Mahabah dalam Tasawuf
A. Pengertian Mahabbah
Mahabbah
artinya cinta. Hal ini mengandung makna cinta kepada Tuhan. Lebih luas lagi
bahwa “Mahabbah” memuat pengertian yaitu:
a.
Memeluk
dan mematuhi perintah Tuhan dan membenci sikap yang melawan pada Tuhan.
b.
Berserah
diri kepada Tuhan
c.
Mengosongkan
perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari Zat yang dikasihi
Adapun
pengertiaan Mahabbah menurut para ahli tasawuf yaitu:
a.
Al Junaidi Al Baghdadi menyebutkan, mahabbah itu
sebagai suatu kecenderungan hati, artinya, hati seseorang cenderung kepada
Allah SWT dan kepada segala sesuatu yang datang daripada- Nya tanpa usaha.
b.
Abu Yazid Bisthami mengatakan: "Cinta itu adalah
menganggap milikmu yang banyak sebagai sedikit, dan yang sedikit dari yang kau
cintai sebagai yang banyak."
c.
Sahl bin 'Abdallah Al-Tustari mengatakan: "Cinta
itu adalah melakukan tindak-tindak ketaatan (mu'anaqat al-tha'at) dan
menghindari tindak-tindak kedurhakaan," karena seseorang melaksanakan
perintah dari yang dicintainya lebih mudah karena kekuatan cinta di dalam
hatinya.
Tentang
Mahabbah dapat dijumpai di dalam Al Quran antara lain:
a.
Surat
Ali Imran ayat 31 yang artinya: “ Katakanlah: “Jika kamu benar-benar
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.
b.
Surat
Al maidah ayat 54 yang artinya: “ Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”
c.
Hadist
Nabi yang artinya: “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan
hingga Aku cinta padanya. Orang yang aku cintai menjadi telinga, mata dan
tanganku”
Dalam ajaran
tasawuf Mahabbah dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan oleh seorang sufi
wanita bernama Rabi’ah Al Adawiyyah. Mahabbah adalah paham tasawuf yang
menekankan perasaan cinta kepada Tuhan.
Tuhan bukanlah suatu zat yang harus
ditakuti, tapi sebaliknya sebagai zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk
dapat mencintai dan dekat dengan Tuhan maka harus benyak melakukan perbadatan
dan meninggalkan kesenangan duniawi.
Ketahuilah bahwa manusia yang paling
beruntung keadannya di Akhirat adalah manusia yang paling kuat rasa cintanya
terhadap Allah. Karena arti dari akhirat yang sesungguhnya adalah menghadap
kepada Allah dan menemukan kebahagiaan menemuinya. Semestinya seseorang hamba
mengusahakan rasa cinta terhadap Allah di dunia. Sumber rasa cinta tidak akan
tercabut dari seseorang yang beriman, karena sesungguhnya dia tidak akan
tercabut dari sumber ma’rifat. Adapun kekuatan dan penguasaan rasa cinta sampai
dia mencapai apa yang disebut diperoleh dengan dua sebab:
a.
Memutuskan
interaksi duniawi dan mengeluarkan rasa cinta kepada Allah dari hati. Karena
hati dapat diibaratkan seperti sebuah bejana yang tidak akan muat untuk
menampung sebuah cuka, umpamanya, jika tidak dikeluarkan semua air darinya. Allah
SWT. Berfirman yang artinya: “ Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi
seseorang dua hati dalam rongganya”
Kesempurnaan rasa cinta hanya akan muncul jika anda mencintai
dengan sepenuh hati. Dan selama dia berpaling kepada selain Allah maka akan
berkuranglah rasa cinta kita terhadap Allah SWT.
Arti ikhlas adalah jika dia memurnikan hatinya terhadap Allah SWT.
Akan ada sebagai kekasih hatinya, sesembahan hatinya dan tujuan hatinya. Sebab
yang paling penting dalam melemahkan rasa cinta terhadap Allah di dalam hati
adalah kuatnya rasa cinta terhadap harta dunia.
b.
Kuatnya
pengenalan Allah SWT. Keluasannya dan dominasinya terhadap hati. Hal itu dapat
terjadi setelah mensucikan hati dari segala kesibukan duniawi dan sebagai
interaksinya, berjalan seperti peletakan sebuah benih di bumi setelah
membersihkannya dari rerumputan. Dimana dia merupakan bagian kedua. Kemudian
dari benih itu tumbuhlah sebuah pohon cinta dan ma’rifat.
Maka amal shaleh laksana seekor unta dan pelayan bagi ma’rifah.
