Sabtu, 16 Juli 2016

Ma’rifat dalam Tasawuf

Ma’rifat dalam Tasawuf

Ma’rifat berasal dari kata ‘arafa, yu’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan, pengalaman, atau pengetahuan Ilah. Sedangkan secara bahasa ma’rifat berarti pengetahuan rahasia hakekat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu yang didapat oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifat dalam istilah tasawuf berarti pengetahuan yang sangat jelas dan pasti tentang tuhan yang diperoleh dari sanubari.
Dalam istilah sufi, ma’rifat daapat diartikan cahaya yang disorot pada hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Inilah pengetahuan hakiki yang datang melalui kasyf (menyingkap), musyahadah (penyaksian), dan dauq (cita rasa). Pengetahuan ini berasal dari Allah.
Al-Ghazali menerangkan, bahwa ma’rifat menurut pengrtian bahasa adalah ilmu pengetahuan yang tidak bercampur dengan keraguan.  Inti tasawuf Ghazali adalah jalan munuju Allah. Sarana ma’rifat seorang sufi adalah qalbu, bukan perasaan dan tidak pula akal budi. Konsepsi ini,qalbu bukan diartikan sebagai wujud yang sebenarnya akna tetapi qalbu adalah bagaikan cermin, sememtara ilmu adalah pantulan gambaran realitas yang termuat didalamnya.
Lebih terperinci, Al Ghazali mengemukakan pengertian lebih jelas,  yaitu Ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allah dan aturan-aturan-Nya yang melingkupan seluruh yang ada. Seorang yang telah sampai pada ma’rifat berada ekat dengan Allah, bahkan ia dapat memandang wajahnya. Ma’rifat datang sebelum mahabah.
Menurut Al-Ghazali, ma’rifat ada tiga tingkatan sesuai dengan dasar pengetahuan daan metode yang dipergunakan, yaitu sebgai berikut ;
a.    Ma’rifat orang awam, yakni pengetahuan yang diperoleh melalui jalan meniru atau taqlid.
b.    Pengetahuan mutakalimin, yaitu pengetahuan yang didapat melalui pembuktian rasional. Kaulitas peringatan pertama dan kedua ini hampir sama.
c.    Peringatan yang tertinggi kualitasnya, yaitu pengetahuan para sufi, pengetahuan yang diperoleh melalui metode penyaksian langsung dengan radar prendeteksi, yaitu kalbu yang bening.
Suatu kesempurnaan ma’rifat membutuhkan objek pengetahuan, menurut Ibnu Arabi ada tujuh bjek pengetahuan; yaitu mengetahui asma Illah, mengetahui tajjali illahi, mengetahui taklif tuhan terhadap hambanya, mengetahui kesempurnaan dan kekurangan wujud alam semesta, mengetahui diri sendiri, mengetahui alam  akhirat, dan mengetahui sebab dan obat penyakit batin.
Kemudian bentuk para sufi yang telah mencapai ma’rifat menurut Al-Jilli adalah yang pertama, Ilmu Al-yakin (pada tingkat ini sufi disinari oleh asma tuhan), kedua Ayn Al-yakin (pada tingkat ini sufi disinari olehsifat-sifat tuhan). Dan yang ketiga, Haqq Al-yaqin (pada tigkat ini sufi oleh at tuhan).
Adapun tahap-tahap ma’rifat menurut Al-Muhasibi dapat dijelaskan sebgai berikut;
a.    Taat, karena awal dari kecintaan keepada Allah adalah taat.
b.    Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat selanjutnya.
c.    Pada tahap ini Allah menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan kegaiban  kepad setiap orang yang telah menempuh kedu tahap diatas. Ia akan menyaksikan brbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.
d.   Apa yang dikatakan oleh sementara sufi dengan fana yang menyebabkan baqa. 


Tidak ada komentar :