Sejarah Ilmu Akhlak
Akhlak sudah ada sejak zaman nabi Adam as.sejak manusia lahir sudah
mempunyai akhlak, namun tidak terlalu kelihatan, akhlak mulai terlihat bila
manusia sudah melakukan sesuatu. Ilmu akhlak adalah ilmu pengetahuan yang
menjelaskan arti baik buruk, apa yang seharusnya dilakukan, tentang tujuan yang
ingin dicapai di jalan- jalan yang harus ditempuh guna mencapai kebahagiaan
hidup.
Kedudukan Akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang
penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya
suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik,
maka sejahteralah lahir dan batinnya, apabila akhlaknya rusak maka rusaklah
lahir dan batinnya.
Akhlak merupakan komponen penting dalam hidup, sehingga merupakan
bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Akhlak merupakan
pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. sebab manusia tanpa akhlak,
kehilangan derajatnya sebagai manusia yang merupakan hamba Allah paling mulia.
Namun permaslannya, sejak kapan muncul pembicaraan tentang akhlak?
Bagaimana perkembangannya sampai masa modern ini? Dalam makalah ini akan
mengulas tentang sejarah perkembangan ilmu akhlak.berikut adalaah
pembahsannya;
1.
Pengertian
Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak
Sejarah adalah
peristiwa yang benar- benar terjadi pada masa lampau. Perkembangan yaitu
pertumbuhan sepanjang waktu. Ilmu adalah pengetahuan mengenai suatu bidang yang
disusun secara sistematis. Sedangkan akhlak yaitu budi pekerti, tingkah laku.
Sejarah pertumbuhan
akhlak yaitu suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau
tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke
zaman.
Sejarah ilmu
akhlak adalah sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk antara
terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin
sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang. Sejarah ilmu akhlak adalah sejarah yang
menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan
manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan
pekerjaan mereka dari masa ke masa.[1]
2.
Ilmu
Akhlak di Luar Islam
Ilmu akhlak
diluar islam adalah pengetahuan-pengetahuan tentang akhlak yang tidak
didasarkan pada Al Quran dan Al Hadist. Ada beberapa akhlak diluar islam yaitu:
a.
Akhlak Bangsa Yunani
Pertumbuhan dan
perkembangan ilmu akhlak pada bangsa yunani terjadi setelah munculnya apa yang
disebut shopisticians yaitu orang-orang yang bijaksana (500-450 M).
Sedangkan sebelum itu dikalangan bangsa yunani tidak dijumpai pembicaraan
mengenai akhlak, sebab pada saat itu perhatian mereka tercurah pada
penyelidikannya mengenai alam.
Dasar yang
digunakan para pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak ialah pemikiran
filsafat tentang manusia atau pemikiran tentang manusia. Ilmu akhlak yang
mereka bangun lebih bersifat filosofis. Pikiran dan pendapat para ilmuan
berbeda- beda, namun tujuan mereka adalah satu yaitu menyiapkan angkatan muda
yunani agar menjadi nasionalis yang baik lagi merdeka dan mengetahui kewajiban
mereka terhadap tanah airnya. Pandangan dari kewajiban-kewajiban ini
menimbulkan pandangan mengenai pokok-pokok akhlak, dan diikuti oleh
kecaman-kecaman mengenai sebagian adat lama dan pelajaran-pelajaran yang
dilakukan oleh orang-orang dahulu
Adapun
tokoh-tokoh filsuf yunani yang tercatat sebagai pelopor pertama kali pemikiran
di buidang akhlak yaitu:
a)
Socrates
(469-399 S.M)
Socarates dipandang sebagai perintis
ilmu akhlak, karena ialah yang pertama kali yang bersungguh-sungguh membentuk
pola hubungan antar manusia dengan dasar ilmu pengetahuan.
Socrates menyelidiki kejadian alam
dan benda-benda langit karena menurutnya kurang beguna. Ia menyelidiki
perbuatan yang mengenai kehidupan. dia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk hubungan
itu, tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan kepada ilmu pengetahuan.[2]
b)
Cynics
(444-370 S.M)
Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu
bersih dari segala keburuhan dan sebaik-baik manusia adalah orang yang
berperanagai ketuhanan.
c)
Cyrenics
Golongan ini dibangun oleh
Aristippus. Mereka berpendapat bahwa mencari kelezatan dan menjauhi kepedihan
merupakan satu-satunya tujuan hidup yang benar serta perbuatan yang utama
adalah perbuatan yang tingkat dan kadar kelezatannya lebih besar dari pada
kepedihannya.