Semestinya semua amal shaleh uterdapat dalam pensucian hati secara prinsipil
dari dunia. Senantiasa dalam kesuciannya. Sehingga tidak dikembalikan sebuah
amalpun kecuali terhadap kema’rifatan ini. Sedang ilmu pengetahuan tantang cara
beramal, dia akan kembali kepada amal perbuatan. Ilmu adalah amal perbuatan dan
akhirnya. Yang pertama adalah ilmu sosial, dimana tujuannya adalah amal
perbuatan. Sementara tujuan hubungan sosial adalah kebersihan dan kesucian
hati, agar di dalamnya tampak keagungan sang kebenaran dan dia akan
menghiasinya dengan ilmu ma’rifat yaitu pengetahuan terbukanya segala rahasia.
Dan tidak akan mencapai tingkatan ma’rifat ini setelah melepaskan semua
kesibukan duniawi dari hati kecuali dengan pemikiran yang bersih, zkir
langgeng, dan sangat tekun dalam mencari dan memandang secara kontinues di
dalam Allah SWT., dan sifatNya, kerajaan langit dan segala ciptaanNYa.
B. Tokoh Sufi Mahabah dan Ajarannya
Aliran sufi Mahabbah dipelopori dan dikembangkan oleh seorang sufi
wanita bernama Rabi’ah Al-adawiyyah. Ia lahir di Bashrah pada tahun 714 M.
Kelahirannya diliputi bermacam cerita aneh- aneh. Pada malam ketika lahir,
dirumahnya tidak ada apa-apa, bahkan minyak untuk menyalakan lampupun tidak
ada, juga tidak ditemui sepotong gombalpun untuk membungkus bayi yang baru
dilahirkan itu. Ibunya meminta ayah Rabiah supaya pinjam minyak dari tetangga.
Ini merupakan suatu cobaan bagi ayah Rabiah. Ayah ini telah berjanji kepada
Allah untuk tidak mengulurkan tangannya meminta tolong kepada sesamanya. Namun
ketika juga pergi kerumah tetangga kemudian mengetuk pintu, ternyata tidak ada
jawaban. Ia merasa lega dan mengucap syukur kepada Tuhan, karena tidak perlu
ingkar janji. Ia pulang dan tidur. Malam itu ia bermimpi, Nabi Muhammad memberikan
tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang baru lahir itu telah
ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi.
Rabiah kehilangan kedua orangtuanya ketika masih kecil. Ketiga
orang kakaknya perempuan juga mati ketika wabah kelaparan melanda Basra. Ia
sendiri jatuh ketangan orang yang kejam, dan orang ini menjualnya sebagai budak
belian dengan harga yang tidak seberapa.Majikan yang baru juga tidak kalah
bengisnya. Si kecil Rabiah menghabiskan waktunya dengan melaksanakan segala
perintah majikannya. Malam harinya dilalui dengan berdoa kepada Allah. Pada
suatu malam, majikannya melihat suatu tanda kebesaran rohani Rabiah. Melihat
hal tersebut majikannya sangat ketakutan. Akhirnya besoknya Rabiah dibebaskan
oleh majikannya.
Setelah bebas Rabiah pergi ke tempat – tempat yang sunyi untuk
menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia kesebuah gubuk
dekat Basra. Disini ia hidup seperti bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil
dar tanah, sebuah batu bata dari tanah dan semua itulah keseluruhan harta yang
ia punya.ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk berdoa an tidur sekejap saja
sebelum sebelum dinihari meskipun hal ini sangat ia sayangkan.
Pada suatu hari Subyan Suri, seorang yang saleh dan sangat
dihormati datang pada Rabiah, mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Tuhan
yang maha kuasa, saya memohon harta duniawi dari-Mu”. Mendengar doa itu Rabiah
menangis, lantas ia menjawab: “Harta yang sesungguhnya itu hanya akan didapat
setelah meninggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda
hanya mencarinya di duniawi ini saja. Ia memiliki banyak murid, dan rabiaah
melarang murid-muridnya menunjukkan perbuatan baik mereka kepada siapapun.
Mereka malahan diharuskan menutupi perbuatan baik itu, seperti menutupi
perbuatan jahat mereka.
Rabiah ialah seorang mistik yang terkemuka yang mengajarkan kasih
sayang terhadap tuhan tanpa pamrih. Konsepnya yang kemudia meluas: ‘’aku
mengabdi kepada Tuhan bukan untuk mendapatkan pahala apapun, jangan takut pada
neraka, jangan mendambakan surga, aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika
pengebdianku untuk mendapatkan keuntungan materi, aku berkewajiban mengabdi-Ny
hanya untuk kasih sayang-Nya saja. Rabiah adalah seorang mistikus yang sangat
tinggi drajatnya, dan tergolong kelompok sufi yang pertama. Rabiah meninggal
dunia di Basra pada tahun 801 M, dimakamkan di rumah dimana dia tinggal. Ketika
jenazahnya diusung ke pekuburan, orang-orang suci, para sufi, dan orang islam
yang saleh dalam jumlah yang luar biasa banyaknya datang ikut mengiringinya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar