Sabtu, 16 Juli 2016

Mahabah dalam Tasawuf

Mahabah dalam Tasawuf

A.  Pengertian Mahabbah
Mahabbah artinya cinta. Hal ini mengandung makna cinta kepada Tuhan. Lebih luas lagi bahwa “Mahabbah” memuat pengertian yaitu:
a.    Memeluk dan mematuhi perintah Tuhan dan membenci sikap yang melawan pada Tuhan.
b.    Berserah diri kepada Tuhan
c.    Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari Zat yang dikasihi
Adapun pengertiaan Mahabbah menurut para ahli tasawuf yaitu:
a.    Al Junaidi Al Baghdadi menyebutkan, mahabbah itu sebagai suatu kecenderungan hati, artinya, hati seseorang cenderung kepada Allah SWT dan kepada segala sesuatu yang datang daripada- Nya tanpa usaha.
b.    Abu Yazid Bisthami mengatakan: "Cinta itu adalah menganggap milikmu yang banyak sebagai sedikit, dan yang sedikit dari yang kau cintai sebagai yang banyak."
c.    Sahl bin 'Abdallah Al-Tustari mengatakan: "Cinta itu adalah melakukan tindak-tindak ketaatan (mu'anaqat al-tha'at) dan menghindari tindak-tindak kedurhakaan," karena seseorang melaksanakan perintah dari yang dicintainya lebih mudah karena kekuatan cinta di dalam hatinya.
Tentang Mahabbah dapat dijumpai di dalam Al Quran antara lain:
a.    Surat Ali Imran ayat 31 yang artinya: “ Katakanlah: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.
b.    Surat Al maidah ayat 54 yang artinya: “ Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”
c.    Hadist Nabi yang artinya: “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga Aku cinta padanya. Orang yang aku cintai menjadi telinga, mata dan tanganku”
Dalam ajaran tasawuf Mahabbah dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan oleh seorang sufi wanita bernama Rabi’ah Al Adawiyyah. Mahabbah adalah paham tasawuf yang menekankan perasaan cinta kepada Tuhan.
          Tuhan bukanlah suatu zat yang harus ditakuti, tapi sebaliknya sebagai zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk dapat mencintai dan dekat dengan Tuhan maka harus benyak melakukan perbadatan dan meninggalkan kesenangan duniawi.
          Ketahuilah bahwa manusia yang paling beruntung keadannya di Akhirat adalah manusia yang paling kuat rasa cintanya terhadap Allah. Karena arti dari akhirat yang sesungguhnya adalah menghadap kepada Allah dan menemukan kebahagiaan menemuinya. Semestinya seseorang hamba mengusahakan rasa cinta terhadap Allah di dunia. Sumber rasa cinta tidak akan tercabut dari seseorang yang beriman, karena sesungguhnya dia tidak akan tercabut dari sumber ma’rifat. Adapun kekuatan dan penguasaan rasa cinta sampai dia mencapai apa yang disebut diperoleh dengan dua sebab:
a.    Memutuskan interaksi duniawi dan mengeluarkan rasa cinta kepada Allah dari hati. Karena hati dapat diibaratkan seperti sebuah bejana yang tidak akan muat untuk menampung sebuah cuka, umpamanya, jika tidak dikeluarkan semua air darinya. Allah SWT. Berfirman yang artinya: “ Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya”
Kesempurnaan rasa cinta hanya akan muncul jika anda mencintai dengan sepenuh hati. Dan selama dia berpaling kepada selain Allah maka akan berkuranglah rasa cinta kita terhadap Allah SWT.
Arti ikhlas adalah jika dia memurnikan hatinya terhadap Allah SWT. Akan ada sebagai kekasih hatinya, sesembahan hatinya dan tujuan hatinya. Sebab yang paling penting dalam melemahkan rasa cinta terhadap Allah di dalam hati adalah kuatnya rasa cinta terhadap harta dunia.
b.    Kuatnya pengenalan Allah SWT. Keluasannya dan dominasinya terhadap hati. Hal itu dapat terjadi setelah mensucikan hati dari segala kesibukan duniawi dan sebagai interaksinya, berjalan seperti peletakan sebuah benih di bumi setelah membersihkannya dari rerumputan. Dimana dia merupakan bagian kedua. Kemudian dari benih itu tumbuhlah sebuah pohon cinta dan ma’rifat.
Maka amal shaleh laksana seekor unta dan pelayan bagi ma’rifah. Semestinya semua amal shaleh uterdapat dalam pensucian hati secara prinsipil dari dunia. Senantiasa dalam kesuciannya. Sehingga tidak dikembalikan sebuah amalpun kecuali terhadap kema’rifatan ini. Sedang ilmu pengetahuan tantang cara beramal, dia akan kembali kepada amal perbuatan. Ilmu adalah amal perbuatan dan akhirnya. Yang pertama adalah ilmu sosial, dimana tujuannya adalah amal perbuatan. Sementara tujuan hubungan sosial adalah kebersihan dan kesucian hati, agar di dalamnya tampak keagungan sang kebenaran dan dia akan menghiasinya dengan ilmu ma’rifat yaitu pengetahuan terbukanya segala rahasia. Dan tidak akan mencapai tingkatan ma’rifat ini setelah melepaskan semua kesibukan duniawi dari hati kecuali dengan pemikiran yang bersih, zkir langgeng, dan sangat tekun dalam mencari dan memandang secara kontinues di dalam Allah SWT., dan sifatNya, kerajaan langit dan segala ciptaanNYa.

B.  Tokoh Sufi Mahabah dan Ajarannya
Aliran sufi Mahabbah dipelopori dan dikembangkan oleh seorang sufi wanita bernama Rabi’ah Al-adawiyyah. Ia lahir di Bashrah pada tahun 714 M. Kelahirannya diliputi bermacam cerita aneh- aneh. Pada malam ketika lahir, dirumahnya tidak ada apa-apa, bahkan minyak untuk menyalakan lampupun tidak ada, juga tidak ditemui sepotong gombalpun untuk membungkus bayi yang baru dilahirkan itu. Ibunya meminta ayah Rabiah supaya pinjam minyak dari tetangga. Ini merupakan suatu cobaan bagi ayah Rabiah. Ayah ini telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengulurkan tangannya meminta tolong kepada sesamanya. Namun ketika juga pergi kerumah tetangga kemudian mengetuk pintu, ternyata tidak ada jawaban. Ia merasa lega dan mengucap syukur kepada Tuhan, karena tidak perlu ingkar janji. Ia pulang dan tidur. Malam itu ia bermimpi, Nabi Muhammad memberikan tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang baru lahir itu telah ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi.
Rabiah kehilangan kedua orangtuanya ketika masih kecil. Ketiga orang kakaknya perempuan juga mati ketika wabah kelaparan melanda Basra. Ia sendiri jatuh ketangan orang yang kejam, dan orang ini menjualnya sebagai budak belian dengan harga yang tidak seberapa.Majikan yang baru juga tidak kalah bengisnya. Si kecil Rabiah menghabiskan waktunya dengan melaksanakan segala perintah majikannya. Malam harinya dilalui dengan berdoa kepada Allah. Pada suatu malam, majikannya melihat suatu tanda kebesaran rohani Rabiah. Melihat hal tersebut majikannya sangat ketakutan. Akhirnya besoknya Rabiah dibebaskan oleh majikannya.
Setelah bebas Rabiah pergi ke tempat – tempat yang sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia kesebuah gubuk dekat Basra. Disini ia hidup seperti bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dar tanah, sebuah batu bata dari tanah dan semua itulah keseluruhan harta yang ia punya.ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk berdoa an tidur sekejap saja sebelum sebelum dinihari meskipun hal ini sangat ia sayangkan.
Pada suatu hari Subyan Suri, seorang yang saleh dan sangat dihormati datang pada Rabiah, mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Tuhan yang maha kuasa, saya memohon harta duniawi dari-Mu”. Mendengar doa itu Rabiah menangis, lantas ia menjawab: “Harta yang sesungguhnya itu hanya akan didapat setelah meninggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda hanya mencarinya di duniawi ini saja. Ia memiliki banyak murid, dan rabiaah melarang murid-muridnya menunjukkan perbuatan baik mereka kepada siapapun. Mereka malahan diharuskan menutupi perbuatan baik itu, seperti menutupi perbuatan jahat mereka.
Rabiah ialah seorang mistik yang terkemuka yang mengajarkan kasih sayang terhadap tuhan tanpa pamrih. Konsepnya yang kemudia meluas: ‘’aku mengabdi kepada Tuhan bukan untuk mendapatkan pahala apapun, jangan takut pada neraka, jangan mendambakan surga, aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengebdianku untuk mendapatkan keuntungan materi, aku berkewajiban mengabdi-Ny hanya untuk kasih sayang-Nya saja. Rabiah adalah seorang mistikus yang sangat tinggi drajatnya, dan tergolong kelompok sufi yang pertama. Rabiah meninggal dunia di Basra pada tahun 801 M, dimakamkan di rumah dimana dia tinggal. Ketika jenazahnya diusung ke pekuburan, orang-orang suci, para sufi, dan orang islam yang saleh dalam jumlah yang luar biasa banyaknya datang ikut mengiringinya.


Tidak ada komentar :