d)
Plato
(427-347 S.M)
Pandangannya sisalam akhlak
berdasarkan “teori contoh”. Jelasnya dia berpendapat bahwa dibelakang alam
lahir ini tedapat alam lain yaitu alam rohani. Dia juga berpendapat bahwa di
dalam di dalam jiwa adda kekuatan bermacam-macam dan keutamaan itu timbul dari
perimbangan kekuatan itu, dan tunduknya kepada hukum akal. Menurutnya
pokok-pokok keutamaan itu ada empat, yakni:
· Hikmah kebijaksanaan,
· Keberanian,
· Keperwiraan,
· Keadilan.
e)
Aristoteles
(394-322 SM)
Dia berpendapat
bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki oleh manusia mengenai segala tindakan
adalah bahagia. Dan jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan
mempergunakan akal sebaik-baiknya.[3]
f)
Stoics
dan Epicurus
Keduanya
berbeda pendapat dalam mengemukakan pendapatnya tentang kebaikan. Stoics
berpendirian sebagaimana paham cynics. Sedangkan epicurus mendasarkan
pemikirannya berdasarkan pemikiran pada paham cyrenics.
b.
Akhlak Bangsa Nasrani
Pada akhir abad
ketiga masehi, tersiarlah agama nasrani di Eropa. Agama itu dapat mengubah pemikiran
manusia dan membawa pokok-pokok ajaran ahklak yang tersebut dalam taurat dan
injil. Menurut agama ini bahwa tuhanlah yang menentukan dan membentuk
patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan
sosial. Agama ini menyebutkan bahwa perbuatan yang baik adalah perbuatan yang
disukai tuhan serta melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ajaran akhlak pada
agama nasrani tampak bersifat Teo-Sentris dan memusat pada Tuhan.
Menurut agama
Nasrani, bahwa pendorong berbuat kebaikan adalah cinta dan iman kepada Tuhan
berdasarkan petunjuk kitab Taurat. Agama Nasrani juga menghendaki agar manusia
bersuha bersungguh-sungguh mensucikan ruh yang terdapat pada dirinya dari
perbuatan dosa, baik dalam bentuk pemikiran ataupun berbuatan. Akibat dari
paham yang seperti itu, kebanyakan para pengikut agama ini suka menjauhi
kemewahan dunia yang fana, beribadah, zuhud, dan hidup menyendiri di gereja.[4]
c.
Akhlak Bangsa Romawi
Pada abad
pertengahan gereja memerangi filsafat Yunani dan Romawi, serta menentang
penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan
“hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan oleh wahyu tentu
benar, maka tidak ada artinya lagi untuk menyelidiki tentang kenyataan(hakikat)
itu. Ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada masa abad pertengahan adalah ajaran
akhlak yang dibangun dari peradapan antara ajaran Yunani dan Nasrani. Diantara
mereka yang termasyhur adalah Abelard, Thomas Aquinas,. Sifat ajarannya adalah
memadukan antara pemikiran filsafat Yunani dengan ajaran agamanya.
d.
Akhlak Bangsa Arab
Pada awalnya
bangsa arab tidak memiliki ahli-ahli filsafat yang mengajak pada aliran
tertentu. Saat itu bangsa Arab hanya memiliki ahli-ahli hikamah dan ahli syair yang
mengandung nilai-nilai akhlak. Misalnya Luqman, Aktsan Shaifi, Zubair bin Abu
Sulma, dan Hatim at-Thai. Setelah islam memancar, maka suasana bagaikan sinar
matahari menghapus kegelapan malam. Bangsa Arab kemudian tampil maju menjadi
bangsa yang unggul di segala bidang, berkat akhlakul karimah yang diajarkan
Islam.
Setelah
masuknya Islam akhlak itu mesti berdasarkan pada ajaran Alqur’an dan hadits.
Mereka jarang menggunakan ilmu pengetahuan karena merasa telah puas mengambil
akhlak dari agama. Oleh karena itu kebanyakan mereka menulis buku-buku tentang
akhlak berdasarkan dasar agama saja.[5]
e.
Akhlak Agama Hindu
Akhlak agama
Hindu berdasarkan pada kitab Weda (1500 SM), selain mengajarkan dasar-dasar
ketuhanan juga mengajarkan prrinsip-prinsip akhlak Hindu yang wajib dipegang
teguh oleh pengikut-pengikutnya. Adapun tanda-tanda yang dipandang baik dalam
akhlak agama hindu adalaahKemerdekaan Kesehatan Kekayaan Kebahagiaan. Hal ini
dapat dicapai jika seseorang patuh melaksanakan upacara kemerdekaan dengan baik
dan sempurna. Alamat-alamat kejahatan seperti perhambaan, sakit, fakir, celaka.
Keempat alamat kejahatan tersebut timbul akaibat tidak melaksanakan upacara
agama dengan dengan hati penuh kesungguhan.
f.
Akhlak Agama Budha
Pengajaran
Budha dikenal tokohnya dengan nama Buddha Gautama yang dilahirkan kurang lebih
25 abad yang lalu sehingga kini masih banyak pengikut-pengikutnya terutama di
Tiongkok, Burma, Jepang, dan juga Indonesia. Pokok-pokok ajaran dalam
pengajaran budha ada empat, yaitu:
1)
Sengsara,
sakit sebagai keadaan lazim dalam alam ini.
2)
Kembali
kedalam dunia disebabkan kotornya ruh dengan nafsu syahwatnya terdahulu.
3)
Untuk
menyelamatkan diri dalam usaha pencapaian nirwana, maka hendakalah melepaskan
diri dari segala pengaruh syahwat.
4)
Wajib
menjauhkan segala rintangan yang menghalangi seseorang dalam melepaskan nafsu
syahwatnya, yakni dengan menanamkan segala keinginan dan kesukaan.
Untuk
mencapai cita-cita tersebut, di adakanlah satu pola aspek yang meliputi delapan
perkara, yaitu:
a.
Melazimi
kebaikan.
b.
Bersifat
kasih sayang
c.
Suka
menolong
d.
Mencintai
orang lain.
e.
Memaafkan
orang.
f.
Ringan
tangan dalam kebaikan.
g.
Mencabut
diri sendiri dari segala kepentingan yang penting-penting.
h.
Mogok
dari hajat kalau perlu dikorbankan untuk menolong orang lain.
Budha Gautama
berusaha mengembangkan ajaran tersebut. Dengan ketekunannya itu maka Budha
Gautama berhasil mengembangkan ajaran-ajarannya dimana-mana.[6]
3.
Ilmu
Akhlak dalam Ajaran Agama Islam
Akhlak dalam agama Islam berdasarkan alquran dan haits nabi.
Sedangkan ilmu akhlak dalam islam yaitu suatu pengetahuan yang mempelajari
tentang akhlak manusia yang berdasarkan pada Al Qur’an dan Hadits. Pada
dasarnya agama islam mengajarkan mempercayai tuhan yang Esa, yang menguasai
alam semesta dan hari pembalasan.
Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif,menghargai
akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap
seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual. Islam mengembangkan
kepedulian sosial, menghargai waktu,bersikap terbuka, demokratis, berorientasi
pada kualitas, egaliter, kemitraan, antifeodalistis, dan sikap-sikap
positif lainnya.
Akhlak dalam islam merupakan jalan hidup manusia yang sempurna dan
menuntut umat kepada kebahagiaan dan
kesejahteraan. Dalam al quran Allah telah
berfirman dalam Shad (38) ayat 46 :
!$¯RÎ) Nßg»oYóÁn=÷zr& 7p|ÁÏ9$s¿2 tò2Ï Í#¤$!$# ÇÍÏÈ
“Sesungguhnya Kami telah
mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi
yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.”
Tujuan yang tertinggi
dari segala tingkah laku manusia menurut islam adalah mendapatkan Ridho Allah
swt. Ahli pemikir Islam giat menyuarakan akhlak islam[7], menerangkan sebagai berikut :
A. Ahmad bin Muhammad bin Yakub (Ibnu Maskawih 170-241)
Dalam bukunya Tahdzibul
Akhlak, menerangkan hal-hal yang ditonjolkan pada jiwa manusia mempunyai
tiga tingkatan yaitu :
a.
Annafsul
Bahimiyah (Nafsu kebinatangan), yang buruk.
b.
Annafsul
Suburayah (nafsu binatang buas), yang sedang.
c.
Annafsul
Nathiqah (jiwa yang cerdas), yang baik menurut anggapannya.
B. Ikhwanusshafa (922-1012 M)
Ikhwanusshafa adalah sekelompok ahli pikir yang terdiri dari Abu
Sulaiman bin Mur’syir Al-Busti Al-Muaddasi, Abul Hasan Ali bin Harun
Az-Zanjabi, Abu Ahmad Al-Miharajjani, Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah. Adapun
pokok-pokok pikiran mereka tentang akhlak adalah sebagai berikut :
a.
Syariat
Islam yang suci.
b.
Sikap
zuhud an kerohanian.
c.
Perbuatan
yang muncul dari renungan akal dan pikiran.
d.
Perasaan
cinta terutama pada Allah.
e.
Rendah
hati.
C. Imam Al-Ghazali (1058-1111 M)
Dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, mengngkapkan pendangan akhlak
sebagai berikut :
a.
Akhlak
berarti bentuk jiwa dan sifat-sifat yang buruk kepada sifat-sifat yang baik.
b.
Akhlak
baik akan menguatkan berfikir, kekuatan hawa nafsu dan kekuatan amarah.
c.
Akhlak
adalah kebiasaaan jiiwa yang menumbuhkan perbuatan spontan dan tingkah laku
manusia.
d.
Tingkah
laku seseorang adalah lukisan hatinya.
e.
Kepribadian
manusia sebenarnya cenderung pada kebajikan dibanding kejahatan.
f.
Jika
itu dapat dilatih, dikuasai, diubah kepada akhlak yang terpuuji.
D. Ibnu Bayan (880-975 M)
Pandangan
akhlak menurutnya adalah sebagai berikut :
a.
Faktor
kerohanian yang menggerakan manusia melakukan perbuatan baik.
b.
Sebagian
akhlak manusia ada yang sama dengan hewan. Manusia yang tidak mengindahkan
sifat kesempurnaan (akalnya) berarti hanya mencukupkan dirinya pada sifat-sifat
hewani saja dan keutamaannya menjadi hilang.
4.
Periode
Ilmu Akhlak Era Modern
Ilmu akhlak
dari zaman ke zaman ialah ilmu akhlak yang mempelajari akhlak berdasarkan waktu
ke waktu yaitu mulai dari zaman Nabi Adam hingga abad modern ini. Tiap-tiap
zaman akhlaknya selalu berubah-ubah sesuai dengan keadaan sebagai berikut:
1.
Pemerintahannya.
2.
Agama
dan keyakinannya.
3.
Ilmunya.
4.
Kebudayaannya.
5.
Tempatnya
(negaranya).
6.
Tempat
tinggalnya.
7.
Harta
bendanya.
8.
Keluarganya.
9.
Kedudukannya.
10.
Keberaniannya.
Pengaruh-pengaruh tersebut terus berkembang sampai akhir zaman (kiamat).
Pada abad
pertengahan ke-15 mulailah ahli-ahli ilmu pengetahuan menghidupkan filsafat
yunani kuno di seluruh Eropa. Akhlak dari zaman jahiliyah hingga sekarang ternyata masih ada contohnya yaitu
orang-orang yang masih mempercayai tentang ramalan, perdukunan dan taklid
(ikut-ikutan tanpa tahu dasar). Dari zaman ke zaman akhlak manusia ada yang
semakin bagus namun ada juga yang akhlaknya bertambah buruk. Semuanya
disebabkan karena keadaan yang dialaminya.
Di zaman yang
semakin canggih seperti ini justru
akhlak manusia semakin menurun. Banyak sekali alat-alat canggih untuk berbuat
kebaikan namun tidak kalah juga alat-alat yang digunakan untuk berbuat
kejahatan. Kenyataannya , akhlak –akhlak yang dimilik orang-orang saat ini
banyak akhlak buruknya. Bukan hanya orang-orang nonmuslim tetapi justru kaum
muslimin itu sendiri yang banyak memiliki akhlak demikian, mereka buta dengan
harta kekayaan, sehingga berani melakukan apa saja untuk mendapatkannya
walaupun dengan cara yang tidak halal. Mereka hanya memikirkan kebahagiaan
didunia semata dan tidak memperhatikan kebahagian di akhirat.[8]
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
Yatimi. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Alqur’an. Jakarta; Amzah.
Ahmad, Amin.
1975. Etika Ilmu Akhlak. Jakarta: Bulan Bintang.
Ardani, Moh.
2005. Akhlak Tasawuf, (Nilai-Nilai Akhlak/Budipekerti dalam Ibadah dan
Tasawuf). Jakarta : Karya Mulia.
Yakub, Hamzah. 1988. Etika Islam Pembinaan Akhlakul Karimah
(suatu pengantar). Bandung: Dipenegoro.
[2] Ahmad Amin, Etika
Ilmu Akhlak, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm 154
[3] Moh Ardani, Akhlak
Tasawuf (Nilai-Nilai Akhlak/Budipekerti dalam Ibadat dan Tasawuf),
(Jakarta: Karya Mulia, 2005), hlm 34-35
[4] Ahmad Amin, Ilmu
Akhlak. (Jakarta: Bulan Bintang, 1975). Hlm 141
[5] Hamzah Yakub, Etika
Islam Pembinaan Akhlakul Karimah (suatu pengantar), (Bandung: Dipenegoro,
1988), hlm 41
[6] Yatimi
Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Alqura’an, (Jakarta; Amzah,
2007), hlm 242
[7] Yatimi
Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Alqura’an, (Jakarta; Amzah,
2007), hlm 246
[8] M.Yatimi
Abdullah, Studi akhlak dalam perspektif Al-qur’an, (Jakarta: Amzah,
2007) hlm 245-255
Tidak ada komentar :
Posting Komentar