuanya disebabkan karena keadaan yang dialaminya.
Di zaman yang semakin  canggih seperti ini justru akhlak manusia semakin menurun. Banyak sekali alat-alat canggih untuk berbuat kebaikan namun tidak kalah juga alat-alat yang digunakan untuk berbuat kejahatan. Kenyataannya , akhlak –akhlak yang dimilik orang-orang saat ini banyak akhlak buruknya. Bukan hanya orang-orang nonmuslim tetapi justru kaum muslimin itu sendiri yang banyak memiliki akhlak demikian, mereka buta dengan harta kekayaan, sehingga berani melakukan apa saja untuk mendapatkannya walaupun dengan cara yang tidak halal. Mereka hanya memikirkan kebahagiaan didunia semata dan tidak memperhatikan kebahagian di akhirat.[8]

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Yatimi. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Alqur’an. Jakarta;  Amzah.
Ahmad, Amin. 1975. Etika Ilmu Akhlak. Jakarta: Bulan Bintang.
Ardani, Moh. 2005. Akhlak Tasawuf, (Nilai-Nilai Akhlak/Budipekerti dalam Ibadah dan Tasawuf). Jakarta : Karya Mulia.
Yakub, Hamzah. 1988. Etika Islam Pembinaan Akhlakul Karimah (suatu pengantar). Bandung: Dipenegoro.






[1] Yatimi Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Alqura’an, (Jakarta; Amzah, 2007), hlm 236
[2] Ahmad Amin, Etika Ilmu Akhlak, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm 154
[3] Moh Ardani, Akhlak Tasawuf (Nilai-Nilai Akhlak/Budipekerti dalam Ibadat dan Tasawuf), (Jakarta: Karya Mulia, 2005), hlm 34-35
[4] Ahmad Amin, Ilmu Akhlak. (Jakarta: Bulan Bintang, 1975). Hlm 141
[5] Hamzah Yakub, Etika Islam Pembinaan Akhlakul Karimah (suatu pengantar), (Bandung: Dipenegoro, 1988), hlm 41
[6] Yatimi Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Alqura’an, (Jakarta; Amzah, 2007), hlm 242
[7] Yatimi Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Alqura’an, (Jakarta; Amzah, 2007), hlm 246
[8] M.Yatimi Abdullah, Studi akhlak dalam perspektif Al-qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007) hlm 245-255

Tidak ada komentar :